BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino Godzilla mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Petani cabai menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampak kekeringan karena tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh dan menghasilkan buah secara optimal.
Di sejumlah lahan pertanian, tanaman cabai dilaporkan mengering hingga sekitar 30 persen. Bahkan, pada lahan tertentu, tingkat kerusakan tanaman disebut jauh lebih tinggi.
Kondisi tersebut terjadi akibat minimnya pasokan air selama musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.
Salah satu wilayah yang terdampak berada di areal pertanian cabai di lereng Gunung Sumbing, Desa Tlogomulyo, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung.
Petani setempat memperkirakan sekitar 50 persen tanaman cabai mati akibat kekurangan air.
Kondisi tersebut tidak hanya mengancam tanaman yang sudah ditanam, tetapi juga berdampak langsung terhadap hasil panen dan pendapatan petani.
Petani cabai asal Desa Tlogomulyo, Wahyu Ardianto (30), mengatakan penurunan produksi sudah dirasakan dalam sekitar dua bulan terakhir.
Menurutnya, tanaman cabai yang masih mampu bertahan hidup pun tidak dapat menghasilkan buah secara maksimal.
Kekurangan air membuat kondisi buah tidak sebaik ketika tanaman memperoleh pasokan air yang cukup.
“Kalau dampak kekeringan kebanyakan mati karena kekurangan air. Hasil panennya menurun. Tanaman yang kekurangan air buahnya kurang segar, agak kering, sehingga bobotnya berkurang,” kata Wahyu.
Penurunan hasil tersebut cukup signifikan jika dibandingkan dengan kondisi normal.
Untuk lahan seluas seperempat hektare, petani biasanya mampu memperoleh hasil hingga satu kuintal cabai dalam kondisi pertumbuhan yang baik.
Namun, akibat kekeringan, hasil panen kini hanya berkisar 20–30 kilogram.
Artinya, produktivitas lahan mengalami penurunan cukup tajam. Tanaman yang masih hidup juga tidak sepenuhnya mampu memberikan hasil yang sama seperti sebelum terjadi kekeringan.
Menurunnya hasil panen menjadi persoalan bagi petani karena tingginya harga cabai di tingkat petani belum tentu membuat pendapatan meningkat.
Saat ini harga cabai di tingkat petani disebut berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram.
Namun, petani tetap menghadapi tekanan akibat berkurangnya volume produksi sekaligus meningkatnya biaya perawatan tanaman.
Salah satu biaya tambahan yang harus dikeluarkan adalah untuk penyiraman.
Petani harus mencari sumber air dan mengeluarkan biaya bahan bakar untuk mengangkut atau memompa air ke lahan.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat ketika hasil panen justru menurun.
“Sudah disiram, tapi kalau dihitung-hitung tetap rugi karena membutuhkan biaya bensin dan biaya lainnya,” ungkap Wahyu.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga cabai di tingkat petani tidak otomatis meningkatkan keuntungan.
Ketika produktivitas turun drastis dan biaya penyiraman meningkat, margin pendapatan petani tetap tertekan.
Menghadapi kondisi tersebut, Wahyu berharap pemerintah dapat membantu menyediakan sumber air bagi lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Salah satu solusi yang diharapkan petani adalah pembangunan sumur bor di wilayah pertanian.
Ketersediaan sumber air dinilai penting agar petani tetap dapat melakukan penyiraman ketika hujan belum turun.
Dengan adanya sumber air yang lebih dekat dengan lahan, petani diharapkan tidak terlalu terbebani biaya bahan bakar maupun biaya lain untuk mendapatkan air.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering dan panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Joko Budi Nuryanto, mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu petani menghadapi kondisi kekeringan.
Menurut Joko, kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.
Karena itu, pemerintah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Salah satunya melalui penyiagaan brigade pompa.
Pemerintah menyiapkan 10 unit pompa di setiap Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).
Selain itu, jaringan irigasi yang tersedia juga diperiksa untuk memastikan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Langkah tersebut diharapkan membantu petani mempertahankan tanaman yang masih dapat diselamatkan di tengah kondisi kemarau.
Joko mengakui kondisi cuaca dan kekeringan akan berdampak terhadap produksi pertanian. Penurunan produksi cabai diperkirakan tidak dapat sepenuhnya dihindari.
“Secara produksi memang akan ada sedikit penurunan, itu pasti. Tetapi secara pasar masih dalam kondisi aman. Luasan kami masih mencukupi untuk kebutuhan di Kabupaten Temanggung,” ujar Joko.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun petani menghadapi penurunan produktivitas di sejumlah wilayah, pemerintah daerah masih melihat ketersediaan komoditas cabai untuk kebutuhan Kabupaten Temanggung dalam kondisi relatif aman.
Meski demikian, dampak kekeringan tetap menjadi perhatian karena apabila berlangsung lebih lama, kerusakan tanaman berpotensi semakin meluas.
Bagi petani seperti Wahyu, ketersediaan air menjadi faktor utama untuk mempertahankan tanaman cabai yang masih hidup.
Tanpa sumber air yang memadai, tanaman berisiko terus mengering dan hasil panen semakin berkurang.
Kondisi di Desa Tlogomulyo menjadi gambaran bagaimana kemarau panjang memberikan tekanan terhadap petani hortikultura.
Tanaman yang sebelumnya produktif kini harus bertahan dalam kondisi minim air, sementara petani tetap harus mengeluarkan biaya untuk perawatan dan penyiraman.
Dengan penyiagaan brigade pompa serta pengecekan jaringan irigasi, pemerintah berharap dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dapat ditekan.
Namun, petani masih membutuhkan dukungan sumber air yang berkelanjutan agar produksi cabai tetap dapat dipertahankan hingga musim hujan kembali tiba. (*/stch/dda)
















