Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Warga Binaan Lapas IIB Cilacap Ikuti Pelatihan Membuat Batik Ecoprint

WBP Lapas Cilacap Latihan EcoprintWBP Lapas Cilacap Latihan Ecoprint
LATIHAN : Para warga binaan tampak antusias mengikuti pelatihan membatik dengan system ecoprint

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cilacap, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tengah sibuk mengikuti pelatihan ecoprint.

Program ini merupakan salah satu inisiatif untuk mengembangkan kemandirian WBP melalui keterampilan yang ramah lingkungan.

Ecoprint, sebuah teknik kerajinan yang memanfaatkan bahan alami seperti daun, bunga, batang, dan akar untuk menciptakan motif indah pada kain tanpa menggunakan bahan kimia, telah menarik perhatian banyak pihak.

Nanda Hakiki, Kepala Subsie Kegiatan Kerja Lapas Cilacap, menjelaskan bahwa pelatihan ecoprint ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembinaan tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga lingkungan.

“Program Ecoprint ini memungkinkan kami mencetak karya seni dari bahan alam menjadi produk bernilai jual. Dengan pendekatan ‘Back to Nature’, kegiatan pembinaan ini lebih efektif baik dari segi biaya maupun hasil,” ungkapnya saat diwawancarai pada Sabtu (6/12).

Pelatihan tersebut dilaksanakan dengan bimbingan instruktur dari Athaya Clothing yang berpengalaman dalam bidang ecoprint.

Para peserta diajarkan mulai dari teknik dasar hingga proses akhir pembuatan produk.

“Selain memperkaya keterampilan mereka, kegiatan ini juga membantu para WBP menjadi lebih fokus dan sabar selama menjalani prosesnya,” tambah Nanda.

Produk-produk hasil ecoprint yang dihasilkan oleh para WBP ini diharapkan dapat dipasarkan secara lebih luas dengan dukungan berbagai pihak.

Lapas Cilacap bertekad agar karya ecoprint tersebut dapat menjadi bekal usaha bagi para warga binaan setelah mereka menyelesaikan masa hukuman dan kembali ke masyarakat.

“Tujuan pembinaan ini adalah agar mereka tidak hanya memiliki keterampilan tetapi juga siap berwirausaha ketika kembali ke masyarakat,” tutup Nanda dengan optimisme.

Dorongan untuk memperkenalkan dan memasarkan hasil karya ecoprint ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan penghasilan tambahan bagi para WBP, tetapi juga sebagai langkah awal dalam mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan di luar penjara dengan lebih percaya diri dan mandiri.

Produk-produk ecoprint yang unik dan ramah lingkungan ini memiliki potensi pasar yang besar mengingat tren konsumen saat ini yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

Pelatihan semacam ini menunjukkan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan bukan hanya tentang mengubah perilaku tetapi juga membekali individu dengan keterampilan praktis yang dapat diaplikasikan setelah mereka bebas.

Selain itu, program semacam ini mempromosikan penghargaan terhadap alam dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab, aspek penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

Keberhasilan program pelatihan ecoprint di Lapas Kelas IIB Cilacap dapat menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya di seluruh Indonesia untuk menerapkan program serupa, guna meningkatkan kemandirian ekonomi para warga binaan serta mendukung kelestarian lingkungan melalui praktik-praktik ramah lingkungan.

Dengan demikian, inisiatif seperti pelatihan ecoprint di Lapas Kelas IIB Cilacap merupakan langkah konkret dalam mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam sistem pembinaan narapidana di Indonesia. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Desa Giyanti Waspada Bencana Tanah Bergerak

Warga Desa Giyanti Kebumen Pasang Rambu Peringatan Dini Tanah Bergerak

Berita Selanjutnya
Septic Tank Individu Wajib Disedot

DPRD Purbalingga Sahkan Raperda Pengelolaan Air Limbah, Wajib Sedot Septic Tank Setiap 3 Tahun Sekali