BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Momen wisuda siswa SMK Citra Bangsa Mandiri (CBM) Purwokerto menjadi perbincangan hangat di media sosial usai video prosesi kelulusan mereka viral di akun Instagram populer, @lambe_turah.
Dalam tayangan tersebut, terlihat pihak sekolah menggunakan atribut wisuda lengkap, termasuk toga dan gordon ala perguruan tinggi, sehingga memicu pro dan kontra di kalangan warganet.
Prosesi kelulusan siswa SMK CBM ini dinilai terlalu menyerupai wisuda kampus, karena kepala sekolah mengenakan atribut seperti rektor saat memimpin jalannya acara.
Tentu saja, tampilan formal tersebut menimbulkan berbagai tanggapan, mulai dari yang mengapresiasi hingga mempertanyakan relevansi dan kesesuaian dengan jenjang pendidikan menengah.
Menanggapi reaksi publik, Kepala SMK CBM, Prisillia Mutiara Sari, memberikan klarifikasi bahwa konsep wisuda seperti itu bukan hal baru.
Ia menyebut tradisi tersebut telah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 2013 sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan siswa, guru, dan orang tua.
“Atribut yang kami gunakan, termasuk gordon, merupakan simbol sekolah, bukan meniru perguruan tinggi,” jelas Prisillia.
Menurutnya, konsep wisuda tersebut telah disosialisasikan sejak awal siswa masuk sekolah. Bahkan, lanjut dia, tidak ada penolakan dari para siswa maupun wali murid mengenai penyelenggaraan prosesi kelulusan yang bersifat formal tersebut.
“Perpisahan setiap tahun konsepnya berbeda. Sekolah hanya memfasilitasi,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan wisuda, siswa dikenakan biaya sebesar Rp600 ribu. Biaya tersebut sudah mencakup seluruh kebutuhan acara, mulai dari perpisahan hingga penyewaan atribut kelulusan.
Prisillia menyebutkan bahwa konsep seperti ini justru menjadi daya tarik bagi sebagian calon siswa dan orang tua dalam memilih sekolah mereka.
Kendati demikian, pihak sekolah tetap menanggapi sorotan publik secara terbuka. Ia menyatakan bahwa kritik dan saran dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan, terutama agar acara kelulusan tetap berkesan namun tidak menimbulkan kontroversi.

“Kritik dan saran akan kami jadikan bahan evaluasi agar lebih baik lagi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prisillia memastikan bahwa konsep kelulusan tahun depan akan disederhanakan. Sekolah akan menyusun acara yang tetap memiliki nilai apresiatif, namun tidak lagi menimbulkan kesan berlebihan atau menyerupai prosesi akademik di perguruan tinggi.
Sementara itu, dari sisi regulasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah turut memberikan tanggapan.
Melalui Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X, Agus Susilo, dijelaskan bahwa saat ini sudah ada edaran resmi dari pemerintah yang mengatur pelaksanaan kelulusan.
“Kami tetap memberikan himbauan agar konsep kelulusan dibuat sesederhana mungkin,” ujar Agus.
Ia menambahkan, untuk sekolah negeri tidak diperkenankan menggelar prosesi seremonial wisuda, sedangkan untuk sekolah swasta, kebijakan tersebut dikembalikan kepada yayasan dan keputusan orang tua siswa.
Hal ini bertujuan untuk menekan biaya pendidikan yang kadang menjadi beban tambahan bagi wali murid.
Saat ini di Kabupaten Banyumas sendiri terdapat 10 SMK negeri dan 69 SMK swasta, yang masing-masing memiliki otonomi dalam menentukan konsep acara perpisahan siswa, namun tetap dalam koridor aturan yang telah ditetapkan dinas pendidikan setempat.
Fenomena wisuda sekolah menengah yang menyerupai prosesi akademik tingkat tinggi memang kerap menimbulkan perdebatan. Di satu sisi, hal itu dianggap sebagai bentuk penghargaan atas capaian siswa, namun di sisi lain dianggap kurang tepat bila ditampilkan secara berlebihan.
Dengan adanya contoh dari viralnya wisuda SMK CBM Purwokerto, diharapkan model kelulusan ke depan bisa lebih mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan tanpa mengurangi esensi penghargaan bagi siswa. (res/*stch)
















