BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di MAN 2 Banyumas akhirnya diterima pihak madrasah.
Dari lima jenis makanan dan buah yang diperiksa, hanya menu ayam dadu bumbu woku yang dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli (E. coli).
Hasil pemeriksaan tersebut disampaikan Puskesmas Purwokerto Timur I kepada pihak MAN 2 Banyumas.
Sampel sebelumnya diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Pengujian Alat Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Kelima sampel yang diperiksa berasal dari menu MBG yang dikonsumsi murid pada Senin (10/8/2026).
Sampel tersebut terdiri atas nasi putih, ayam dadu bumbu woku, oreg tempe, tumis pokcay jagung, dan anggur merah.
Sanitarian Puskesmas Purwokerto Timur I, Atika Kusumaastuti, mengatakan pemeriksaan dilakukan pada 27 Agustus 2026.
Dari lima sampel tersebut, empat lainnya dinyatakan negatif dari bakteri yang diperiksa.
“Hanya di ayam dadu bumbu woku positif bakteri Bacillus cereus dan Escherichia Coli,” kata Atika, Rabu (9/9).
Selain ayam dadu bumbu woku, laboratorium memeriksa nasi putih, oreg tempe, tumis pokcay jagung, dan anggur merah.
Keempat sampel tersebut dinyatakan negatif dari Salmonella sp, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.
Hasil tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan KLB mikrobiologi yang terjadi setelah sejumlah murid MAN 2 Banyumas mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG.
Dengan keluarnya hasil pemeriksaan, pihak terkait kini memiliki data laboratorium mengenai kondisi sampel makanan yang diperiksa.
Meski demikian, hasil positif pada satu jenis makanan tersebut perlu ditempatkan sesuai konteks pemeriksaan dan evaluasi keseluruhan proses penyediaan MBG.
Dalam evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mersi 2, petugas juga menemukan adanya persoalan dalam pembagian makanan berdasarkan batch produksi.
Atika menjelaskan, proses produksi menu MBG di dapur tersebut dilakukan sebanyak empat kali masak atau empat batch. Pembagian tersebut disesuaikan dengan kelompok penerima makanan.
Batch pertama diperuntukkan bagi balita dan ibu hamil. Batch kedua untuk murid TK, batch ketiga untuk murid MTs, sedangkan batch terakhir ditujukan bagi murid MAN 2 Banyumas.
Namun, dalam pelaksanaannya ditemukan makanan yang tidak sepenuhnya mengikuti pembagian batch tersebut.
Sebagian makanan untuk murid MTs yang seharusnya berasal dari batch ketiga ternyata mengambil makanan dari batch kedua.
Hal serupa ditemukan pada makanan untuk murid MAN 2 Banyumas yang sebagian mengambil dari batch sebelumnya.
“ Tetapi ternyata misal makanan untuk murid MTs yang seharusnya di batch tiga sebagian mengambil makanan di batch dua. Sama dengan yang untuk murid MAN 2 Banyumas, sebagian makanan mengambil di batch sebelumnya. Bisa jadi masaknya sudah terlalu lama,” terang Atika.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian dalam evaluasi penanganan kasus di MAN 2 Banyumas.
Namun, dugaan mengenai lamanya makanan berada sebelum dikonsumsi tidak boleh disamakan sebagai kesimpulan tunggal mengenai penyebab kejadian tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Sampel yang diperiksa laboratorium berasal dari SPPG Mersi 2. Menurut Atika, dapur penyedia MBG tersebut memang menyimpan sebagian porsi makanan sebagai sampel.
Penyimpanan sampel dilakukan selama tiga hari untuk mengantisipasi apabila terjadi persoalan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan yang diproduksi.
Prosedur tersebut kemudian membantu petugas melakukan pemeriksaan setelah munculnya kasus di MAN 2 Banyumas.
Dari pemeriksaan itulah diketahui bahwa sampel ayam dadu bumbu woku mengandung Bacillus cereus dan E. coli.
Sementara empat sampel lainnya tidak menunjukkan keberadaan bakteri yang diperiksa.
Atika menjelaskan, Bacillus cereus dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan seperti diare.
Sementara E. coli dapat menyebabkan keluhan seperti sakit perut, tergantung jenis dan kondisi paparannya.
Wakil Kepala MAN 2 Banyumas Bidang Humas, Muhammad Fahmi, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium penting diketahui secara jelas oleh pihak madrasah.
Menurut dia, informasi tersebut juga akan menjadi bahan penyampaian kepada orang tua dan wali murid, terutama apabila mereka menanyakan hasil pemeriksaan terkait kejadian yang dialami siswa.
Dalam waktu dekat, madrasah juga akan menggelar rapat pleno bersama komite serta orang tua dan wali murid.
“Hasil pemeriksaan dari Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Pengujian Alat Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga sebagai laporan pada orangtua wali murid jika ada yang menanyakan,” ungkap Fahmi.
