Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

200 Zona di Indonesia Resmi Masuk ke Musim Kemarau Ungkap BMKG

Sejumlah Zona Wilayah Di Indonesia Resmi Masuk Ke Musim KemarauSejumlah Zona Wilayah Di Indonesia Resmi Masuk Ke Musim Kemarau

BANYUMASEKSPRES.ID, Musim kemarau 2026 sempat menjadi perhatian di berbagai daerah setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan semakin luasnya wilayah Indonesia yang memasuki periode kering.

Pada pertengahan 2026, lembaga tersebut mencatat sekitar 200 Zona Musim (ZOM) atau hampir 30 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau.

Data tersebut menunjukkan jalannya perubahan pola cuaca berlangsung secara bertahap, mulai dari wilayah barat hingga kawasan timur Indonesia.

BMKG Mencatat Kemarau Meluas ke Berbagai Daerah

Dalam laporan yang dipublikasikan BMKG pada awal Juni 2026, sebanyak 200 Zona Musim telah memasuki musim kemarau.

Angka tersebut setara dengan sekitar 28,6 persen dari seluruh wilayah yang dipantau melalui sistem Zona Musim (ZOM). Zona Musim merupakan pembagian wilayah berdasarkan kesamaan pola curah hujan sepanjang tahun.

Ketika sebuah wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau, artinya curah hujan mulai mengalami penurunan secara konsisten sesuai indikator yang digunakan BMKG.

Musim Kemarau di Indonesia

Walaupun cakupan musim kemarau terus bertambah pada saat itu, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam masa peralihan.

Karena itu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih sempat terjadi di sejumlah daerah meskipun kecenderungan cuaca kering mulai mendominasi.

Daftar Wilayah yang Sudah Memasuki Musim Kemarau

Sebaran musim kemarau ketika itu tidak hanya terjadi di satu kawasan, melainkan telah meluas ke berbagai pulau besar di Indonesia.

Di Pulau Sumatera, musim kemarau tercatat mulai terjadi di sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, serta Kepulauan Riau.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan barat Indonesia mulai mengalami penurunan intensitas hujan secara bertahap.

Sementara itu, di Pulau Jawa, wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi bagian utara Banten, sebagian Jakarta, kawasan utara Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, serta beberapa wilayah di Jawa Timur.

Pulau Bali juga termasuk daerah yang mulai mengalami kondisi cuaca lebih kering. Dengan cuaca yang mulai menduduki ke musim kemarau memberikan sejumlah dampak dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk kawasan Nusa Tenggara, sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah lebih dahulu memasuki musim kemarau.

Di Sulawesi, kondisi serupa terjadi di sebagian Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Sementara di kawasan timur Indonesia, sebagian wilayah Maluku serta Papua Selatan juga mulai mengalami periode kemarau berdasarkan pemantauan BMKG.

NTB dan NTT Menjadi Kawasan dengan Kemarau Terluas

Dari seluruh wilayah yang dipantau, Nusa Tenggara menjadi daerah dengan cakupan musim kemarau paling luas. Selain itu, inilah informasi lain atas hak pelanggan PLN yang dapat meminta ganti rugi atas pemadaman listrik.

Sebagian besar wilayah NTB dan NTT telah mengalami cuaca kering yang lebih stabil dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Kondisi tersebut memang sesuai dengan karakteristik iklim di kawasan Nusa Tenggara yang umumnya lebih cepat memasuki musim kemarau setiap tahunnya.

Saat wilayah lain masih berada pada masa transisi, daerah ini sudah didominasi cuaca cerah dengan intensitas hujan yang jauh berkurang.

Dampak Musim Kemarau bagi Masyarakat

Meluasnya musim kemarau membawa sejumlah konsekuensi yang perlu diantisipasi masyarakat. Salah satunya adalah meningkatnya suhu udara disiang hari akibat dominasi sinar matahari dan minimnya tutupan awan.

Selain itu, berkurangnya curah hujan juga dapat memengaruhi ketersediaan air bersih di sejumlah daerah.

Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling merasakan dampaknya karena kebutuhan irigasi harus disesuaikan dengan kondisi cuaca.

Risiko kebakaran hutan dan lahan juga cenderung meningkat ketika periode kemarau berlangsung cukup panjang.

Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api di lahan terbuka.

Imbauan BMKG Selama Musim Kemarau

BMKG sebelumnya mengingatkan masyarakat agar terus mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi lembaga tersebut.

Langkah ini penting karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat masa transisi musim.

Masyarakat juga disarankan menggunakan air secara lebih bijaksana, menjaga kebutuhan cairan tubuh ketika beraktivitas di luar ruangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

Perkembangan musim kemarau saat ini menjadi acuan penting dalam memahami dinamika cuaca yang terjadi di Indonesia sepanjang 2026. (*/nds)

Berita Sebelumnya
Siap Tempuh Jalur Hukum

Lisa Mariana Bantah Tuduhan Penipuan Endorsement, Siap Tempuh Jalur Hukum

Berita Selanjutnya
OJK Blokir 557.751 Rekening Penipuan

OJK Blokir 557 Ribu Rekening Penipuan, Dana Korban 674 Miliar Berhasil Diamankan