Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

FIFA Ubah Tradisi Piala Dunia 2026, Pemain Cadangan Kini Ikut Menyanyikan Lagu Kebangsaan

FIFA Ubah Tradisi Lagu KebangsaanFIFA Ubah Tradisi Lagu Kebangsaan
Presiden FIFA, Gianni Infantino

BANYUMASEKSPRES.ID, FIFA, badan sepak bola internasional yang terkenal, kembali memperkenalkan sejumlah perubahan menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Ini merupakan langkah signifikan yang menyentuh tradisi panjang dalam dunia sepak bola internasional.

Salah satu perubahan utama tersebut adalah protokol baru untuk seremoni yang akan dilakukan sebelum pertandingan dimulai.

Dalam kebijakan terbaru ini, seluruh pemain yang terdaftar dalam skuad pertandingan diwajibkan untuk berpartisipasi dalam momen lagu kebangsaan.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya FIFA untuk menyajikan pengalaman yang lebih menyeluruh dan menarik bagi para pemain, penonton yang hadir di stadion, serta pemirsa televisi selama turnamen berlangsung.

Konsep baru yang diperkenalkan oleh FIFA ini bertujuan untuk memodernisasi pengalaman pertandingan pada ajang sepak bola terbesar di dunia ini.

Selama ini, tradisi menyanyikan lagu kebangsaan hanya melibatkan sebelas pemain inti yang berdiri di lapangan saat lagu kebangsaan dimainkan sebelum kick-off.

Mereka biasanya berbaris menghadap area bangku cadangan, bersama dengan wasit dan tim lawan.

Namun, pada Piala Dunia 2026 mendatang, format tersebut akan mengalami perubahan drastis.

Seluruh pemain inti dan cadangan dari kedua tim akan berkumpul di sekitar lingkaran tengah lapangan saat lagu kebangsaan diputar.

FIFA percaya bahwa pendekatan baru ini akan menciptakan nuansa persatuan yang lebih kuat di antara semua anggota tim.

Selain itu, organisasi ini juga ingin menghapuskan kesan perbedaan antara pemain inti dan cadangan dalam seremoni pembuka pertandingan.

Gianni Infantino, Presiden FIFA, menjelaskan alasan di balik perubahan penting ini melalui unggahan di media sosialnya.

Ia menyatakan bahwa Piala Dunia harus terus berkembang mengikuti dinamika zaman dan ekspektasi penonton global.

“Seiring Piala Dunia FIFA terus berkembang, kami juga terus berinovasi dalam cara pertandingan dirasakan oleh para penonton. Seremoni sebelum pertandingan di Piala Dunia 2026 tidak akan berbeda,” ujarnya.

Pernyataan Infantino menggambarkan harapannya agar format baru ini mampu menghadirkan momen emosional yang lebih mendalam bagi semua pihak yang berada di stadion.

Ia menegaskan bahwa lagu kebangsaan bukan sekadar seremoni formal semata, melainkan juga simbol persatuan dan kebanggaan bagi setiap negara peserta.

“Dengan seluruh pemain dan wasit saling berhadapan di lingkaran tengah saat lagu kebangsaan dimainkan, akan tercipta momen persatuan, kebanggaan, dan emosi yang benar-benar menjadi milik tim serta semua orang yang berada di stadion,” lanjutnya.

Selain mengubah posisi pemain saat lagu kebangsaan dinyanyikan, FIFA juga menyiapkan konsep seremoni baru yang mereka sebut sebagai pengalaman 360 derajat.

Konsep inovatif ini bertujuan menghadirkan berbagai elemen visual menarik yang akan menghiasi seluruh area stadion selama seremoni berlangsung.

Salah satu elemen kunci dari koreografi baru tersebut adalah bendera nasional berukuran besar yang akan dibentangkan secara bersamaan di berbagai sisi lapangan.

Walaupun sejumlah perubahan telah diperkenalkan dalam seremoni pra-pertandingan ini, prosedur standar pertandingan tetap akan dijaga dengan baik.

Setelah lagu kebangsaan selesai diputar, para pemain inti masih akan melakukan salam sebelum pertandingan dimulai.

Selain itu, kapten kedua tim juga tetap menjalani prosesi lempar koin seperti biasa sebelum kick-off berlangsung.

Infantino menambahkan bahwa “Piala Dunia adalah tentang setiap pemain dan setiap penggemar,” dan dengan demikian seremoni baru sebelum pertandingan ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan tersebut.

Keterlibatan semua anggota tim dalam momen penting seperti menyanyikan lagu kebangsaan diyakini dapat memperkuat rasa solidaritas dan identitas kolektif.

Perubahan-perubahan ini tidak hanya memberikan dampak pada suasana di lapangan tetapi juga menandakan evolusi budaya sepak bola global menuju era modernisasi yang lebih inklusif dan berorientasi pada penonton.

Dengan adanya keterlibatan aktif seluruh pemain dalam seremoni ini, FIFA berharap dapat meningkatkan keterikatan emosional antara para atlet dengan penggemar mereka. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kemenpar Terbitkan SE Libur Sekolah

Kemenpar Tetapkan Aturan Baru untuk Destinasi Wisata di Libur Sekolah 2026

Berita Selanjutnya
Retribusi Pasar Sumpiuh Turun Drastis

Pemkab Banyumas Pangkas Tarif Retribusi Pasar Sumpiuh untuk Tingkatkan Kepatuhan Pedagang