Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Santri Kebumen Belajar Menentukan Arah Kiblat dengan Metode Ilmiah

Santri Diajak Berlatih Tentukan Arah KiblatSantri Diajak Berlatih Tentukan Arah Kiblat
BELAJAR: Para santri di Kecamatan Klirong diajak belajar menentukan arah kiblat sekaligus mempraktikkan secara langsung menggunakan metode ilmiah sederhana

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, menggelar pelatihan penentuan arah kiblat bagi para santri sebagai bagian dari Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat Tahun 2026.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai pentingnya ketepatan arah kiblat dalam pelaksanaan ibadah salat sekaligus memperkenalkan ilmu falak melalui praktik langsung di lapangan.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, yakni pada Rabu hingga Kamis (15–16 Juli 2026), mendapat sambutan antusias dari para santri.

Mereka tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga diajak mempraktikkan cara menentukan arah kiblat menggunakan metode ilmiah sederhana dengan memanfaatkan posisi Matahari.

Koordinator kegiatan sekaligus Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Klirong, Mudrikah, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat sejak usia dini mengenai pentingnya arah kiblat yang akurat dalam ibadah salat.

Menurutnya, pemahaman mengenai arah kiblat tidak hanya penting secara teori, tetapi juga perlu dipraktikkan agar para santri mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ketepatan arah kiblat dalam pelaksanaan ibadah salat. Edukasi sejak dini dipandang penting agar generasi muda mampu memahami sekaligus mempraktikkan ilmu falak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memanfaatkan fenomena Istiwa A’zam, yaitu saat posisi Matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda dapat digunakan sebagai acuan menentukan arah kiblat secara akurat.

Para santri memulai pembelajaran dengan mengamati arah bayangan Matahari, kemudian mencocokkannya dengan hasil pengukuran arah kiblat.

Metode praktik lapangan ini dinilai lebih efektif dibandingkan pembelajaran teori semata karena peserta dapat melihat langsung proses ilmiah dalam menentukan arah kiblat.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para santri tampak aktif bertanya, berdiskusi, dan mengikuti setiap tahapan pengukuran dengan penuh semangat.

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan, seluruh peserta mendapatkan tugas untuk melakukan praktik penentuan arah kiblat di rumah masing-masing pada Kamis (16/7/2026), bertepatan dengan hari kedua fenomena Istiwa A’zam.

Melalui tugas tersebut, para santri diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh sekaligus membagikan pengetahuan tersebut kepada anggota keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat agar tidak hanya berhenti di lingkungan lembaga pendidikan, tetapi juga menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Salah seorang pengajar TPQ Darul Huda, Ustadzah Umi Sa’diyah, mengapresiasi metode pembelajaran yang mengedepankan praktik langsung.

Menurutnya, pengalaman di lapangan membuat santri lebih mudah memahami materi dibandingkan hanya mempelajarinya melalui buku atau penjelasan di dalam kelas.

Selain meningkatkan pemahaman, kegiatan tersebut juga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu para santri terhadap ilmu falak yang selama ini mungkin belum banyak dikenal.

“Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka memperoleh pengalaman baru tentang cara menentukan arah kiblat secara benar. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan sehingga semakin banyak santri memperoleh manfaat,” ungkapnya.

Pelatihan ini juga menjadi sarana memperkenalkan ilmu falak, yaitu cabang ilmu yang mempelajari posisi benda-benda langit untuk berbagai kepentingan ibadah umat Islam, termasuk penentuan arah kiblat, waktu salat, hingga penanggalan hijriah.

Dengan mengenalkan ilmu falak sejak dini, diharapkan generasi muda tidak hanya memahami tata cara ibadah, tetapi juga mengetahui dasar ilmiah yang mendukung pelaksanaannya.

Melalui pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, KUA Kecamatan Klirong berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketepatan arah kiblat semakin meningkat.

Kegiatan edukasi yang dikombinasikan dengan praktik lapangan dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik sekaligus memperkuat pemahaman peserta.

Ke depan, program serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak santri dan masyarakat yang mampu menentukan arah kiblat dengan benar menggunakan metode ilmiah sederhana, sekaligus memahami pentingnya ilmu falak dalam kehidupan sehari-hari. (cah/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Sistem Pangan Berbasis AI Dikembangkan di Cilacap

Pemkab Cilacap Hadirkan SI PANDA Berbasis AI untuk Kendalikan Inflasi dan Ketahanan Pangan

Berita Selanjutnya
Hong Kong Jadi Investor Asing Terbesar

Hong Kong Jadi Investor Asing Terbesar di Indonesia Kuartal II 2026, Geser Singapura Setelah 10 Tahun