Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Layanan Kurang Maksimal, SMK Ma’arif NU 1 Sumpiuh Putus Langganan TPST

Putus langganan tpst, pelayanan tak maksimalPutus langganan tpst, pelayanan tak maksimal

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – SMK Ma’arif NU 1 Sumpiuh mengambil keputusan untuk memutus langganan dari Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) lantaran layanan yang diterima dinilai tidak maksimal. Keputusan ini diambil sebagai bentuk kekecewaan terhadap jadwal pengambilan sampah yang tidak menentu dan kurang konsisten, sehingga menimbulkan penumpukan limbah di area sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana (Waka Sarpras) SMK Ma’arif NU 1 Sumpiuh, Ahmad Mufasil, menyampaikan bahwa meskipun sekolah telah rutin membayar iuran bulanan kepada TPST, kenyataannya sampah sekolah sering kali tidak diambil tepat waktu.

Hal ini menimbulkan sejumlah permasalahan, terutama bau tak sedap yang mencemari lingkungan belajar, serta potensi gangguan kesehatan akibat limbah yang menumpuk.

Setiap harinya, sekolah menghasilkan sekitar empat tempat sampah ukuran sedang, sebagian besar berupa sampah anorganik seperti plastik bekas jajanan siswa.

Karena jenis sampah ini sulit didaur ulang secara konvensional, pihak sekolah merasa perlu mengambil langkah cepat dan tepat untuk menghindari dampak lingkungan yang lebih besar. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk mencari solusi internal agar bisa mengelola sampah secara mandiri tanpa bergantung pada layanan TPST yang selama ini tidak optimal.

Langkah konkret yang diambil oleh sekolah adalah mengoperasikan mesin green-vortex incinerator, sebuah alat pembakar sampah modern yang dirancang khusus untuk mengolah sampah anorganik dengan aman dan efisien.

Mesin ini dilengkapi dengan sistem filter penyaring asap sehingga proses pembakaran tidak menimbulkan partikel berbahaya yang mencemari udara. Inovasi ini menjadi solusi cerdas dan ramah lingkungan yang diharapkan bisa menjadi model pengelolaan sampah sekolah di daerah lain.

“Karena telah melalui filter, asap hasil pembakaran tidak mengeluarkan partikel. Kami sudah melakukan uji coba dan hasilnya memuaskan,” jelas Ahmad Mufasil saat ditemui pada Jumat, 9 Mei 2025.

Keputusan untuk mandiri dalam pengelolaan sampah ini tidak diambil secara sembarangan. Pihak sekolah telah melakukan analisis serta koordinasi internal guna memastikan keberlanjutan operasional mesin pembakar dan ketersediaan tenaga kerja untuk pengoperasiannya.

Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian dari program edukasi lingkungan kepada siswa, agar mereka lebih sadar akan pentingnya memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.

Meskipun memutus langganan dari TPST berarti mengambil beban pengelolaan secara penuh, pihak sekolah menilai bahwa langkah ini lebih efektif dan efisien dalam jangka panjang.

Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap sistem pengelolaan sampah eksternal yang tidak bisa diandalkan, tetapi juga membentuk kultur baru di lingkungan sekolah dalam hal tanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan.

Penggunaan green vortex incinerator oleh SMK Ma’arif NU 1 Sumpiuh menjadi sinyal kuat bahwa institusi pendidikan bisa menjadi pelopor dalam menghadapi krisis pengelolaan sampah.

Dengan langkah ini, sekolah tidak hanya menyelesaikan persoalan internalnya, tapi juga turut menyumbang solusi terhadap masalah lingkungan yang lebih luas di Banyumas.

Kasus ini diharapkan dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain, terutama yang menghadapi tantangan serupa dalam layanan TPST. Dengan kombinasi teknologi, kesadaran lingkungan, dan semangat kemandirian, masalah pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan dapat dicarikan solusi nyata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (fij/*stch)

Berita Sebelumnya
Tiga bandara berstatus internasional lagi

Tiga Bandara Kembali Sandang Status Internasional, Dorong Ekonomi dan Pariwisata Nasional

Berita Selanjutnya
Kurikulum ai dan coding diterapkan 2025

Kurikulum AI dan Coding Mulai Diterapkan Tahun 2025, Diajarkan Mulai Kelas 5 SD