Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Idgitaf Akui Sempat Minder Karena Menderita Mikrotia Sejak Lahir

Sempat Minder Menderita MikrotiaSempat Minder Menderita Mikrotia
Idgitaf

BANYUMASEKSPRES.ID, Penyanyi IDGITAF membagikan kisah pribadi mengenai kondisi mikrotia yang telah dialaminya sejak lahir.

Cerita tersebut disampaikan secara terbuka melalui unggahan video di akun TikTok pribadinya sebagai bentuk edukasi sekaligus untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kondisi bawaan yang memengaruhi bentuk telinga dan kemampuan pendengaran.

Pelantun lagu Takut itu mengungkapkan bahwa dirinya mengalami mikrotia pada telinga kiri, sehingga bentuk telinganya berbeda dibandingkan telinga kanan.

Selain memengaruhi penampilan fisik, kondisi tersebut juga berdampak pada kemampuan pendengarannya hingga sekarang.

Dalam video yang diunggahnya, IDGITAF menceritakan bahwa kondisi tersebut telah diketahui sejak proses kelahirannya.

Namun, pengalaman keluarganya saat menerima informasi dari tenaga kesehatan menjadi salah satu momen yang paling membekas.

Menurutnya, sang ibu menerima penyampaian yang kurang bijaksana mengenai kondisi tersebut sehingga menimbulkan tekanan emosional setelah proses persalinan.

“Jadi aku itu udah mikrotia dari kecil (lahir). Langsung ter-notice sama perawatnya. Dan dia tuh nggak banget ngasih taunya, sampai mamaku pendarahan. Jadi dia bilang ke mamaku gini, ‘Ibu anaknya cacat ya’,” ungkap IDGITAF.

Meski memiliki kondisi bawaan pada telinga kiri, IDGITAF tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari dan sukses berkarier sebagai penyanyi serta penulis lagu.

Ia memilih menceritakan pengalamannya sebagai bentuk penerimaan diri sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat yang mungkin belum mengenal mikrotia.

Apa Itu Mikrotia?

Mikrotia merupakan kelainan bawaan sejak lahir yang terjadi ketika daun telinga atau pinna tidak berkembang secara sempurna selama masa kehamilan.

Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu telinga maupun kedua telinga, meski kasus pada satu sisi lebih sering ditemukan.

Tingkat keparahan mikrotia berbeda pada setiap penderita. Pada beberapa orang, bentuk telinga hanya sedikit lebih kecil dari ukuran normal.

Namun pada kondisi yang lebih berat, daun telinga dapat berkembang sangat minimal bahkan tidak terbentuk sama sekali.

Selain memengaruhi bentuk telinga luar, mikrotia juga dapat disertai gangguan pada saluran telinga maupun struktur pendengaran sehingga berdampak terhadap kemampuan mendengar.

Mikrotia Memiliki Empat Tingkatan

Dalam penjelasannya, IDGITAF juga menerangkan bahwa mikrotia dibagi menjadi empat tingkat atau grade, tergantung tingkat perkembangan daun telinga.

  • Grade 1 ditandai dengan ukuran telinga yang lebih kecil dari normal, tetapi sebagian besar struktur telinga masih terbentuk.
  • Grade 2 menunjukkan perkembangan telinga yang lebih terbatas dengan bentuk yang belum sempurna.
  • Grade 3 merupakan kondisi ketika telinga luar hanya terbentuk sebagian kecil sehingga bentuknya sangat berbeda dari telinga normal.
  • Grade 4, atau dikenal sebagai anotia, terjadi ketika daun telinga sama sekali tidak terbentuk.

IDGITAF mengungkapkan bahwa dirinya mengalami mikrotia grade 2, sehingga kemampuan mendengar pada telinga kirinya jauh lebih rendah dibandingkan telinga kanan.

“Mikrotia itu ada 4 grade, aku itu grade 2. Kalau ditanya bisa denger atau nggak, bisa tapi jomplang banget. Yang ini (kanan) 100 persen, yang ini (kiri) 40 persen,” katanya.

Mikrotia tidak selalu menyebabkan tingkat gangguan pendengaran yang sama pada setiap orang.

Sebagian penderita masih memiliki kemampuan mendengar yang cukup baik, sedangkan lainnya mengalami penurunan pendengaran yang lebih signifikan akibat gangguan pada saluran telinga maupun struktur telinga tengah.

Karena itu, penanganan mikrotia umumnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pemeriksaan oleh dokter spesialis THT dan evaluasi pendengaran menjadi langkah penting untuk mengetahui tingkat gangguan yang dialami serta menentukan penanganan yang tepat.

Melalui kisah yang dibagikannya, IDGITAF berharap masyarakat dapat lebih memahami bahwa mikrotia merupakan kondisi bawaan yang tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi dan berkarya.

Pengalamannya juga menjadi pengingat pentingnya memberikan dukungan, empati, serta menghindari stigma terhadap penyandang kelainan bawaan sejak lahir.

Keterbukaan IDGITAF mendapat perhatian luas dari warganet. Banyak yang mengapresiasi keberaniannya berbagi pengalaman sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai mikrotia.

Kisah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, terlepas dari kondisi fisik yang dimilikinya. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Populasi Burung Pulih Melalui Konservasi SDA

Perdes Konservasi Desa Banjarmangu Berhasil Lindungi Burung dan Jaga Kelestarian Lingkungan

Berita Selanjutnya
Guru PAI Didorong Menjadi Great Teacher

Kemenag Cilacap Dorong Guru PAI Menjadi Great Teacher di Era Digital