BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Piala Dunia 2026 tinggal menyisakan laga-laga penentuan menuju partai final.
Namun, di balik persaingan memperebutkan trofi paling bergengsi di sepak bola dunia, terdapat tiga rekor negatif atau “kutukan” yang hingga kini belum juga berhasil dipatahkan.
Korban terbaru datang dari Ousmane Dembele. Penyerang Timnas Prancis itu gagal mengakhiri kutukan peraih Ballon d’Or setelah Les Bleus tersingkir di babak semifinal usai kalah 0-2 dari Spanyol di Stadion AT&T, Arlington, Texas, Rabu (15/7) dini hari WIB.
Dembele datang ke Piala Dunia 2026 dengan status sebagai peraih Ballon d’Or terbaru.
Banyak pihak berharap pemain berusia 29 tahun tersebut mampu mengakhiri rekor panjang yang selama puluhan tahun menghantui para pemilik penghargaan pemain terbaik dunia itu.
Namun harapan tersebut kembali pupus setelah Prancis gagal melaju ke final.
Sejak penghargaan Ballon d’Or menjadi tolok ukur pemain terbaik dunia, belum pernah ada pemain yang memenangkan Ballon d’Or lalu menutup tahun yang sama dengan gelar juara Piala Dunia.
Data sejarah menunjukkan sudah ada 17 edisi Piala Dunia yang diikuti pemain berstatus peraih Ballon d’Or aktif. Dari jumlah tersebut, hanya lima pemain yang berhasil membawa negaranya hingga partai final.
Sisanya harus menerima kenyataan gagal mengangkat trofi Piala Dunia.
Kegagalan Dembele membuat kutukan tersebut kembali bertahan dan menambah panjang daftar pemain bintang yang tidak mampu menyandingkan dua gelar paling prestisius tersebut dalam satu tahun.
Selain kutukan Ballon d’Or, masih ada rekor negatif lain yang belum pernah terpatahkan sepanjang sejarah Piala Dunia.
Menurut data pakar statistik sepak bola MisterChip, belum pernah ada negara yang berhasil menjadi juara Piala Dunia dengan pelatih berkewarganegaraan asing.
Kutukan ini kini mengancam Timnas Inggris yang masih berpeluang melangkah ke final.
The Three Lions saat ini ditangani pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel.
Jika Inggris berhasil menembus partai puncak dan akhirnya menjadi juara, maka mereka akan menciptakan sejarah baru sebagai negara pertama yang mematahkan kutukan pelatih asing di Piala Dunia.
Namun sejarah justru belum berpihak kepada Inggris.
Sebelumnya mereka juga gagal meraih gelar saat dilatih dua pelatih asing lainnya, yakni Fabio Capello dan Sven-Goran Eriksson.
Sebaliknya, Spanyol tidak menghadapi persoalan tersebut karena masih dipimpin pelatih lokal Luis de la Fuente, sehingga La Roja tidak dibayangi rekor negatif itu.
Sepanjang sejarah Piala Dunia, belum pernah ada negara yang datang ke turnamen dengan status sebagai tim peringkat pertama dunia lalu berhasil keluar sebagai juara.
Albiceleste memasuki Piala Dunia 2026 sebagai penghuni peringkat pertama Ranking FIFA dan masih memiliki peluang melangkah ke final apabila mampu melewati laga semifinal.
Apabila Argentina berhasil menjadi juara, mereka akan mengakhiri salah satu kutukan paling unik dalam sejarah turnamen tersebut.
Istilah kutukan memang sering dianggap sekadar mitos dalam dunia sepak bola. Namun fakta menunjukkan ketiga rekor tersebut mampu bertahan selama puluhan tahun meski telah berganti generasi pemain maupun pelatih.
Kini, menjelang final Piala Dunia 2026, perhatian tidak hanya tertuju pada perebutan trofi juara dunia, tetapi juga apakah salah satu kutukan tersebut akhirnya akan berakhir atau justru kembali bertahan.
Jika Inggris menjadi juara, kutukan pelatih asing akan berakhir. Jika Argentina mengangkat trofi, kutukan tim peringkat satu FIFA akan runtuh.
Namun kutukan Ballon d’Or sudah dipastikan tetap bertahan setelah langkah Ousmane Dembele bersama Prancis terhenti di babak semifinal.
Final Piala Dunia 2026 pun dipastikan bukan hanya menjadi panggung perebutan gelar juara dunia, tetapi juga kesempatan untuk menorehkan sejarah baru dalam perjalanan sepak bola internasional. (*/stch/dda)
















