BANYUMASEKSPRES.ID, TEGAL – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, telah memicu banjir bandang di kawasan wisata pemandian air panas Pancuran 13 Guci.
Musibah yang terjadi pada Sabtu (20/12) sore ini membawa dampak signifikan, memaksa pengelola untuk menutup total area wisata demi keselamatan pengunjung.
Bencana ini berawal dari hujan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan Guci dan daerah hulu sejak siang hari.
Curah hujan yang tak kunjung reda menyebabkan debit air Sungai Gung meningkat drastis.
Pada pukul 17.51 WIB, aliran sungai berubah menjadi arus deras bercampur lumpur cokelat pekat, membawa material batu dan kayu dari wilayah atas.
Arus kuat ini kemudian meluap dan langsung menghantam area pemandian air panas Pancuran 13.
Visual dari video amatir warga yang menyebar luas di media sosial menunjukkan bagaimana aliran air dengan kecepatan tinggi menyapu jembatan penyeberangan kecil yang selama ini menjadi akses utama pengunjung menuju titik pancuran.
Dampak banjir bandang ini sangat signifikan, sejumlah fasilitas wisata mengalami kerusakan berat.
Kolam pemandian yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan tertutup material lumpur, pasir, dan bebatuan besar hingga nyaris menghilang dari pandangan karena tertimbun endapan banjir.
Selain Pancuran 13, luapan air juga merambah hingga ke area Pancuran 5 di kawasan wisata yang sama.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada fasilitas pemandian tetapi juga menghantam infrastruktur vital lainnya.
Pipa penyaluran air panas yang mengalirkan air ke sejumlah penginapan dan fasilitas pendukung wisata di kawasan Guci dilaporkan putus dan terseret arus sungai yang deras.
Kerusakan ini berpotensi mengganggu operasional wisata dalam waktu lama. Di tengah kondisi tersebut, pemandangan kontras terlihat di lokasi kejadian.
Tugu Guci berwarna kuning emas masih berdiri kokoh meski area sekelilingnya dipenuhi material sisa banjir bandang.
Keberadaan tugu tersebut menjadi saksi bisu dahsyatnya terjangan arus Sungai Gung sore itu.
Kapolsek Bojong, Kompol Khaerun menjelaskan bahwa banjir bandang di kawasan wisata Guci dipicu oleh kiriman air dari Sungai Sawangan yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes.
“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, situasi masih aman,” ujarnya pada Minggu (21/12).
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan akibat banjir bandang cukup parah.
Salah satu dampak terbesarnya adalah hilangnya pipa pancuran di Pancuran 13 Objek Wisata Guci yang terseret derasnya arus sungai.
Menanggapi kejadian ini, pihak kepolisian mengimbau masyarakat dan wisatawan agar meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Khaerun juga meminta pengunjung untuk tidak memaksakan diri beraktivitas di sekitar aliran sungai maupun kawasan rawan bencana demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Jam Zami, petugas di Pancuran 13 Objek Wisata Guci mengatakan bahwa banjir bandang mulai terjadi sejak sore hari setelah hujan lebat mengguyur kawasan sejak siang dan mencapai puncaknya sekitar pukul 15.00 WIB.
“Luapan air datang cukup deras sekitar pukul 15.00 WIB membawa lumpur batu dan kayu masuk ke area wisata,” kata Jam Zami.
Akibat banjir bandang itu sebuah jembatan kecil di Pancuran 13 dilaporkan hanyut terbawa arus.
Selain itu kolam pemandian sempat tertutup material banjir sehingga membahayakan jika tetap dibuka untuk pengunjung.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam siaran resminya membenarkan dampak banjir bandang tersebut terhadap kolam air panas di lokasi wisata.
BNPB menyebutkan bahwa material lumpur pasir dan batu menutup sebagian area wisata sehingga untuk keamanan kawasan tersebut ditutup sementara untuk umum.
Abdul Muhari Ph.D., Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan
“Pantauan visual di lapangan menunjukkan bahwa material lumpur pasir dan batu telah menutup sebagian area wisata.”
BNPB juga menyampaikan bahwa belum ada laporan korban jiwa dari pengunjung maupun warga akibat bencana ini meskipun demikian tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan kaji cepat serta penanganan darurat.
Masyarakat terutama yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Gung seperti wilayah Balapulang Dukuhwaru Adiwerna hingga kawasan Pantura diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan lebih lanjut mereka harus terus memantau perkembangan cuaca serta mengikuti arahan petugas guna mengantisipasi potensi bencana susulan. (*/dda)
















