Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Dinkes Banjarnegara Kejar Target 2.787 Kasus TBC, Baru 590 yang Terdeteksi

Penderita TBC Baru Terdeteksi 590 KasusPenderita TBC Baru Terdeteksi 590 Kasus
TAMPAK DEPAN: Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara terus berupaya keras dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC) melalui penguatan skrining kesehatan di masyarakat.

Langkah strategis ini diambil karena pencapaian penemuan kasus TBC dinilai masih jauh dari target yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.

Berdasarkan data terbaru dari Dinkes Banjarnegara, dari target penemuan sebanyak 2.787 kasus TBC, hingga saat ini baru tercatat sekitar 590 kasus yang berhasil ditemukan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Banjarnegara, Sulistiyowati, menjelaskan bahwa fokus utama program saat ini adalah meningkatkan upaya penemuan kasus atau case finding.

Hal ini bertujuan agar gambaran penyebaran TBC di lapangan dapat lebih terukur dan akurat.

“Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), ketika ada masyarakat yang menunjukkan gejala seperti batuk berkepanjangan, kita langsung melakukan skrining untuk mengarah pada TBC. Jika terindikasi positif, maka langkah-langkah pengobatan dapat segera dilakukan,” ujarnya dalam pernyataan di Selasa (5/5/2026).

Sulistiyowati menegaskan bahwa pasien yang sudah terdeteksi akan langsung mendapatkan pengobatan yang diperlukan.

Namun, secara keseluruhan, upaya pengendalian TBC akan dimaksimalkan setelah capaian penemuan kasus mendekati target yang telah ditentukan.

“Karena saat ini capaian masih rendah, kita dorong dulu penemuannya. Apabila sudah mendekati target, intervensi bisa dilakukan dengan lebih tepat sasaran, termasuk pemetaan wilayah serta pengendalian penularan,” jelasnya lebih lanjut.

Penting untuk dicatat bahwa TBC tidak hanya menyerang orang dewasa tetapi juga bisa menjangkiti anak-anak hingga bayi.

Ini menjadi perhatian serius bagi Dinkes Banjarnegara mengingat tantangan besar untuk mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030 masih menghadapi hambatan yang signifikan.

“Ini adalah masalah lama yang belum sepenuhnya terselesaikan. Seharusnya sudah bisa dieliminasi, namun kenyataannya masih banyak kasus yang muncul. Oleh karena itu, kini kami mencari tahu apakah masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya deteksi, tidak adanya pengobatan, atau ketidakpatuhan pasien dalam menjalani terapi obat,” ungkap Sulistiyowati.

Selain itu, dia juga mengingatkan bahwa penularan TBC termasuk cepat dan bisa terjadi dengan mudah.

Satu penderita TBC dapat menularkan infeksi kepada delapan hingga sepuluh orang di sekitarnya, terutama jika mereka tidak menerapkan etika batuk dengan benar.

Gejala-gejala TBC sering kali dianggap sepele oleh masyarakat umum; beberapa contohnya adalah batuk berkepanjangan, penurunan berat badan yang drastis, nafsu makan menurun, serta kondisi tubuh yang sering meriang atau tidak stabil.

Padahal jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat dan segera, penyakit ini dapat menyebar dengan cepat dan meluas.

Lebih lanjut lagi, ancaman serius datang dari bentuk TBC resisten obat atau Multi Drug Resistant (MDR) yang jauh lebih sulit ditangani dan memiliki risiko tinggi untuk menular ke orang lain.

“Jika sampai tertular oleh strain MDR ini, penanganannya akan jauh lebih kompleks dan memerlukan strategi khusus,” tegasnya.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pengobatan TBC, Dinkes Banjarnegara mengintensifkan kampanye edukasi kesehatan melalui berbagai media sosial serta kegiatan langsung di lapangan.

Edukasi mengenai gejala awal TBC sangat penting agar masyarakat tidak menganggap remeh kondisi kesehatan mereka sendiri maupun anggota keluarga lainnya.

Penyuluhan ini mencakup informasi mengenai tanda-tanda awal TBC serta langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko penyebaran penyakit tersebut.

Dinkes Banjarnegara berharap dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit ini akan berdampak positif terhadap angka temuan kasus dan pada akhirnya membantu dalam upaya eliminasi TBC secara keseluruhan.

Selain itu, Sulistiyowati juga menjelaskan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah dengan berbagai lembaga swasta serta organisasi non-pemerintah sangat diperlukan dalam program ini.

Kolaborasi tersebut menciptakan sinergi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan pengendalian dan eliminasi TBC di Kabupaten Banjarnegara. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Sampah Numpuk di TPS

Sampah Numpuk di TPS Cilacap, DLH Turun Tangan Lakukan Penanganan Darurat

Berita Selanjutnya
Idul Adha, Berkah Bagi Penjual Pakan Ternak

Harga Pakan Ternak Naik Jelang Idul Adha 2026, Penjual Jerami Kebumen Raup Cuan Berlipat