BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan perubahan besar terhadap pola pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Durasi pelatihan yang sebelumnya dirancang selama satu bulan kini dipangkas menjadi dua pekan. Selain itu, latihan dasar kemiliteran (latsarmil) juga resmi dihapus dan digantikan dengan pelatihan bela negara.
Perubahan tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh yang dilakukan pemerintah setelah meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti rangkaian pelatihan.
Evaluasi itu sekaligus mengubah konsep awal program yang sebelumnya mengarah pada pembentukan peserta sebagai bagian dari komponen cadangan.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan menjelaskan, dengan skema baru para peserta tidak lagi diproyeksikan sebagai komponen cadangan.
Oleh karena itu, seluruh materi yang berkaitan dengan aspek teknis kemiliteran tidak lagi dimasukkan ke dalam kurikulum pelatihan.
“Semula mereka juga akan menjadi komponen cadangan. Kami sudah tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan Bela Negara,” kata Donny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/7).
Dengan perubahan tersebut, peserta tidak lagi memperoleh pelatihan penggunaan senjata, latihan menembak, maupun materi tentang taktik dan teknik militer.
Sebagai gantinya, pembelajaran akan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter serta peningkatan kapasitas kepemimpinan yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi maupun kampung nelayan.
Menurut Donny, materi bela negara yang diberikan meliputi penanaman nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, hingga kepemimpinan.
Para peserta juga tetap diwajibkan mengikuti jadwal kegiatan harian yang dirancang untuk membentuk disiplin dan etos kerja.
“Mereka hanya diberikan pelajaran terkait nasionalisme, patriotisme, disiplin, termasuk mengikuti jadwal harian yang juga melatih disiplin waktu mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, aspek kepemimpinan tetap menjadi salah satu materi utama karena seluruh peserta nantinya akan mengemban tugas sebagai manajer yang memimpin tim dalam menjalankan operasional koperasi maupun Kampung Nelayan Merah Putih.
“Manajer tentunya mempunyai beberapa staf yang harus mereka pimpin. Bagaimana melatih kebersamaan dan kerja sama. Nah itulah nilai-nilai yang akan kami berikan,” jelas Donny.
Selain mengubah materi pelatihan, Kemhan juga memangkas durasi pendidikan fisik.
Jika sebelumnya pelatihan komponen cadangan berlangsung selama sekitar satu bulan, kini pelatihan bela negara hanya berlangsung selama dua minggu.
Setelah menyelesaikan tahap tersebut, peserta akan melanjutkan pendidikan manajerial selama kurang lebih satu bulan.
Materi pada tahap kedua akan disesuaikan dengan bidang penugasan masing-masing peserta.
Bagi peserta yang diproyeksikan mengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan mendapatkan pembelajaran mengenai pengelolaan koperasi, tata kelola organisasi, administrasi, hingga pengembangan usaha.
Sementara peserta yang ditempatkan di Kampung Nelayan Merah Putih akan menerima materi khusus terkait pengelolaan kawasan nelayan serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Kalau yang ke koperasi akan diberikan modul terkait koperasi, sedangkan yang ke kampung nelayan akan diberikan modul terkait kampung nelayan. Tentunya yang memberikan materi adalah kementerian masing-masing,” ujar Donny.
Perubahan kurikulum tersebut melengkapi evaluasi yang sebelumnya telah diumumkan Kementerian Pertahanan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan istilah latihan dasar kemiliteran kini resmi diubah menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
Menurut Rico, perubahan nama tersebut juga diikuti perubahan substansi pelatihan.
Seluruh materi yang bersifat teknis maupun taktis kemiliteran dihapus sehingga peserta tidak lagi menerima latihan menembak maupun penggunaan perlengkapan militer.
Sebaliknya, pelatihan akan difokuskan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial sebagai calon pengelola koperasi dan kampung nelayan.
“Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi,” kata Rico.
Sementara itu, pemerintah masih terus menyelidiki penyebab meninggalnya lima peserta SPPI yang menjadi dasar dilakukannya evaluasi terhadap program pelatihan tersebut.
Investigasi dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Kesehatan.
Donny mengatakan hingga kini pemerintah masih mengedepankan investigasi internal untuk mengumpulkan seluruh fakta sebelum menentukan langkah lanjutan.
Oleh karena itu, proses hukum belum menjadi fokus utama.
“Belum, kita belum mengarah ke sana karena kita masih investigasi internal dulu,” ujarnya.
Menurut Donny, tim investigasi akan menelusuri berbagai faktor yang diduga berkaitan dengan meninggalnya para peserta.
Pemeriksaan mencakup hasil tes kesehatan sebelum mengikuti pelatihan, proses adaptasi dari kehidupan sipil menuju lingkungan barak, intensitas aktivitas fisik selama pelatihan, hingga kemungkinan adanya penyakit bawaan yang dimiliki peserta.
Hasil evaluasi sementara menunjukkan tiga peserta diduga meninggal akibat gangguan pada jantung, sedangkan dua peserta lainnya diduga meninggal karena gangguan pada paru-paru.
Meski demikian, pemerintah menegaskan penyelidikan masih berlangsung sehingga penyebab pasti setiap kasus masih menunggu hasil investigasi yang lebih komprehensif.
Kemhan memastikan seluruh hasil evaluasi akan menjadi dasar penyempurnaan program pelatihan ke depan agar tujuan mencetak manajer yang memiliki kemampuan kepemimpinan, disiplin, serta kapasitas manajerial tetap dapat tercapai tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kesehatan para peserta. (*/stch/dda)
