Pihak madrasah diharapkan dapat menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut secara utuh, termasuk menjelaskan bahwa dari lima sampel yang diperiksa hanya ayam dadu bumbu woku yang menunjukkan hasil positif terhadap dua jenis bakteri.
Kepala SPPG Mersi 2, Desanti Puspa Zahrani, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang dialami murid MAN 2 Banyumas.
Setelah operasional dapur dihentikan sementara oleh pemerintah pusat pascakejadian tersebut, pihak SPPG melakukan sejumlah pembenahan. Salah satunya adalah renovasi dapur.
“Dapur juga sudah direnovasi,” kata Desanti.
Ia juga meminta pihak MAN 2 Banyumas menyiapkan ruang tertutup untuk penempatan makanan apabila program MBG kembali berjalan bagi murid yang bersedia menerima.
Menurut Desanti, penempatan makanan di ruang tertutup diperlukan sebagai langkah antisipasi dan mengikuti pola penempatan MBG seperti yang diterapkan di MTs.
Meski demikian, operasional SPPG Mersi 2 masih menunggu pencabutan surat pemberhentian operasional sementara.
“Operasional dapur menunggu pencabutan surat pemberhentian operasional sementara,” pungkasnya.
Kasus tersebut pertama kali diketahui pada Senin (10/8) malam setelah sejumlah murid MAN 2 Banyumas mengalami keluhan kesehatan.
Pada Selasa (11/8), data sementara mencatat sebanyak 131 murid mengalami berbagai keluhan, seperti pusing, mual, sakit perut, hingga diare. Mereka berasal dari kelas X, XI, dan XII dengan sekitar 27 kelas terdampak.
Pada Selasa siang, sembilan murid sempat mendapatkan penanganan sementara di UKS MAN 2 Banyumas.
Sebagian murid lainnya tidak masuk sekolah atau pulang lebih awal karena mengalami keluhan kesehatan. Sebagian siswa juga sedang mengikuti kegiatan outing class ke Yogyakarta.
Data kemudian berkembang menjadi 136 murid terdampak berdasarkan pendataan pada Selasa malam. Pada Rabu (12/8), tercatat 62 murid belum masuk madrasah.
Ketika kejadian pertama kali muncul, penyebab keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan karena sampel makanan masih menjalani pemeriksaan laboratorium.
Dinas Kesehatan dan Puskesmas Purwokerto Timur I kemudian mengambil sampel makanan dari menu MBG.
Sampel porsi besar terdiri atas nasi putih, ayam dadu bumbu woku, oreg tempe, tumis pokcay jagung, dan anggur merah. Untuk sampel porsi kecil, turut diambil ayam dadu semur.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Banyumas, Sito Hatmoko, ketika kasus terjadi menyebut sedikitnya 101 anak mengeluhkan sakit perut dan diare. Data lengkap saat itu masih dalam proses rekapitulasi.
Sementara itu, pihak SPPG Mersi 2 pada awal kejadian juga belum dapat memastikan keterkaitan keluhan murid dengan makanan MBG karena penyelidikan masih berlangsung.
Sejumlah murid juga mengalami langsung keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Senin (10/8).
Salah satunya adalah Dina. Ia mengaku mengalami sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG.
Dina menghabiskan oreg tempe dan anggur merah, hanya memakan sebagian ayam dadu bumbu woku, serta tidak mengonsumsi tumis pokcay jagung.
Keluhan berlanjut hingga Selasa dengan diare yang dialaminya beberapa kali. Setelah kondisinya membaik, Dina mengaku masih merasa khawatir untuk kembali mengonsumsi MBG.
Murid lainnya, Mawwa, sempat tetap datang ke madrasah pada Selasa (11/8). Namun, sekitar pukul 09.00 WIB ia pulang lebih awal setelah mengalami sakit perut.
Mawwa sempat mendapat obat dari petugas UKS. Pada Rabu kondisinya telah membaik. Meski demikian, ia masih mempertimbangkan kembali untuk mengonsumsi MBG.
Kini, dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang telah diterima, penanganan kasus di MAN 2 Banyumas memasuki tahap evaluasi lebih lanjut.
Sampel ayam dadu bumbu woku menjadi satu-satunya dari lima menu yang diperiksa dan dinyatakan positif mengandung Bacillus cereus serta E. coli.
Di sisi lain, evaluasi SPPG Mersi 2 menemukan adanya pengambilan makanan lintas batch yang menjadi salah satu temuan dalam proses penanganan kasus.
Pihak madrasah, puskesmas, dinas kesehatan, dan SPPG selanjutnya memiliki dasar informasi yang lebih jelas untuk melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan MBG, termasuk aspek produksi, penyimpanan, distribusi, dan penempatan makanan sebelum dikonsumsi siswa. (yda/stch/dda)














