BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Aktivitas ekonomi di Pasar Wage Purwokerto tetap bergeliat meskipun menghadapi fluktuasi harga bahan pokok menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Menariknya, di tengah tren kenaikan harga yang biasanya terjadi pada periode ini, harga cabai justru menunjukkan penurunan.
Marsini (66), seorang pedagang cabai di Pasar Wage, mengungkapkan bahwa penurunan paling signifikan terjadi pada cabai rawit. Harga cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp100 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp80 ribu per kilogram.
“Sekarang cabai rawit Rp80 ribu per kilo. Sebelumnya sempat sampai Rp100 ribu. Biasanya mau tahun baru itu naik,” jelas Marsini kepada awak media pada Kamis (18/12).
Tidak hanya cabai rawit, harga cabai merah juga mengalami penurunan dan saat ini dibanderol sekitar Rp70 ribu per kilogram.
Namun, berbeda dengan cabai, bawang merah justru mengalami kenaikan harga dan saat ini dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Sementara itu, harga bumbu dapur lainnya relatif stabil tanpa perubahan signifikan.
Fenomena ini memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen yang menghadapi peningkatan kebutuhan rumah tangga menjelang akhir tahun. Konsumen dapat bernapas lega karena beban belanja mereka tidak terlalu tertekan oleh melonjaknya harga bahan pokok tertentu.
Namun demikian, cerita berbeda datang dari sektor daging ayam. Harga ayam potong dilaporkan mengalami kenaikan selama dua pekan terakhir.
Fatur (28), seorang pedagang ayam di pasar tersebut, menyebut bahwa harga ayam saat ini berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram, naik dari harga normal yang biasanya berada di angka Rp35 ribu per kilogram.
“Harga ayam sudah naik sekitar dua minggu terakhir. Biasanya normal di Rp35 ribu per kilo,” ujarnya.
Fatur menjelaskan bahwa kenaikan harga ayam dipicu oleh terbatasnya pasokan akibat tingginya permintaan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Nataru.
“Program MBG memang berpengaruh ke harga, ditambah mendekati Nataru. Tapi penjualan masih normal karena pembeli kebanyakan pelanggan tetap,” tambah Fatur.
Kenaikan harga juga terjadi pada telur ayam. Supriyanto, seorang pedagang telur ayam, mengungkapkan bahwa saat ini telur ayam dijual dengan harga Rp40 ribu per peti, naik dari sebelumnya Rp38 ribu per peti.
“Kenaikan karena faktor MBG dan Nataru,” jelas Supriyanto.
Meski ada kenaikan harga, Supriyanto menilai dampak terhadap volume penjualan harian tidak terlalu signifikan.
“Rata-rata masih sama, sekitar 10 peti atau 100 kilogram per hari. Hanya saja kalau harga naik, memang agak lebih lama habisnya,” katanya menambahkan.
Di tengah dinamika pasar yang kompleks ini, aktivitas jual beli di Pasar Wage Purwokerto tetap terjaga dan mencerminkan ketahanan ekonomi lokal menghadapi tantangan tahunan seperti fluktuasi harga menjelang liburan besar. (zet/fam)
















