Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

24 Sekolah dan Madrasah di Banyumas Terdampak Keracunan Massal Makanan Bergizi Gratis

24 sekolah dan madrasah terdampak24 sekolah dan madrasah terdampak
Total ada empat sekolah/madrasah yang terdampak dugaan keracunan di Desa Pangebatan

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kasus dugaan keracunan massal yang mencuat terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banyumas terus menjadi sorotan.

Berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE), ditemukan bahwa 24 sekolah dan madrasah terdampak di dua kecamatan yaitu Karanglewas dan Banyumas.

Ketua Tim Kerja Surveilans, Imunisasi, dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Dinas Kesehatan Banyumas, Achmad Chairul Hamdi, menjelaskan bahwa awalnya terdapat 350 siswa dari Karanglewas yang dilaporkan terdampak kepada Bupati dalam rapat koordinasi pada Senin, 29 September.

Para siswa ini berasal dari 20 institusi pendidikan mulai dari KB, TK, PAUD hingga SMK di Desa Pangebatan, Kediri, dan Karanglewas Kidul.

“Angka 408 siswa muncul setelah data yang 350 siswa kami laporkan. Data dinamis dan mudah-mudahan sudah tidak bertambah lagi,” ujar Hamdi, menambahkan betapa cepatnya perubahan data dalam situasi seperti ini.

Sementara itu, di Desa Sudagaran Kecamatan Banyumas, jumlah siswa terdampak berkembang menjadi 94 anak. Mereka berasal dari empat sekolah dasar yang terdiri dari tiga SD negeri dan satu SD swasta.

Tidak ada siswa madrasah yang terpengaruh di daerah ini. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banyumas, Sito Hatmoko, mengatakan bahwa sebagian besar anak yang mengalami gejala mual hingga pusing telah pulih.

“Dari 94 siswa yang terdampak, 71 anak sudah sembuh dan membaik. Sedangkan 23 anak lainnya masih berproses penyembuhan. Mudah-mudahan besok semua membaik,” ujarnya dengan optimisme mengenai pemulihan cepat para siswa tersebut.

Sito juga menyebutkan bahwa satu sekolah di Sudagaran mencatat jumlah terbanyak dengan 51 anak yang terdampak. Namun demikian seluruh penanganan medis dilakukan secara cepat oleh tenaga kesehatan setempat.

Hamdi menambahkan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara kejadian di Karanglewas dan Sudagaran yaitu keberadaan madrasah.

Di Karanglewas dari total 22 sekolah dan madrasah yang dilayani Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebagian madrasah ikut terdampak. Namun di Sudagaran hanya enam sekolah yang dilayani SPPG seluruhnya SD tanpa madrasah.

“Di Sudagaran SPPG melayani lebih sedikit sekolah karena jumlah tiga ribu penerima manfaat sebagian besar sudah terpenuhi oleh siswa dari dua SMK,” terangnya memberikan gambaran distribusi layanan gizi.

Meskipun ada keterkaitan dengan distribusi MBG baik Hamdi maupun Sito menegaskan penyebab pasti dari dugaan keracunan ini belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Seluruh hasil uji laboratorium dari Labkes Provinsi Jawa Tengah saat ini masih ditunggu untuk menentukan sumber masalah tersebut.

“Prinsipnya penanganan terhadap siswa yang sakit sudah cepat dilakukan,” pungkas Sito menegaskan komitmen dinas kesehatan dalam menangani situasi darurat ini.

Peristiwa ini telah memancing perhatian berbagai pihak terutama orang tua murid yang khawatir akan kesehatan anak-anak mereka.

Banyak yang berharap agar kasus ini segera menemui titik terang sehingga bisa memberikan rasa tenang bagi masyarakat.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan inisiatif pemerintah daerah untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah di wilayah tersebut.

Namun insiden ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat dalam proses distribusi makanan agar tidak terjadi kasus serupa di masa depan.

Ketidakpastian mengenai penyebab keracunan membuat masyarakat semakin waspada terhadap program-program serupa meskipun tujuannya sangat mulia yaitu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan generasi muda.

Sebagai langkah antisipatif Dinas Kesehatan Banyumas terus melakukan monitoring serta evaluasi terhadap program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Sosialisasi kepada pihak sekolah serta orang tua juga dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi seimbang bagi pertumbuhan anak-anak sekaligus mengedukasi tentang langkah-langkah pencegahan dalam menghadapi potensi keracunan makanan. (yda/dda)

Berita Sebelumnya
Pemerintah buka program magang nasional

Pemerintah Buka Program Magang Nasional 15 Oktober, Pendaftaran Via Siap Kerja

Berita Selanjutnya
Dprd fokus sosialisasi raperda dan bimtek di 2026

DPRD Purbalingga Siapkan 6 Bimtek dan Rencana Sosialisasi Raperda di Tahun 2026