BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Sebuah perkembangan penting terjadi di wilayah Banyumas terkait penyediaan layanan gizi melalui Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
Dari total 64 lokasi yang beroperasi, hanya satu dapur di daerah Kalibagor yang berhasil mendapatkan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
Sertifikasi ini menandakan bahwa dapur tersebut memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang ketat.
Sri Haryati, seorang sanitarian dari Dinas Kesehatan Banyumas, menyatakan bahwa jumlah SPPG di Banyumas terus mengalami peningkatan sejalan dengan pembukaan dapur-dapur baru untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Namun demikian, tidak semua dapur memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikasi tersebut.
“Yang mengantongi SLHS baru satu di Kalibagor,” ungkap Sri pada Rabu (1/10).
Proses untuk memperoleh sertifikat ini tidaklah sederhana. Sri menjelaskan bahwa terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengelola dapur sebelum SLHS dapat diterbitkan.
“Ada prosedur yang harus dilewati. Semua sedang berproses. Yang berproses pemenuhan persyaratan sementara sepuluh,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sri mengungkapkan bahwa beberapa lokasi seperti SPPG Karanglewas Kidul dan Sudagaran sedang dalam tahap pengurusan SLHS. Proses ini dipantau langsung oleh kepala pengelola masing-masing lokasi.
Menariknya, Dinkes Banyumas tidak secara aktif mendata kemajuan setiap dapur, melainkan hanya melakukan pemantauan terhadap proses yang berlangsung.
“Yang mendata dari Korwil Badan Gizi Nasional (BGN),” tutup Sri.
Peran Dinas Kesehatan dalam memantau dan memastikan keamanan pangan sangatlah krusial dalam situasi seperti ini. Dengan bertambahnya jumlah SPPG, tantangan untuk menjaga standar kebersihan dan keamanan pangan juga semakin besar.
Setiap langkah dalam proses sertifikasi memerlukan perhatian khusus agar hasil akhirnya dapat menjamin kesehatan masyarakat yang menjadi konsumen akhir dari layanan gizi tersebut.
Masyarakat juga perlu menyadari pentingnya sertifikasi hygiene dan sanitasi sebagai penjamin kualitas makanan yang mereka konsumsi.
Dengan adanya sertifikasi ini, masyarakat dapat lebih yakin bahwa layanan gizi yang mereka terima telah melalui berbagai uji kelayakan dan kontrol kualitas yang ketat.
Dari sisi lain, proses mendapatkan SLHS memiliki dampak positif bagi para pengelola dapur itu sendiri. Dengan mengikuti prosedur ketat untuk mendapatkan sertifikasi, mereka didorong untuk meningkatkan standar operasionalnya.
Banyumas Ekspres mencatat bahwa peran Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) dalam mendata dan memantau perkembangan ini sangat esensial.
Koordinasi antara berbagai pihak mulai dari pengelola dapur hingga otoritas kesehatan menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai standar yang diinginkan.
Memperoleh SLHS bukan hanya soal memenuhi persyaratan administratif tetapi juga tentang komitmen jangka panjang terhadap kesehatan publik.
Setiap langkah dalam proses ini adalah investasi bagi masa depan—bukan hanya bagi pelaku usaha namun juga bagi konsumen serta komunitas luas di sekitar mereka.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya standar higiene dan sanitasi, harapannya adalah semakin banyak lokasi SPPG yang dapat meraih sertifikasi ini ke depannya.
Ini tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap layanan gizi tetapi juga memberikan dorongan moral bagi mereka yang terlibat dalam upaya pemenuhan standar tersebut.
Semua pihak memiliki peran masing-masing dalam memastikan bahwa pelayanan makanan di Banyumas terus berkembang menuju arah yang lebih baik dan aman bagi masyarakat luas.
Melalui kolaborasi dan dialog terbuka antara pemerintah daerah, pelaku usaha serta organisasi terkait lainnya, tantangan-tantangan yang ada dapat diatasi dengan solusi inovatif serta pendekatan berbasis data yang tepat sasaran. (yda/dda)
















