BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Cuaca ekstrem yang melanda perairan selatan Jawa Tengah, khususnya di wilayah Cilacap, telah melumpuhkan aktivitas nelayan secara signifikan.
Angin timuran bertiup dengan kencang, disertai gelombang tinggi, memaksa sebagian besar nelayan pesisir untuk tidak berlayar dalam beberapa hari terakhir ini.
Kondisi cuaca buruk ini memiliki dampak langsung pada penurunan volume tangkapan ikan hingga mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Pariman, seorang pengepul ikan di Dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, mengungkapkan bahwa biasanya ia mampu mengumpulkan sekitar 50 kilogram ikan setiap harinya.
Namun, akhir-akhir ini hasil tangkapannya menurun drastis hingga hanya mencapai 20 kilogram saja.
Penurunan tajam ini tidak datang tanpa sebab. Sejak awal Juli, cuaca mulai menunjukkan perubahan ekstrem.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa gelombang tinggi akan mencapai puncaknya dari Selasa hingga Kamis pekan ini, dengan ketinggian maksimum yang bisa mencapai 4 meter.
Menurut Pariman, hanya kapal-kapal besar dengan bobot di atas 25 GT yang masih berani beroperasi.
Sebagian besar nelayan di Cilacap menggunakan perahu kecil dan memilih untuk tidak mengambil risiko melaut dalam kondisi seperti ini.
“Mereka hanya berani melaut paling jauh satu mil dari bibir pantai. Lebih dari itu, gelombangnya sudah terlalu besar dan bisa membahayakan,” jelasnya.
Situasi ini menyebabkan pasokan berbagai jenis ikan seperti bawal putih, bawal hitam, dan layur menurun tajam. Sebelumnya, hasil tangkapan nelayan juga mencakup udang, ikan montok, dan baleng sebelum cuaca memburuk.
Krisis pasokan ini diperkirakan akan mendorong harga ikan naik. Meski kenaikannya belum signifikan saat ini, Pariman memperkirakan lonjakan harga bisa mencapai Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram jika cuaca buruk terus berlanjut.
Teguh Wardoyo, Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, membenarkan bahwa perairan selatan saat ini dilanda cuaca ekstrem.
Gelombang rata-rata berkisar antara 2 hingga 3 meter dan dapat meningkat menjadi 4 meter dalam kondisi tertentu. Sementara itu, angin timuran bertiup dengan kecepatan antara 5 hingga 20 knot.
“Ini memang karakteristik musim kemarau di selatan Jawa. Angin timuran cukup kuat dan berdampak langsung pada kondisi laut,” terangnya.
Masih belum ada kepastian mengenai kapan cuaca akan kembali bersahabat bagi para nelayan. Mereka berharap agar keadaan segera membaik sehingga bisa kembali melaut seperti biasa.
Sementara itu, pelaku rantai pasok ikan—mulai dari pengepul hingga pedagang pasar—hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas agar situasi segera pulih sehingga siklus perdagangan dapat berjalan normal kembali.
Harapan-harapan tersebut tidak lepas dari pentingnya sektor perikanan bagi perekonomian lokal di Cilacap.
Para nelayan merupakan tulang punggung industri perikanan yang menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi masyarakat setempat.
Dengan kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam waktu dekat, banyak pihak bergantung pada prakiraan BMKG untuk menentukan langkah-langkah strategis selanjutnya guna mengatasi tantangan ini.
Komunikasi antara BMKG dan para pelaku industri kelautan menjadi lebih krusial untuk memastikan keselamatan serta optimalisasi waktu melaut ketika cuaca memungkinkan.
Dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem seperti saat ini, keberanian para pemilik kapal besar yang tetap melaut membawa sedikit asa bagi rantai pasokan ikan meski terbatas jumlahnya.
Namun demikian, kehati-hatian tetap harus dikedepankan oleh seluruh pihak terkait untuk menjaga keselamatan manusia serta menjaga keberlangsungan ekosistem laut. (ray/stch)
















