Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Harga Masker Naik Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, BPKN Minta Pemerintah Awasi Pasokan

Harga Masker Naik hingga Dua Kali LipatHarga Masker Naik hingga Dua Kali Lipat
PANIC BUYING: Warga berburu masker di Pasar Pramuka Jakarta Timur, karena munculnya abu vulkanik imbas erupsi Anak Krakatau

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA — Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga wilayah Jakarta membuat masyarakat ramai-ramai mencari masker.

Lonjakan permintaan tersebut terjadi di sejumlah titik penjualan, termasuk Pasar Pramuka, Jakarta Timur, yang dikenal sebagai salah satu sentra penjualan produk kesehatan.

Fenomena tersebut turut memunculkan panic buying masker. Warga mendatangi toko-toko untuk mendapatkan perlindungan dari paparan abu vulkanik.

Di tengah permintaan yang meningkat secara tiba-tiba, stok sejumlah jenis masker dilaporkan mulai menipis.

Kondisi serupa juga terlihat dalam perdagangan melalui platform daring. Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Muhammad Mufti Mubarok mengatakan lonjakan permintaan dapat dimanfaatkan sebagian penjual untuk menaikkan harga.

“Ya, secara online sudah ada sih panic buying kan gitu, artinya mereka-mereka yang kemudian memanfaatkan situasi menjual barang pada saat-saat seperti ini,” ujar Mufti saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Menurut Mufti, kenaikan harga yang terjadi akibat kepanikan konsumen biasanya tidak berlangsung lama.

Kondisi tersebut diperkirakan hanya terjadi dalam beberapa hari sebelum permintaan dan harga berangsur kembali normal.

Namun, pemerintah tetap diminta memperketat pengawasan terhadap rantai pasok.

Pengawasan diperlukan mulai dari ketersediaan barang di gudang, distribusi logistik, hingga penjualan kepada konsumen.

“Memang itu pemerintah harus tegas nanti bagaimana kita kemudian melakukan cek-cek di logistik, di gudang-gudang dan di penjualan karena memang biasanya cuma satu-dua hari, tiga hari, tapi karena mungkin hari keempat, hari kelima sudah normal karena panic buying,” beber Mufti.

Imbauan tersebut muncul di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap masker setelah abu vulkanik Anak Krakatau terdeteksi mencapai sejumlah wilayah Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah melakukan pembagian masker kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi.

BPBD DKI menyebut penggunaan masker ketika beraktivitas di luar ruangan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau ternyata memberikan dampak langsung terhadap aktivitas perdagangan masker di Pasar Pramuka.

Masker yang sebelumnya relatif lama tersimpan di sejumlah kios kini lebih cepat terjual karena banyak warga datang untuk membeli.

Pedagang yang biasanya melayani pembeli rutin menghadapi lonjakan permintaan dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut juga membuat beberapa area pasar menjadi lebih ramai. Pedagang harus melayani konsumen yang datang untuk mencari berbagai jenis masker.

Laporan dari Pasar Pramuka menunjukkan penjualan masker meningkat tajam sejak abu vulkanik mulai menjadi perhatian masyarakat.

Sejumlah pedagang bahkan melaporkan penjualan dalam jumlah ratusan kotak.

Masker dengan tingkat filtrasi lebih tinggi juga menjadi salah satu produk yang banyak dicari.

Namun, masyarakat tetap perlu membeli sesuai kebutuhan agar tidak memperparah kelangkaan sementara akibat lonjakan permintaan.

Salah seorang pedagang di Pasar Pramuka, Yana, mengatakan kenaikan harga sudah terasa pada berbagai jenis masker medis.

Menurut dia, kenaikan harga bukan hanya terjadi di tingkat penjual eceran. Harga dari distributor juga mengalami perubahan karena stok masker semakin terbatas.

“Semuanya naik, semua masker medis naik. Kenaikannya lumayan, beda Rp10 ribu satu kotak. Yang biasa distributor jual Rp25 ribu, sekarang sudah di atas Rp50 ribu. Itu kenaikan dari modal doang ya, itu belum harga jual,” kata Yana.

Dengan kondisi tersebut, pedagang kemudian harus menyesuaikan harga jual kepada konsumen.

Penyesuaian dilakukan karena harga pembelian dari distributor juga meningkat.

Yana mengatakan kenaikan harga dalam kondisi permintaan yang melonjak sebenarnya dapat terjadi ketika ketersediaan barang tidak mampu mengikuti kebutuhan pasar.

Menurutnya, stok yang sebelumnya tersedia dalam jumlah tertentu dapat habis dalam waktu singkat ketika masyarakat secara bersamaan membeli produk yang sama.

Fenomena berburu masker tidak hanya terjadi di pasar tradisional atau pusat penjualan produk kesehatan. Permintaan juga meningkat melalui perdagangan elektronik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian BPKN karena lonjakan permintaan dalam waktu singkat dapat menciptakan kesenjangan antara stok dan kebutuhan konsumen.

Apabila masyarakat membeli masker secara berlebihan, stok yang seharusnya dapat memenuhi kebutuhan lebih banyak orang dapat cepat habis.

Situasi tersebut berpotensi mendorong konsumen lain membeli dalam jumlah lebih banyak karena khawatir kehabisan.

Di Pasar Pramuka, fenomena tersebut terlihat dari banyaknya warga yang datang mencari masker.

Bahkan terdapat pembeli yang membeli dalam jumlah besar dalam satu kali transaksi.

Karena itu, pengawasan pemerintah terhadap distribusi barang menjadi penting agar kenaikan permintaan tidak berkembang menjadi persoalan ketersediaan maupun harga yang tidak wajar.

Mufti meminta pemerintah melakukan pengecekan terhadap rantai distribusi masker, terutama di tengah situasi darurat akibat sebaran abu vulkanik.

Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap ketersediaan barang di gudang dan jalur distribusi hingga titik penjualan.

Langkah tersebut penting untuk memastikan barang tetap tersedia dan masyarakat memperoleh produk dengan harga yang wajar.

Pemerintah juga perlu memantau perkembangan permintaan karena fenomena panic buying diperkirakan bersifat sementara.

Jika masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan dan pasokan kembali normal, tekanan terhadap harga diharapkan dapat berkurang.

Di sisi lain, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan menjadi salah satu langkah antisipasi yang dianjurkan pemerintah untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau sebelumnya memang berdampak cukup luas.

Aktivitas erupsi bahkan sempat mengganggu operasional sejumlah bandara dan penerbangan di Indonesia.

Setelah kondisi abu mulai berkurang, seluruh bandara yang sebelumnya ditutup telah kembali beroperasi, meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan tidak panik tetapi tetap waspada.

Pembelian masker sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan sehingga ketersediaan produk tetap dapat dinikmati masyarakat secara lebih luas. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Bantah Beda Budaya Jadi Alasan Bercerai

Raisya Bawazier Tegaskan Perceraian dengan Muhammad Zidan Bukan karena Beda Budaya

Berita Selanjutnya
Tak Ada Pasangan Ajukan Rujuk Sejak Tiga Tahun Terakhir

Tiga Tahun Tak Ada Pasangan Ajukan Rujuk di Purbalingga, Kemenag Ungkap Penyebabnya