BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di pagi hari yang tenang, sebelum matahari terbit dan aktivitas warga desa dimulai, Bukri, seorang pria berusia 65 tahun, sudah memulai harinya dengan berjalan menuju hutan di sekitar desanya di Banjarnegara.
Di pundaknya, ia memikul kayu bakar yang menjadi sumber penghidupannya sehari-hari.
Namun, lebih dari sekadar mencari nafkah, Bukri menyimpan satu mimpi besar dalam hatinya—menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Kini, setelah penantian yang panjang dan penuh kesabaran, impian Bukri akan segera terwujud.
Warga Dusun Tegaten, Desa Wanayasa, Kecamatan Wanayasa ini dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada tanggal 14 Mei 2026 bersama Kloter 71.
Perjalanan panjang menuju keberangkatan ini bukanlah hal yang mudah.
Selama hampir dua dekade, Bukri rajin menyisihkan hasil penjualannya untuk mewujudkan mimpinya tersebut.
“Alhamdulillah saya sangat bersyukur dan senang akhirnya bisa berangkat haji tahun ini. Saya menabung dari hasil jual kayu bakar sejak lama,” ungkap Bukri dengan penuh rasa syukur.
Setiap harinya, ia menjalani rutinitas yang sama: memasuki hutan untuk mencari kayu, kemudian menjualnya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dari hasil penjualan kayu bakar ini, ia berusaha menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung meskipun jumlahnya bervariasi.
Perjuangan Bukri tidak hanya melibatkan dirinya sendiri; keluarganya juga menjadi saksi bisu perjalanan panjang ini.
Putrinya, Indah Haryani, mengaku melihat langsung bagaimana ayahnya tidak pernah berhenti berusaha dan selalu gigih dalam menabung.
“Setiap hari bapak bekerja mencari dan menjual kayu bakar. Beliau terus menabung hanya agar bisa berangkat haji,” kata Indah.
Bagi Indah, keberangkatan ayahnya ke Tanah Suci bukan sekadar menjalankan kewajiban agama, tetapi juga merupakan simbol dari kerja keras dan ketekunan yang telah dijalani selama bertahun-tahun.
“Ini adalah pencapaian yang sangat berarti bagi keluarga kami,” tambah Indah dengan sorot mata bangga.
Kisah inspiratif Bukri juga mendapatkan perhatian khusus dari Ketua Rombongan 7 Kloter 71, Agus Alim.
Ia menganggap perjuangan Bukri sebagai contoh nyata dari ketekunan dan kesabaran yang patut dicontoh oleh banyak orang.
“Beliau menabung selama puluhan tahun dari hasil mencari kayu bakar. Jerih payah itu akhirnya terbayar,” ujar Agus dengan nada kagum.
Bagi Bukri sendiri, perjalanan menuju Tanah Suci ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba atau tanpa usaha.
Ini adalah hasil dari niat tulus yang terus dijaga meskipun harus menunggu bertahun-tahun lamanya.
Dari hutan kecil di Wanayasa tempat ia mencari kayu bakar sehari-hari, langkahnya kini akan membawanya ke Tanah Suci—suatu perjalanan yang dibangun bukan atas kemudahan melainkan melalui ketekunan dan kesabaran yang telah dirawat selama puluhan tahun.
Pengalaman hidup Bukri mengajarkan kita bahwa setiap mimpi besar memerlukan pengorbanan dan dedikasi untuk mencapainya.
Dalam dunia yang sering kali terjebak dalam kecepatan dan instan, kisah seperti milik Bukri hadir sebagai pengingat bahwa proses mencapai tujuan sering kali lebih berarti daripada tujuan itu sendiri.
Di tengah tantangan hidup yang mungkin dirasakannya selama dua dekade terakhir—dari cuaca buruk saat mencari kayu hingga ketidakpastian harga jual di pasar—Bukri tetap teguh pada tekadnya.
Ia tidak membiarkan keterbatasan finansial atau faktor lainnya mematahkan semangatnya untuk mewujudkan impian suci ini.
Dengan semangat juang yang ditunjukkan oleh Bukri dan dukungan keluarganya, kita bisa melihat betapa pentingnya memiliki tujuan hidup dan komitmen untuk mencapainya. (jud/stch/dda)
















