BANYUMASEKSPRES.ID, AMERIKA SERIKAT – Biaya tinggi yang harus dikeluarkan oleh suporter untuk menyaksikan Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan publik.
Kali ini, perhatian masyarakat terfokus pada harga air mineral di dalam stadion yang mencapai sekitar Rp 150 ribu per botol.
Kenaikan harga kebutuhan dasar ini terungkap saat laga uji coba antara Inggris melawan Selandia Baru di Stadion Raymond James, Florida, Amerika Serikat, pada 6 Juni lalu.
Meskipun pertandingan berakhir dengan kemenangan Inggris 1-0 berkat gol dari Harry Kane, banyak penonton justru lebih ramai membicarakan harga makanan dan minuman yang dijual di area stadion.
Menurut laporan dari Open Magazine, sebotol air mineral dijual seharga USD 8,75 atau setara dengan Rp 150 ribu.
Harga tersebut memicu perdebatan sengit di media sosial, karena air minum dianggap sebagai kebutuhan penting, terutama bagi penonton yang harus berada di stadion selama beberapa jam.
Dengan kondisi cuaca panas yang diperkirakan akan mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026, kebutuhan akan air minum menjadi semakin vital untuk mencegah dehidrasi.
Tak hanya air mineral, minuman beralkohol juga dijual dengan harga yang tidak kalah mahal.
Bir ukuran besar dibanderol dengan harga USD 16,75 atau sekitar Rp 296 ribu, sementara bir premium dihargai USD 18 atau sekitar Rp 318 ribu.
Yang mengecewakan bagi sebagian suporter adalah kenyataan bahwa minuman tersebut hanya berupa bir kalengan yang bahkan sudah tidak lagi dingin saat dijual. Keluhan demi keluhan pun bermunculan dari para penggemar sepak bola.
Banyak dari mereka menilai biaya yang harus dikeluarkan selama turnamen semakin tidak masuk akal dan mencerminkan orientasi komersial yang berlebihan.
Sorotan terhadap mahalnya biaya Piala Dunia 2026 sebenarnya tidak hanya terbatas pada harga makanan dan minuman di stadion.
Harga tiket pertandingan juga menjadi topik perbincangan hangat di kalangan penggemar.
Saat ini, tiket untuk laga pembuka yang akan digelar di Meksiko tercatat dijual mulai dari USD 3.000 atau sekitar Rp 53 juta hingga USD 10.000 atau sekitar Rp 176 juta di sejumlah platform penjualan tiket.
Harga fantastis tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Piala Dunia, yang selama ini dikenal sebagai pesta rakyat, justru semakin sulit diakses oleh penggemar biasa.
Dalam konteks ini, perlu dicatat bahwa Piala Dunia merupakan event olahraga terbesar yang menyatukan jutaan penggemar sepak bola dari berbagai penjuru dunia.
Namun, tingginya biaya tiket dan makanan membuat banyak orang merasa teralienasi dari pengalaman menonton langsung pertandingan tim favorit mereka.
Ini menjadi sorotan serius mengenai bagaimana acara-acara besar dapat mempertahankan semangat inklusivitas dan aksesibilitas bagi semua kalangan.
Di tengah derasnya kritik terhadap biaya tinggi ini, jaksa di New York dan New Jersey dilaporkan membuka penyelidikan terkait praktik penjualan tiket Piala Dunia 2026 pada tanggal 28 Mei lalu.
Investigasi tersebut berfokus pada dugaan bahwa FIFA menciptakan kelangkaan tiket secara sengaja dan mendorong kenaikan harga melalui strategi penetapan harga bertingkat serta pengelolaan kategori kursi.
Jika dugaan tersebut terbukti benar, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 bisa menghadapi sorotan yang lebih besar tidak hanya terkait pertandingan di lapangan tetapi juga terkait aksesibilitas dan keadilan bagi jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Sebagai tambahan informasi, keluhan mengenai tingginya harga makanan dan minuman bukanlah isu baru dalam event-event olahraga besar seperti Piala Dunia.
Sejarah menunjukkan bahwa selama acara olahraga internasional lainnya, suporter sering kali merasa terbebani oleh harga-harga yang melambung tinggi untuk makanan dan minuman.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius tentang etika penyelenggaraan acara-acara besar dan bagaimana hal tersebut dapat mengganggu pengalaman menonton bagi banyak orang.
Banyak pengamat menyatakan bahwa situasi ini bisa jadi merupakan dampak dari privatisasi dan komersialisasi event olahraga yang kian mendalam dalam beberapa tahun terakhir.
Ketika penyelenggara berfokus pada keuntungan finansial semata tanpa memperhatikan kesejahteraan para penggemar, maka hal ini dapat menciptakan jurang pemisah antara elit dan massa dalam menikmati acara olahraga bergengsi seperti Piala Dunia.
Dengan latar belakang tersebut, suara-suara kritis dari para penggemar semakin menguatkan pandangan bahwa sudah saatnya ada perubahan dalam cara penyelenggaraan event-event besar seperti Piala Dunia agar lebih inklusif dan ramah bagi semua lapisan masyarakat. (*/stch/dda)
















