BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dalam keheningan pagi yang cerah di Desa Banjarwaru, Kecamatan Nusawungu, tampak sekelompok perangkat desa mengenakan pakaian adat Jawa.
Dengan langkah perlahan dan penuh hormat, mereka bergerak menuju makam leluhur. Tidak ada suara gaduh yang terdengar, hanya derap langkah kaki yang menyatu dengan suasana khidmat.
Hari itu bukanlah hari biasa; mereka sedang memulai sebuah tradisi sakral bernama Memetri Bumi.
Tradisi ini jauh dari sekadar kunjungan rutin atau agenda tahunan tanpa arti. Setiap doa yang dilantunkan dan bunga yang ditebar mengandung niat luhur untuk mengenang dan menghormati pendahulu yang telah membuka jalan bagi kemajuan Banjarwaru.
Dipimpin oleh Kepala Desa, rombongan mengunjungi empat situs makam penting dalam sejarah dan spiritualitas desa tersebut.
Salah satu situs tersebut adalah makam Eyang Banjarsari di wilayah Pesuruhan.
Selain itu, tiga makam lainnya adalah Eyang Tanjungsari, Eyang Naya Krama, dan Eyang Lurah Pertama Banjarwaru Wangsa Thirta, Somayasa, serta Mbah Putu.
Tokoh-tokoh ini dianggap berperan besar dalam perjuangan dan perkembangan Banjarwaru.
“Tujuannya agar masyarakat tidak melupakan para leluhur yang telah memperjuangkan desa Banjarwaru menjadi seperti sekarang.
Ini juga dalam rangka menjaga tradisi agar nilai-nilai budaya Banjarwaru masih tetap terjaga,” jelas Kuat Santoso, seorang sesepuh desa dengan nada penuh makna.
Ziarah ini menandai pembukaan rangkaian acara adat selama empat hari menjelang datangnya Bulan Suro atau Muharram.
Selama empat hari tersebut, warga desa terlibat dalam refleksi mendalam, penghayatan budaya, dan kebersamaan.
Setiap ritual Memetri Bumi menyatukan hati warga Banjarwaru dengan alam dan sejarah mereka.
Doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, makam dibersihkan untuk menunjukkan rasa hormat, dan bumi diberi makanan simbolis sebagai tanda syukur atas kehidupan yang terus mengalir dari tanah leluhur.
Acara-acara selanjutnya termasuk penyembelihan kerbau sebagai lambang pengorbanan.
Selain itu ada juga ritual Resik Punden Nyi Larik, pertunjukan seni tradisional seperti lengger dan ketoprak, serta arak-arakan gunungan makanan yang melambangkan kelimpahan hasil bumi.
Seluruh rangkaian ditutup dengan kenduri besar dan pagelaran wayang kulit.
Kedua acara ini menjadi simbol bahwa cerita serta nilai-nilai nenek moyang tidak akan pernah hilang dari ingatan kolektif masyarakat.
“Selama kita ingat dengan leluhur, maka selama itu pula kami masyarakat Banjarwaru akan selalu ingat untuk menjaga bumi tempat mereka berpijak dan menerima penghidupan,” ungkap Kuat Santoso lagi dengan tegas.
Bagi warga Banjarwaru, Memetri Bumi lebih dari sekadar tradisi; ini adalah refleksi jati diri mereka sebagai masyarakat yang hidup dengan akar sejarah dan budaya kuat.
Menjaga ritual ini berarti menjaga identitas mereka sendiri.
“Dengan tradisi ini, kita diingatkan bahwa pembangunan di masa depan harus tetap selaras dengan budaya dan spiritualitas. Sejarah desa harus tetap berdampingan dengan modernitas,” lanjut Kuat Santoso sembari menatap masa depan desanya.
Banjarwaru menyadari bahwa jejak masa lalu harus menjadi penuntun menuju masa depan. Sebagaimana pepatah lama mengatakan bahwa mereka yang melupakan sejarah akan kehilangan arah tujuan hidupnya.
Di desa kecil ini—yang teguh menjaga tradisinya—sejarah tetap hidup dalam doa-doa harian, dalam setiap ritual adatnya hingga di sanubari tiap warganya.
“Ini untuk masyarakat desa Banjarwaru khususnya,” tambah Kuat dengan penuh harap.
“Kita punya budaya serta leluhur yang harus tetap dihormati sehingga akar sejarah jangan sampai hilang ditelan zaman.” imbuhnya.
Dengan komitmen kuat untuk melestarikan warisan budaya leluhur mereka melalui acara Memetri Bumi inilah warga Desa Banjarwaru bertekad memberi arah bagi generasi mendatang agar tidak tersesat dalam arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri asli mereka. (jul/stch)
















