Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Dokter Harvard Ungkap 6 Makanan Pemicu Kanker
Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tinggalkan Dampak Besar

Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tinggalkan Dampak Besar

Dampak Suhu Panas Tinggi di EropaDampak Suhu Panas Tinggi di Eropa

BANYUMASEKSPRES.ID, Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa pada pertengahan 2026 menjadi salah satu peristiwa cuaca paling serius dalam beberapa tahun terakhir.

Suhu yang menembus rekor di berbagai wilayah tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu lonjakan angka kematian dan membebani sistem layanan kesehatan.

Meski peristiwa tersebut telah berlalu, dampaknya masih menjadi perhatian para pakar kesehatan dan iklim ditambah dengan adanya korban dan pihak berkebutuhan khusus yang perlu dilindungi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko kejadian cuaca ekstrem yang berdampak langsung terhadap kesehatan manusia.

Menurut WHO, gelombang panas yang terjadi di Eropa diduga berkontribusi terhadap lebih dari 1.300 kematian tambahan sejak akhir Juni 2026.

Sebagian besar korban berasal dari kelompok rentan, terutama lansia yang lebih mudah mengalami komplikasi akibat paparan suhu tinggi.

Dampak Suhu Panas Ekstrem di Eropa

WHO Ungkap Gelombang Panas Menjadi Ancaman Serius bagi Kesehatan

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebelumnya mengingatkan bahwa suhu ekstrem sering disebut sebagai “pembunuh senyap” karena dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung.

Paparan panas berlebih dapat memicu dehidrasi, heat stroke, gangguan jantung, hingga memperburuk penyakit kronis yang telah dimiliki seseorang.

WHO juga mencatat adanya peningkatan signifikan angka kematian pada kelompok usia di atas 65 tahun selama periode gelombang panas.

Bahkan, jumlah warga lanjut usia yang meninggal di rumah dilaporkan meningkat sekitar 40 persen dibandingkan kondisi normal.

Menurut lembaga tersebut, Eropa merupakan kawasan yang mengalami laju pemanasan paling cepat di dunia.

Dalam beberapa dekade terakhir, suhu rata-rata di benua itu meningkat hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, sehingga kejadian gelombang panas diperkirakan akan semakin sering terjadi.

Rekor Suhu Pecah di Sejumlah Negara Eropa

Gelombang panas berlangsung kala itu menyebabkan sejumlah negara mencatatkan suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan meteorologi mereka. Jerman menjadi salah satu wilayah yang mengalami kondisi paling ekstrem.

Suhu udara di kawasan timur negara tersebut dilaporkan mencapai sekitar 41,7 derajat Celsius, memecahkan rekor sebelumnya dan menjadi salah satu hari terpanas yang pernah tercatat.

Tak hanya Jerman, Republik Ceko mencatat suhu lebih dari 41 derajat Celsius di wilayah Doksany. Sementara itu, Polandia melaporkan suhu sekitar 40,5 derajat Celsius di Kota Slubice, yang turut memecahkan rekor nasional.

Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi perubahan iklim dan fenomena atmosfer yang membuat panas terperangkap dalam waktu lama.

Fenomena Kubah Panas Memperparah Kondisi

Salah satu penyebab utama suhu ekstrem saat itu adalah fenomena yang dikenal sebagai heat dome atau kubah panas.

Fenomena ini terjadi ketika tekanan udara tinggi menjebak massa udara panas di dekat permukaan bumi.

Udara yang terperangkap kemudian memanas akibat paparan sinar matahari, sementara pembentukan awan sangat minim. Akibatnya, suhu permukaan meningkat secara signifikan selama beberapa hari berturut-turut.

Kondisi tersebut membuat malam hari tetap terasa panas sehingga tubuh manusia tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan diri dari paparan suhu tinggi pada siang hari.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat pemanasan global membuat kejadian seperti ini semakin sering muncul dan berlangsung lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu.

Berbagai Upaya Dilakukan untuk Mengurangi Dampak

Selama gelombang panas berlangsung, sejumlah pemerintah di Eropa mengambil berbagai langkah darurat untuk melindungi masyarakat.

Belanda sempat membatalkan festival musik Defqon.1 setelah pemerintah mengeluarkan peringatan cuaca panas ekstrem.

Di Prancis, pemerintah daerah juga menerapkan sejumlah pembatasan aktivitas luar ruangan serta mengalihkan sumber daya layanan darurat untuk menangani peningkatan kasus terkait suhu tinggi.

Selain itu, otoritas kesehatan mengimbau masyarakat agar menghindari aktivitas berat pada siang hari. Selain itu, adanya waspada kekeringan yang diprediksi WHO selama 2026.

Kemudian, masyarakat dapat memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pakaian yang ringan, serta memanfaatkan ruang berpendingin apabila memungkinkan.

Pemerintah Prancis melaporkan peningkatan insiden tenggelam selama periode cuaca panas. Warga mencari cara mendinginkan tubuh di sungai, danau, dan perairan yang tidak diawasi, sehingga risiko kecelakaan ikut meningkat.

Gelombang Panas Diperkirakan Akan Semakin Sering Terjadi

Berbagai lembaga internasional kini menilai gelombang panas bukan lagi peristiwa yang jarang terjadi. Dengan meningkatnya suhu global, kejadian cuaca ekstrem diperkirakan menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens.

Karena itu, WHO mendorong setiap negara merencanakan aksi menghadapi cuaca panas, mulai dari sistem peringatan dini, penyediaan ruang pendingin bagi masyarakat, dan edukasi risiko kesehatan akibat suhu ekstrem.

Pelajaran dari gelombang panas yang melanda Eropa menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi semakin penting.

Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, kesiapan sistem kesehatan dan perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi langkah krusial untuk meminimalkan dampak kejadian serupa di masa mendatang. (*/nds)

Berita Sebelumnya
Makanan Sehat Sesuai Anjuran Dokter Harvard

Dokter Harvard Ungkap 6 Makanan Pemicu Kanker