BANYUMASEKSPRES.ID, Film horor Indonesia Sajen Satu Suro menjadi salah satu film yang menarik perhatian menjelang penayangannya pada 30 Juli 2026.
Tidak hanya menawarkan kisah penuh misteri dan teror, film produksi PIM Pictures ini juga menyimpan cerita unik dari balik proses syuting.
Salah satu pemeran utamanya, Frislly Herlind, mengungkapkan pengalaman yang menurutnya sulit dijelaskan secara logika saat menjalani pengambilan gambar di lokasi syuting.
Frislly mengatakan bahwa proses produksi dilakukan di sebuah rumah kosong yang memang telah lama tidak dihuni.
Lokasi tersebut dipilih untuk memberikan nuansa horor yang lebih alami sehingga para pemain benar-benar dapat merasakan atmosfer mencekam selama syuting berlangsung.
Menurut Frislly, rumah yang digunakan bukanlah lokasi buatan atau sekadar properti film. Bangunan tersebut merupakan rumah asli yang sudah lama terbengkalai.
Kondisi itu membuat suasana selama proses syuting terasa semakin sunyi dan menyeramkan, terutama ketika pengambilan gambar dilakukan hingga malam hari.
Pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika kru sedang menjalani salah satu adegan penting bersama para pemain lain.
Di tengah proses syuting, mesin pembangkit listrik atau genset yang menjadi sumber penerangan tiba-tiba mati secara berulang kali tanpa penyebab teknis yang jelas.
Frislly mengungkapkan bahwa genset tersebut padam hingga beberapa kali.
Kru sempat mencoba menghidupkannya kembali, namun mesin kembali mati sehingga proses syuting harus beberapa kali dihentikan.
Situasi tersebut membuat seluruh pemain dan kru bertanya-tanya mengenai penyebab gangguan tersebut.
Di tengah kebingungan, sejumlah warga sekitar lokasi memberikan saran kepada tim produksi.
Mereka menduga gangguan yang terjadi berkaitan dengan kepercayaan setempat dan menyarankan agar disediakan sesajen di dekat lokasi genset.
Meski awalnya terdengar tidak biasa, pihak produksi akhirnya mengikuti saran tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan kepercayaan masyarakat sekitar.
Menurut cerita Frislly, setelah sesajen diletakkan di dekat genset, mesin kembali menyala dan dapat digunakan hingga proses syuting dilanjutkan.
Frislly mengaku momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan.
Terlebih, kejadian itu terjadi saat mereka sedang menggarap film yang memang mengangkat tema mistis dengan judul Sajen Satu Suro, sehingga kebetulan tersebut terasa semakin menarik bagi seluruh pemain maupun kru produksi.
Terlepas dari pengalaman tersebut, Frislly tidak menyimpulkan bahwa insiden itu benar-benar disebabkan oleh hal-hal gaib.
Ia hanya membagikan pengalaman yang dialami selama proses produksi dan mengakui bahwa kejadian tersebut menjadi cerita unik di balik pembuatan film.
Film Sajen Satu Suro sendiri mengisahkan perjalanan Tania bersama teman-temannya yang berusaha menyembuhkan seseorang yang sedang sakit parah dengan cara mengembalikan keris warisan sang kakek.
Perjalanan tersebut membawa mereka ke sebuah desa terpencil yang menyimpan misteri kelam serta kutukan yang berkaitan dengan malam Satu Suro.
Di desa itu, mereka harus menghadapi berbagai peristiwa menyeramkan yang menguji keberanian sekaligus mengungkap rahasia masa lalu yang telah lama tersembunyi.
Cerita horor yang dipadukan dengan unsur budaya lokal menjadi salah satu daya tarik utama film ini.
Selain Frislly Herlind, film Sajen Satu Suro juga dibintangi Aisyah Aqilah, Cinta Brian, Munggaran Meldrat, Yurike Prastika, dan Clift Sangra.
Dengan jajaran pemain tersebut serta kisah yang mengangkat nuansa mistis khas Indonesia, film ini diharapkan menjadi salah satu tontonan horor yang menarik bagi para pencinta genre tersebut ketika resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 30 Juli 2026. (*/stch/dda)
















