BANYUMASEKSPRES.ID, Potensi El Nino kuat di Indonesia pada 2026 menjadi perhatian karena fenomena iklim tersebut dapat memengaruhi kondisi musim kemarau hingga ketersediaan pangan.
Jika curah hujan turun dalam waktu lama, produksi sejumlah komoditas pertanian berpotensi mengalami gangguan. Kondisi tersebut akhirnya dapat berpengaruh terhadap harga pangan di tingkat masyarakat.
Ketika pasokan hasil pertanian berkurang sementara kebutuhan konsumsi tetap berjalan, harga komoditas dapat mengalami tekanan kenaikan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya memperingatkan adanya potensi El Nino dengan intensitas kuat yang kerap disebut El Nino Godzilla.
Fenomena tersebut perlu menjadi perhatian karena dampaknya dapat terasa pada sektor pertanian, ketersediaan air, hingga stabilitas harga bahan pangan.
Mengapa El Nino Bisa Membuat Harga Pangan Naik?
El Nino merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik.
Dampaknya terhadap Indonesia antara lain berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah sehingga musim kemarau dapat berlangsung lebih kering dan panjang.

Dalam kondisi normal, sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air. Ketika kemarau berlangsung lebih lama, tanaman tertentu berisiko mengalami penurunan produktivitas.
Risiko tersebut dapat semakin besar apabila petani menghadapi keterbatasan sumber air untuk irigasi. Selain itu, masyarakat juga harus waspada pada cuaca panas bisa timbulkan beberapa penyakit.
Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Saparno menjelaskan bahwa gangguan produksi dapat memberikan tekanan terhadap harga.
Apabila pasokan komoditas pertanian menurun sementara permintaan masyarakat relatif tetap, harga memiliki kecenderungan meningkat.
Karena itu, potensi El Nino kuat perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam menjaga pasokan dan kestabilan harga komoditas yang masuk kategori volatile food.
Dampaknya Tidak Hanya pada Pertanian
Pengaruh El Nino tidak berhenti pada penurunan produksi tanaman. Kemarau yang lebih kering juga dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Bagi sektor pertanian, kondisi tersebut dapat mengganggu pola tanam dan masa panen. Komoditas yang membutuhkan pasokan air cukup berpotensi menghadapi risiko lebih besar apabila kondisi kering berlangsung dalam waktu panjang.
Jika produksi turun, rantai pasok pangan juga dapat ikut terdampak. Pasokan yang lebih terbatas dapat meningkatkan biaya distribusi maupun harga di tingkat konsumen.
Namun, dampak aktual terhadap harga tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan prediksi El Nino.
Besarnya pengaruh akan bergantung pada durasi dan intensitas fenomena, kondisi produksi, stok pangan, distribusi, serta kebijakan pemerintah.
Pemerintah Perlu Menyiapkan Strategi Harga Pangan
Potensi gangguan produksi membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak awal. Salah satu fokus utama adalah memastikan ketersediaan pangan mencukupi produksi domestik mengalami tekanan.
BPS menilai pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai strategi untuk menjaga stabilitas harga. Langkah tersebut dapat mencakup penguatan pasokan, pengelolaan stok, pengaturan distribusi.
Bahkan hingga opsi impor apabila diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebijakan tersebut penting karena kenaikan harga pangan dapat memberikan pengaruh terhadap inflasi.
Komoditas pangan tertentu memiliki peran besar dalam pengeluaran rumah tangga sehingga perubahan harganya dapat langsung dirasakan masyarakat.
Selain menjaga pasokan, pemerintah juga perlu memastikan distribusi pangan berjalan lancar. Produksi yang mencukupi tetapi tidak terdistribusi secara merata tetap dapat menimbulkan perbedaan harga antarwilayah.
Apa Itu El Nino Godzilla?
Istilah El Nino Godzilla digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. BRIN menyebut fenomena tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.
Hal ini terutama di sejumlah wilayah barat dan selatan. Fenomena El Nino terjadi akibat perubahan kondisi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola atmosfer global, termasuk distribusi curah hujan di Indonesia.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung mengartikan istilah “Godzilla” sebagai kepastian bahwa seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem. Dampaknya dapat berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi iklim.
Masyarakat Perlu Mewaspadai Perubahan Harga
Bagi masyarakat, potensi El Nino kuat dapat menjadi pengingat untuk lebih bijak mengatur pengeluaran, terutama jika terjadi perubahan harga sejumlah bahan pangan.
Pemerintah dan masyarakat juga perlu mengandalkan informasi dari lembaga resmi seperti BRIN, BMKG, dan BPS agar tidak mudah terpengaruh informasi mengenai cuaca maupun harga pangan yang belum terverifikasi.
Pada akhirnya, El Nino 2026 tidak otomatis berarti harga seluruh bahan pangan akan melonjak. Namun, risiko terhadap produksi dan pasokan memang perlu diantisipasi.
Dengan pemantauan cuaca, penguatan produksi, pengelolaan stok, serta kebijakan stabilisasi harga yang tepat, dampak terhadap masyarakat diharapkan dapat ditekan. (*/nds)














