Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Zinedine Zidane Jadi Pelatih Timnas Prancis, Bidik Juara Euro 2028 dan Piala Dunia 2030
AI Bakal Hapus 92 Juta Pekerjaan pada 2030, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan

AI Bakal Hapus 92 Juta Pekerjaan pada 2030, Ini Profesi yang Paling Dibutuhkan

92 Juta Pekerjaan Bakal Hilang karena AI92 Juta Pekerjaan Bakal Hilang karena AI
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperkirakan akan mengubah wajah dunia kerja secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengungkapkan bahwa transformasi teknologi tersebut tidak hanya menghilangkan jutaan jenis pekerjaan, tetapi juga membuka peluang profesi baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.

Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli saat menghadiri Pameran Job Fair AI Career Boost Today 2026 di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Mengacu pada Future of Jobs Report yang diterbitkan World Economic Forum (WEF), Yassierli menjelaskan bahwa sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan akan hilang pada tahun 2030 akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, transisi ekonomi hijau, serta perubahan demografi global.

Meski demikian, laporan yang sama juga memproyeksikan munculnya sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru, sehingga perubahan tersebut tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga peluang besar bagi tenaga kerja yang mampu beradaptasi.

Menurut Yassierli, perubahan kebutuhan tenaga kerja sebenarnya sudah mulai terlihat di berbagai negara.

Saat melakukan kunjungan kerja ke India, ia memperoleh informasi bahwa perekrutan tenaga kerja dengan kemampuan digital dan AI meningkat secara signifikan.

Dalam satu tahun terakhir, perekrutan talenta digital dan AI meningkat sekitar 11 persen, sementara perekrutan untuk pekerjaan administratif atau pekerja kantoran justru mengalami penurunan sekitar 9 persen.

“Ini memang menjadi sebuah hal yang luar biasa,” ujar Yassierli.

Ia juga mengungkapkan adanya laporan lain yang menyebutkan bahwa sekitar 50 persen jenis pekerjaan saat ini akan mengalami perubahan dalam 10 tahun ke depan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hampir semua sektor industri akan terdampak oleh perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Karena itu, Kementerian Ketenagakerjaan mulai menyiapkan berbagai langkah strategis agar Indonesia mampu menghadapi perubahan tersebut.

Salah satu fokus utama pemerintah adalah menyusun tata kelola pemanfaatan AI yang berkaitan dengan dunia ketenagakerjaan.

Selain itu, Kemnaker juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari dunia pendidikan, pelaku industri, perusahaan teknologi, hingga lembaga pelatihan kerja agar proses transformasi tenaga kerja dapat berjalan lebih optimal.

“Ini adalah tantangan-tantangan kita. Kami sedang menyiapkan tata kelola AI yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Kedua, kita membangun kolaborasi dengan semua pihak,” jelasnya.

Yassierli juga mengutip data dari LinkedIn yang menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja dengan keterampilan digital dan AI di kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan sangat pesat.

Pada periode 2021 hingga 2023, permintaan terhadap tenaga kerja yang memiliki kemampuan digital dan AI meningkat hingga 2,4 kali lipat.

Menurutnya, tren tersebut kemungkinan terus meningkat seiring semakin luasnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor industri.

Ia menilai kemampuan memanfaatkan AI kini telah menjadi salah satu nilai tambah penting dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

Tidak hanya perusahaan teknologi, berbagai sektor seperti manufaktur, jasa, keuangan, pendidikan, kesehatan, hingga pemerintahan mulai membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan AI secara produktif.

Meski demikian, Yassierli menegaskan bahwa kemampuan AI tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan teknologi informasi atau ilmu komputer.

Siapa pun dapat mempelajari teknologi tersebut selama memiliki kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi.

Namun, penguasaan AI saja dinilai belum cukup. Menurutnya, tenaga kerja masa depan juga harus memiliki berbagai soft skill yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Beberapa kemampuan yang dinilai semakin penting antara lain kemampuan komunikasi, kerja sama tim, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, memiliki empati, serta mampu mengambil keputusan secara tepat dalam berbagai situasi.

Kombinasi antara keterampilan digital dan kemampuan nonteknis diyakini akan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing tenaga kerja di era transformasi digital.

Dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, pemerintah berharap masyarakat Indonesia mulai mempersiapkan diri melalui peningkatan keterampilan, pelatihan digital, dan pembelajaran sepanjang hayat.

Langkah tersebut dinilai penting agar tenaga kerja nasional tidak hanya mampu menghadapi perubahan dunia kerja, tetapi juga dapat memanfaatkan peluang baru yang akan muncul seiring berkembangnya teknologi AI menuju tahun 2030. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Zidane Resmi Latih Timnas Prancis

Zinedine Zidane Jadi Pelatih Timnas Prancis, Bidik Juara Euro 2028 dan Piala Dunia 2030