BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Lonjakan harga cabai yang mencapai Rp60 ribu per kilogram telah memicu petani di Desa Kecitran, Kecamatan Purwareja Klampok, untuk meningkatkan pengamanan kebun mereka secara total.
Dalam situasi ini, para petani terpaksa harus menjalani ronda malam dengan penuh kesungguhan demi mencegah pencurian yang bisa merugikan hasil panen mereka saat masa panen tiba.
Setidaknya sembilan petani bergabung dalam upaya pengamanan swadaya tersebut.
Ronda dilakukan secara bergiliran dari sore hingga dini hari untuk memastikan hasil panen tetap aman dan tidak jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kondisi yang mengkhawatirkan ini muncul sebagai akibat maraknya kabar tentang pencurian cabai yang semakin sering didengar di kalangan petani.
Kejadian-kejadian tersebut membuat kewaspadaan para petani meningkat, terutama ketika tanaman mereka sudah siap untuk dipetik.
Dalam sebuah wawancara pada Kamis (9/4/2026), Masno, salah satu petani, menyatakan, “Sekarang harus dijaga. Kalau tidak, takut diambil orang. Cabai ini jadi andalan kami.”
Pernyataan Masno mencerminkan betapa pentingnya cabai bagi kehidupan ekonomi mereka.
Harga cabai yang masih bertahan tinggi di atas Rp50 ribu per kilogram menjadi faktor utama yang menyebabkan risiko pencurian meningkat. Nilai ekonomi dari komoditas ini menjadikannya sasaran empuk bagi pencuri.
Wawan, seorang petani lainnya, menambahkan, “Harganya masih di atas Rp50 ribu, kadang sampai Rp60 ribu per kilo. Jadi ya harus ekstra hati-hati.”
Dengan tingginya harga cabai ini, jelas bahwa setiap butir cabai menjadi sangat berharga dan diperlukan perhatian lebih dalam menjaga kebun.
Perubahan pola ronda yang biasanya dilakukan di lingkungan permukiman kini beralih ke area pertanian mencerminkan perubahan situasi yang dihadapi para petani.
Mereka terpaksa mengorbankan waktu istirahat dan kenyamanan demi menjaga komoditas bernilai tinggi tersebut agar tidak hilang.
Ini adalah sebuah gambaran nyata tentang bagaimana kondisi ekonomi dapat mempengaruhi perilaku sosial masyarakat di daerah pedesaan.
Kapolsek Purwareja Klampok, Imam Sanyoto, menegaskan bahwa pihak kepolisian juga turut mengambil bagian dalam upaya pengamanan bersama warga setempat.
Patroli rutin dilakukan baik siang maupun malam untuk menekan potensi tindak kriminal yang dapat merugikan para petani.
“Kami lakukan patroli siang dan malam bersama warga untuk mencegah pencurian,” ujarnya dengan tegas.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian memang mengalami berbagai tantangan.
Lonjakan harga komoditas seperti cabai sering kali menjadi dua sisi mata uang; di satu sisi memberikan keuntungan bagi petani namun di sisi lain juga menarik perhatian pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dengan cara ilegal.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perlindungan terhadap hasil pertanian dan keadilan bagi para petani yang bekerja keras untuk mempertahankan usaha mereka.
Situasi ini juga menggambarkan ketegangan antara kebutuhan ekonomi dan keamanan sosial di kalangan petani.
Harga cabai yang melonjak tinggi tidak hanya memberikan harapan akan keuntungan tetapi juga menciptakan kekhawatiran akan kehilangan hasil kerja keras mereka akibat pencurian. (jud/stch/dda)
















