Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kesenian Wayang Cumplung Banyumas Digelar Awal September di FIB Unsoed

Wayang cumplungWayang cumplung
Wayang Cumplung Banyumasan

BANYUMASEKSPRES.ID, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (FIB Unsoed) akan menyelenggarakan pertunjukan Wayang Cumplung Banyumas pada awal September 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menguri-uri dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya Banyumasan kepada generasi muda.

Pada Rabu, 3 September 2025, pertunjukan digelar di Aula Bambang Lelono, FIB Unsoed, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Acara tersebut menghadirkan Titut Edi Purwanto, budayawan Banyumasan, sebagai narasumber utama yang memandu jalannya pertunjukan.

Penampilan Wayang Cumplung dipersepsi unik karena menghadirkan sindiran-sindiran satir yang khas, menyuguhkan humor, kritik sosial, serta pesan moral dalam balutan tradisi. Seperti disebutkan dalam akun resmi FIB Unsoed, pertunjukan ini adalah “seni pertunjukan yang beda, satir, dan penuh sindiran cerdas!”.

Wayang Cumplung adalah salah satu bentuk kesenian tradisional Banyumas yang lahir dari masyarakat pedesaan sebagai sarana hiburan rakyat sekaligus kritik sosial. Dalam perkembangannya, kesenian ini menjadi media penyampaian aspirasi melalui humor, bahasa sederhana, dan simbol-simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pertunjukan Wayang Cumplung Banyumas yang digelar Rabu, 3 September 2025, di Auditorium FIB Unsoed mengambil tema pusat soal kritik sosial dalam balutan humor tradisional. Kegiatan ini diinisiasi dalam rangka menghadirkan kembali daya tarik seni budaya lokal dan memperkuat kecintaan pada warisan Banyumasan.

Berdasarkan informasi dari Fakultas Ilmu Budaya Unsoed, pertunjukan dilaksanakan di Aula Bambang Lelono mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, dengan menghadirkan Budayawan Titut Edi Purwanto sebagai narasumber utama yang melestarikan dan menjelaskan makna Wayang Cumplung secara mendalam.

Menurut pihak fakultas, pemilihan waktu dan tempat ini disesuaikan dengan momentum awal semester baru agar mahasiswa bisa langsung bersentuhan dengan budaya lokal. Sebagai bentuk pelestarian budaya yang interaktif, Wayang Cumplung menyampaikan pesan moral dan kritik sosial secara cerdas lewat dialog jenaka dan sindiran halus.

“Seni pertunjukan yang beda, satir, dan penuh sindiran cerdas!” demikian deskripsi resmi yang dipajang di kanal komunikasi FIB Unsoed.

Hal ini menegaskan bahwa pertunjukan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan karakter melalui budaya.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi langkah strategis. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga akan diberi kesempatan berdialog dengan budayawan mengenai filosofi, simbol, dan peran Wayang Cumplung dalam masyarakat Banyumas.

Dengan begitu, generasi muda dapat memahami budaya lokal secara lebih mendalam, bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari makna sosial yang terkandung di dalamnya.

Pertunjukan ini juga dipandang sebagai bagian integral dari program penguatan kampus mengenai cinta budaya lokal, yang sejalan dengan visi FIB Unsoed untuk menjadi pusat pelestarian budaya Jawa Tengah bagian barat.

Hadirnya budayawan Titut Edi Purwanto dalam pertunjukan ini akan semakin menambah kekuatan pesan yang disampaikan. Dengan pengalaman panjang dalam seni tradisi Banyumas, ia mampu menjembatani antara nilai-nilai lokal dengan cara penyampaian yang mudah dipahami generasi milenial dan Gen Z.

Melalui pagelaran ini, FIB Unsoed berharap bahwa Wayang Cumplung tidak sekadar menjadi tontonan sekali, tetapi juga dicatat sebagai bagian hidup budaya yang terus diwariskan dan dikembangkan.

Fakultas juga membuka peluang kolaborasi dengan komunitas seni di Banyumas untuk menggelar pertunjukan serupa di ruang publik yang lebih luas, sehingga masyarakat umum bisa lebih akrab dengan kesenian ini.

Dengan demikian, event seni ini bukan semata menampilkan pagelaran wayang, melainkan juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga dan merawat tradisi sebagai identitas budaya yang hidup.

Dukungan terhadap kesenian lokal, seperti Wayang Cumplung, menjadi sinyal positif bahwa kampus FIB Unsoed serius memperkuat akar budaya dan mendekatkannya kepada generasi masa depan yang lebih kritis dan peduli. (sgsa)

Berita Sebelumnya
Saldo dana bisa didapatkan melalui aplikasi penghasil uang pluto

Saldo DANA Masuk ke Dompet Digital Lewat Aplikasi Penghasil Uang Pluto

Berita Selanjutnya
Astra motor yogyakarta ajak anak muda jogja rave up

Astra Motor Yogyakarta Ajak Anak Muda Jogja Rave-Up