BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kondisi harga cabai di Banjarnegara mengalami penurunan drastis, menempatkan para petani dalam situasi yang memprihatinkan.
Penurunan harga ini memicu kerugian besar karena ongkos produksi yang tinggi tidak sebanding dengan pendapatan dari hasil panen.
Selama satu musim tanam, kerugian yang dialami para petani bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Saat ini, harga cabai merah keriting di tingkat petani hanya berada di kisaran Rp 15 ribu per kilogram (kg), jauh merosot dibandingkan beberapa bulan lalu yang sempat menyentuh harga Rp 70 ribu per kg.
Penurunan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya biaya produksi seperti benih, pupuk, hingga obat-obatan untuk tanaman.
Trio, seorang petani cabai dari Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, menjelaskan bahwa kondisi saat ini sudah berada di bawah titik impas.
Dia mengungkapkan bahwa untuk tidak mengalami kerugian, harga cabai setidaknya harus berada di atas Rp 30 ribu per kg.
“Harga sekarang cuma Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per kg. Padahal biaya pupuk dan obat mahal. Saya hitung-hitungan, rugi sampai Rp 30 juta musim ini,” ujarnya pada Selasa (20/1).
Selain harga yang terjun bebas, hasil panen juga mengalami penurunan. Trio menjelaskan bahwa produktivitas tanaman cabai saat ini tidak seperti musim-musim sebelumnya.
Jika biasanya satu pohon bisa menghasilkan lebih banyak panen, sekarang hanya sekitar dua hingga tiga ons per pohon akibat serangan penyakit seperti fusarium, daun keriting, dan bercak daun yang membuat tanaman cepat rusak.
Menurut Trio, salah satu faktor penyebab anjloknya harga cabai adalah panen serentak yang terjadi hampir di seluruh sentra cabai, sehingga pasokan melimpah sementara permintaan konsumen tetap stagnan.
Hal ini diamini oleh Anggota Komisi II DPRD Banjarnegara, Djarkasi. Ia menjelaskan bahwa hukum pasar sangat mempengaruhi ketika pasokan melimpah tanpa adanya pengaturan pola tanam dan distribusi yang baik.
“Ketika semua panen bersamaan, harga pasti jatuh. Beberapa waktu lalu harga cabai sempat Rp 70 ribu per kg, sekarang tinggal Rp 15 ribu. Ini pukulan berat bagi petani,” katanya.
Djarkasi menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan.
Ia mengatakan bahwa perlu ada langkah cepat seperti intervensi pasar dan penguatan penyerapan hasil panen serta evaluasi pola tanam agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Kalau tidak ada solusi konkret, petani bisa kehabisan modal untuk tanam berikutnya. Ini yang harus dicegah,” tambah Djarkasi.
Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya situasi ekonomi para petani terhadap fluktuasi harga komoditas pertanian dan perlunya kebijakan yang lebih solid untuk melindungi mereka dari dampak buruk tersebut. (jud/dda)
















