BANYUMASEKSPRES.ID, Piala Dunia 2026 tak hanya menjadi panggung persaingan antartim terbaik dunia, tetapi juga menghadirkan gelombang pergantian pelatih dan petinggi federasi sepak bola.
Ketatnya persaingan serta tingginya ekspektasi membuat sejumlah negara mengambil langkah cepat setelah gagal memenuhi target.
Hingga berakhirnya babak 16 besar, sedikitnya tujuh pelatih maupun petinggi federasi telah mengundurkan diri atau meninggalkan jabatannya.
Nama yang paling menyita perhatian adalah pelatih tim nasional Belanda, Ronald Koeman.
Keputusannya mundur diumumkan hanya sehari setelah De Oranje tersingkir secara dramatis melalui adu penalti saat menghadapi Maroko di babak 16 besar.
Hasil tersebut menjadi akhir yang mengecewakan bagi Belanda, yang sejak awal turnamen digadang-gadang sebagai salah satu kandidat kuat juara.
Namun perjalanan mereka harus terhenti lebih cepat setelah gagal memanfaatkan sejumlah peluang sepanjang pertandingan sebelum akhirnya kalah dalam adu penalti.
Melalui pernyataan yang diunggah di media sosial, Koeman mengaku bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.
Ia menyebut keputusan mundur diambil setelah melakukan pertimbangan matang usai pertandingan.
“Semalam saya memutuskan mengakhiri masa jabatan sebagai pelatih kepala tim nasional Belanda. Kami semua bermimpi menciptakan sejarah di Piala Dunia. Itu tidak terjadi dan tidak ada yang lebih kecewa daripada saya,” tulis Koeman.
Selain Belanda, Korea Selatan juga melakukan pergantian di kursi pelatih.
Hong Myung-bo memilih mengakhiri masa jabatannya setelah Taeguk Warriors gagal melewati fase grup.
Mantan bek legendaris Korea Selatan itu menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat yang selama ini memberikan dukungan kepada tim nasional.
Menurutnya, kegagalan memenuhi target menjadi tanggung jawab yang harus ia emban.
“Saya ingin meminta maaf dengan tulus kepada masyarakat yang selalu mencintai dan mendukung sepak bola Korea. Saya memutuskan mundur sebagai pelatih kepala tim nasional Korea Selatan,” ujarnya.
Nasib serupa dialami pelatih Republik Ceko, Miroslav Koubek. Timnya hanya mampu mengumpulkan satu poin sepanjang fase grup sehingga gagal bersaing memperebutkan tiket menuju babak gugur.
Hasil tersebut membuat Koubek memilih mengakhiri masa baktinya bersama tim nasional.
Perubahan penting juga terjadi di Arab Saudi. Kali ini bukan pelatih yang mundur, melainkan Presiden Federasi Sepak Bola Arab Saudi, Yasser Al Misehal.
Ia mengambil tanggung jawab atas kegagalan Green Falcons melangkah ke fase berikutnya.
“Kegagalan tim nasional lolos ke babak berikutnya merupakan hasil yang jauh dari ambisi kami. Saya memikul tanggung jawab penuh dan memutuskan tidak melanjutkan jabatan ini,” katanya.
Di Eropa, pelatih Skotlandia Steve Clarke juga memutuskan mundur setelah timnya gagal melangkah ke babak gugur.
Keputusan tersebut mengakhiri masa kepemimpinannya yang telah berlangsung selama beberapa tahun dan sempat membawa Skotlandia kembali tampil di turnamen-turnamen besar.
Sementara itu, pelatih Ekuador Sebastian Beccacece turut mengakhiri masa baktinya setelah timnya disingkirkan Meksiko dengan skor 0-2 pada babak 32 besar.
Kekalahan tersebut sekaligus mengubur harapan Ekuador untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.
Satu nama lain yang juga masuk dalam daftar adalah pelatih Tunisia, Sabri Lamouchi.
Kegagalan Tunisia memenuhi target membuat posisinya tidak lagi dipertahankan setelah turnamen berakhir.
Gelombang pengunduran diri ini menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi para pelatih di ajang sebesar Piala Dunia.
Turnamen empat tahunan tersebut tidak hanya menjadi panggung bagi para pemain untuk membuktikan kemampuan, tetapi juga menjadi tolok ukur keberhasilan seorang pelatih maupun pengurus federasi.
Bagi negara-negara yang gagal memenuhi ekspektasi, pergantian pelatih kerap menjadi langkah pertama dalam memulai proses evaluasi.
Federasi berharap kehadiran sosok baru mampu menghadirkan perubahan strategi sekaligus membangun kembali kepercayaan diri tim menjelang agenda internasional berikutnya.
Seiring berlanjutnya Piala Dunia 2026, bukan tidak mungkin daftar tersebut masih akan bertambah.
Apalagi sejumlah tim unggulan yang masih bertahan juga datang dengan target tinggi.
Apabila gagal mencapai hasil yang diharapkan, kursi pelatih kembali menjadi posisi yang paling rentan terkena dampak dari kerasnya persaingan di sepak bola level dunia. (*/stch/dda)
















