BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah masa tanggap darurat akibat longsor yang melanda Situkung, Kecamatan Pandanarum, sebuah aksi kemanusiaan unik menonjol di antara upaya penanganan bencana.
Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Banjarnegara hadir dengan memberikan layanan pijat gratis kepada para pengungsi dan relawan.
Inisiatif ini tidak hanya mengedepankan kepedulian tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkontribusi dalam aksi kemanusiaan.
Sebanyak 15 terapis profesional, terdiri dari tujuh pria dan delapan wanita, diterjunkan oleh Pertuni ke lapangan.
Mereka mendatangi posko pengungsian dan tempat para relawan berkumpul untuk memberikan terapi pijat.
Langkah ini bertujuan membantu memulihkan kondisi fisik para korban longsor serta petugas yang telah berjibaku di medan bencana.
Ali Tujam, Ketua Pertuni Banjarnegara, menyatakan bahwa aksi ini merupakan wujud nyata dari kepedulian mereka.
“Kami memiliki keterampilan dalam memijat dan dengan difasilitasi oleh Dinas Kominfo Banjarnegara, kami akhirnya dapat berbagi dengan teman-teman di pengungsian, termasuk para relawan untuk mendapatkan layanan pijat gratis dari kami,” ujar Ali pada Jumat (5/12).
Dalam pandangannya, para pengungsi dan relawan sudah berhari-hari menghadapi aktivitas yang sangat melelahkan.
Oleh karena itu, terapi pijat diharapkan mampu mengurangi stres sekaligus memperbaiki kebugaran mereka.
“Mereka pasti lelah, dan dengan terapi pijat dari kami, semoga bisa membantu memulihkan fisik mereka,” tambahnya.
Aksi ini tidak hanya sekadar kegiatan sosial biasa tetapi juga merupakan bagian dari peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025.
Ali menegaskan pentingnya momentum ini sebagai ajang pembuktian bahwa penyandang disabilitas memiliki peran nyata dalam kegiatan kemanusiaan.
“Masih dengan semangat Hari Disabilitas, kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berbuat baik kepada sesama,” ujarnya penuh semangat.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Banjarnegara, Sagiyo, memuji inisiatif tersebut sebagai bantuan yang tepat sasaran dalam situasi krisis seperti ini.
“Bantuan tidak selalu berupa logistik atau alat berat. Sentuhan kemanusiaan seperti ini justru sangat dibutuhkan. Relawan dan masyarakat terdampak bencana pasti sering kelelahan. Layanan pijat dari teman-teman Pertuni ini menjadi energi pemulih yang luar biasa,” kata Sagiyo dengan penuh apresiasi.
Solidaritas masyarakat Banjarnegara semakin terlihat kuat dengan adanya aksi sosial dari Pertuni ini.
Bantuan berupa layanan pijat gratis tersebut menambah daftar panjang aksi solidaritas yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk membantu para korban longsor di Situkung yang hingga kini masih berada di pengungsian.
Keberadaan Pertuni di lokasi bencana membawa angin segar bagi para korban dan relawan yang tengah berjibaku menghadapi situasi sulit.
Selain memberikan bantuan fisik melalui terapi pijat, kehadiran mereka juga memberikan dukungan moral bagi masyarakat terdampak bencana serta relawan yang tak kenal lelah bekerja demi kepentingan bersama.
Aksi sosial ini menjadi bukti nyata bahwa setiap individu, tanpa memandang latar belakang ataupun kondisi fisik, dapat memberikan kontribusi berarti bagi sesamanya.
Dengan semangat solidaritas dan gotong royong, Pertuni Banjarnegara telah menunjukkan bahwa tindakan kecil pun dapat memberikan dampak besar bagi mereka yang sedang mengalami masa sulit.
Melalui peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 ini pula, Pertuni berharap ada lebih banyak pihak yang terinspirasi untuk terus berbuat baik tanpa melihat batasan atau hambatan apapun.
Kepedulian terhadap sesama adalah nilai universal yang harus terus ditanamkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, aksi ini tidak hanya bersifat sementara tetapi juga menjadi teladan bagi semua pihak untuk selalu menebar kebaikan kapanpun dan dimanapun dibutuhkan.
Pertuni Banjarnegara sukses membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk terus bergerak maju membantu sesama manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan.(jud/stch/dda)
















