BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di Banjarnegara, nama Jenggawur sering kali muncul dalam percakapan para pedagang beras, bahkan sebelum sawahnya menguning.
Menyebut beras Jenggawur seolah berbicara tentang nasi pulen dengan aroma wangi dan harga yang sulit untuk ditawar turun.
Fenomena ini terjadi jauh sebelum masa panen tiba, di mana pesanan sudah mengular panjang.
Keunikan ini menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat beras Jenggawur menjadi incaran pedagang dari luar daerah.
Puji Andriastanto dari Banjarnegara melaporkan bahwa beras premium ini berasal dari hamparan sawah di Desa Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu.
Reputasinya yang gemilang sering kali disandingkan dengan beras berkualitas tinggi lainnya seperti Delanggu dari Klaten, Pandanwangi dari Cianjur, hingga Brastagi dari Sumatra Utara.
Nama-nama besar tersebut telah lama dikenal sebagai simbol kualitas beras nasional.
Menurut Cahyana Sembada, Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banjarmangu, keistimewaan beras Jenggawur tidak hanya bergantung pada varietasnya. Ada faktor alam yang tidak dapat ditiru oleh daerah lain.
“Ini soal lokasi. Tanah Jenggawur memiliki karakteristik tersendiri dan airnya langsung bersumber dari Sungai Merawu. Itulah yang membuat rasa nasinya berbeda meskipun varietasnya sama dengan daerah lain,” jelas Cahyana.
Saat ini, petani di Jenggawur mengandalkan varietas Inpari 32 sebagai tulang punggung produksi mereka.
Varietas lama seperti IR 64 mulai ditinggalkan, sementara Barito yang dikenal unggul dari sisi rasa semakin menyusut luas tanamnya.
Dari total 121 hektare sawah baku, produktivitas padi di desa ini terbilang tinggi dengan rata-rata hasil panen mencapai 5 ton per hektare dan bisa menembus 7,5 ton gabah kering panen pada kondisi optimal.
Nilai jual beras Jenggawur pun meningkat signifikan. Di tingkat petani, harga gabah minimal berada di angka Rp6.500 per kilogram.
Setelah diproses menjadi beras, harganya melonjak ke kisaran Rp14.000 hingga Rp16.500 per kilogram di pasar.
Harga dan kualitas ini membuat beras Jenggawur diburu oleh pedagang dari luar daerah seperti Wonosobo, Semarang, hingga Jakarta.
Mereka tidak ragu untuk menggunakan sistem inden di mana gabah sudah dipesan jauh hari sebelum padi siap dipanen.
Namun demikian, tantangan baru justru muncul dari sektor tenaga kerja pertanian yang semakin sulit ditemukan.
Kondisi ini mendorong Dinas Pertanian untuk memperkenalkan mekanisasi pertanian modern sebagai solusi atas keterbatasan tenaga kerja manual.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah penggunaan drone untuk pemupukan dan penyemprotan lahan pertanian.
Cahyana menjelaskan bahwa jika menggunakan metode manual, pekerjaan satu hektare lahan bisa memakan waktu seharian penuh sementara dengan menggunakan drone pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu satu jam saja.
Meskipun harga satu unit drone mencapai sekitar Rp270 juta teknologi ini dianggap sebagai solusi efisien untuk menjaga produksi tetap optimal di tengah perubahan zaman.
Di sisi lain Kepala Desa Jenggawur Pranyoto mengungkapkan bahwa irigasi juga sempat menjadi hambatan serius selama dua tahun terakhir setelah Bendungan Clangap jebol sehingga pola tanam serentak terganggu.
“Kami menggunakan saluran cadangan agar sawah tetap bisa ditanami karena prioritas kami adalah mencukupi kebutuhan warga Jenggawur dan Banjarmangu terlebih dahulu,” ujarnya.
Pranyoto juga membeberkan bahwa dominasi pedagang perorangan yang berani membeli gabah dengan harga tinggi masih kuat namun desa tidak ingin selamanya hanya menjadi pemasok bahan mentah saja.
“Ke depan kami berharap agar beras Jenggawur bisa dikelola sebagai produk unggulan desa melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) bersinergi dengan Koperasi Merah Putih supaya petani sejahtera dan harga tetap terjangkau bagi warga Banjarnegara,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Jenggawur padi bukan sekadar tanaman pangan semata namun telah menjelma menjadi identitas desa kebanggaan sekaligus sumber penghidupan utama mereka.
Dari aliran Sungai Merawu hingga meja makan konsumen beras Jenggawur terus membuktikan bahwa kualitas lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas tanpa kehilangan akarnya di desa asalnya.(jud/stch/dda)
















