BANYUMASEKSPRES.ID, Di tengah redupnya industri tenun lurik di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, satu alat tenun masih bergerak perlahan.
Penggeraknya adalah Mudiono, Ketua Kelompok Perajin Tenun Lurik setempat. Ia kini menjadi satu-satunya perajin yang tetap menenun secara aktif meskipun tantangan besar menghampiri industri ini.
“Yang tersisa hanya saya sendiri sekarang. Yang lainnya sudah berhenti,” ujar Mudiono kepada awak media pada Senin (28/7), menggambarkan situasi terkini kelompok tenun yang dahulu sempat berjaya.
Kelompok tenun di Tanggeran yang pernah dihuni beberapa anggota kini hanya menyisakan kenangan aktivitas yang bersemangat. Beberapa anggota lain dari kelompok tersebut telah berhenti beraktivitas, dengan alasan berbeda-beda.
Ada yang sedang hamil, sementara yang lain masih menunggu pesanan yang tak kunjung datang. Alat-alat tenun mereka kini terdiam di rumah masing-masing, tak lagi digunakan seperti dulu.
Kilas balik ke tahun 2019 saat kelompok ini pertama kali diresmikan oleh Bupati Banyumas Husein, suasana jauh berbeda dari sekarang. Pendampingan dari dinas selama tiga tahun membuat aktivitas menenun cukup hidup dan produktif.
Kain lurik hasil karya mereka bahkan sempat dipamerkan dalam berbagai acara dan festival bergengsi. Salah satu momen kebanggaan adalah ketika istri Ganjar Pranowo mengenakan kain lurik Tanggeran saat suaminya menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Namun demikian, semua berubah sejak pandemi melanda. Pesanan mulai merosot tajam sehingga mengubah pola produksi menjadi “made by order” agar lebih efisien dalam penggunaan sumber daya.
Meskipun demikian, permintaan tidak kembali seperti masa-masa keemasan sebelumnya. Kondisi ini memaksa para perajin untuk lebih kreatif dan tetap bertahan dalam industri yang kian sepi.
“Saya tetap menenun meski tidak ada pesanan masuk. Saya buat stok saja, jadi kalau nanti ada yang beli, sudah siap,” kata Mudiono dengan optimisme bahwa suatu hari pasarnya akan kembali pulih.
Ketika ditanya mengenai regenerasi atau penerus generasi muda dalam menenun, Mudiono mengungkapkan kekecewaannya karena belum melihat minat dari kalangan muda untuk terjun dalam dunia tenun lurik ini. Anak laki-lakinya sendiri yang masih duduk di bangku SMP belum menunjukkan ketertarikan untuk mengikuti jejaknya.
Sempat muncul secercah harapan baru melalui pengembangan sutera attakas, yaitu benang yang berasal dari kepompong ulat mahoni yang dianggap memiliki potensi lebih besar daripada tenun lurik konvensional.
Namun sayangnya usaha ini harus tertunda karena pemintal benang yang membantu mereka meninggal dunia dan hingga kini belum ditemukan penggantinya.
Saat ini Mudiono bersama Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan Pemerintah Desa Tanggeran telah berupaya membudidayakan ulat mahoni dengan menanam pohon-pohon mahoni di beberapa greenhouse lokal sebagai langkah awal pengembangan sutera attakas tersebut.
Pohonnya memang sudah tumbuh subur namun ulatnya belum ada sehingga proses produksi sutera harus ditunda sembari menunggu perkembangan selanjutnya.
“Kami masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Kalau kepompong sudah bisa dipanen mungkin kami bisa memulai kembali produksi tenun sutera,” ujar Mudiono dengan harapan besar akan kelangsungan usahanya.
Sementara itu ia terus bertahan dengan memproduksi lurik tradisional meski banyak tantangan menghadang.
Dalam upayanya mempertahankan tradisi ini, ia bahkan membuat pagar kecil di sekitar alat tenunnya di rumah agar benangnya tidak terkena cakaran kucing liar yang sering berkeliaran di sekitar lokasi tempat tinggalnya.
Melalui usaha keras dan tekad kuatnya untuk menjaga warisan budaya lokal ini agar tidak benar-benar hilang dari desa tercinta mereka, Mudiono tetap menenun setiap hari dengan penuh harap bahwa suatu hari nanti industri tenun lurik Tanggeran dapat bangkit kembali seperti dahulu kala.
Dengan semangat pantang menyerah tersebut ia berharap agar generasi mendatang dapat melanjutkan warisan leluhur ini serta menjadikannya kebanggaan Kabupaten Banyumas secara keseluruhan. (bay/stch)
















