Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Sertifikat K3
Tradisi Pembawa Hoki di Milan Bikin Landmark Bersejarah Rusak

Tradisi Pembawa Hoki di Milan Bikin Landmark Bersejarah Rusak

Ikon Wisata Milan Rusak karena Tradisi TurisIkon Wisata Milan Rusak karena Tradisi Turis
RESTORASI: Mosaik banteng di Galleria Vittorio Emanuele II, Milan, yang rusak karena tradisi turis

BANYUMASEKSPRES.ID, MILAN – Salah satu landmark wisata paling terkenal di Milan, mosaik banteng yang terletak di lantai Galleria Vittorio Emanuele II, kini sedang menjalani proses restorasi.

Hal ini disebabkan oleh sebuah tradisi unik yang dilakukan oleh wisatawan, yang secara luas diyakini dapat membawa keberuntungan.

Tradisi tersebut melibatkan pengunjung yang memutar tumit mereka di atas bagian testis banteng dalam mosaik tersebut.

Ritual ini, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, diyakini akan mendatangkan nasib baik dan memperbesar kemungkinan untuk kembali mengunjungi Milan di masa depan.

Namun sayangnya, meskipun tradisi ini sangat populer, dampaknya terhadap karya seni bersejarah itu sangat merugikan.

Pemerintah Kota Milan menyampaikan bahwa gesekan yang ditimbulkan oleh ribuan kaki pengunjung setiap tahun telah menyebabkan kerusakan signifikan pada mosaik tersebut.

Bagian testis banteng, yang terbuat dari kepingan mosaik berwarna merah muda, mengalami pengikisan hingga membentuk cekungan kecil.

“Karena putaran tumit yang terus-menerus dilakukan wisatawan yang berkunjung ke Milan, kepingan mosaik berwarna merah muda yang membentuk bagian testis banteng telah terkikis hingga membentuk cekungan kecil,” ungkap otoritas kota dengan prihatin.

Mosaik banteng ini bukanlah sekadar ornamen; ia merupakan bagian integral dari lantai Galleria Vittorio Emanuele II sejak abad ke-19 dan juga melambangkan Kota Turin, yang pernah menjadi ibu kota Italia.

Oleh karena itu, restorasi ini sangat penting untuk menjaga kelestarian salah satu simbol wisata paling ikonik di Milan.

Gianluca Galli, seorang restorator profesional yang terlibat dalam proses perbaikan mosaik ini, menjelaskan bahwa meskipun tradisi memutar tumit di atas banteng menarik bagi para wisatawan, dampaknya terhadap keberlangsungan karya seni bersejarah sangatlah merusak.

“Ini mungkin merupakan gestur yang menarik, tetapi juga cukup merusak bagi sebuah karya seni,” jelasnya.

Dalam upaya restorasi ini, Galli menerapkan teknik pemotongan batu secara manual berdasarkan desain asli dari mosaik tersebut.

Ia dengan hati-hati memilih resin epoksi sebagai perekat baru agar mosaik tersebut lebih kuat dan mampu menahan tekanan dari ribuan pengunjung setiap tahunnya.

Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik dari mosaik tetapi juga bertujuan untuk mempertahankan nilai historis dan artistiknya.

Selama proses restorasi berlangsung, wisatawan tidak dapat melakukan ritual tradisional mereka di atas mosaik banteng tersebut.

Namun demikian, laporan menunjukkan bahwa beberapa pengunjung mulai beralih ke mosaik serigala betina yang melambangkan Kota Roma untuk melakukan ritual serupa.

Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat mengalir dan beradaptasi meskipun ada perubahan dalam kondisi fisik suatu tempat.

Galli merasa bangga dapat terlibat dalam pemugaran ikon bersejarah seperti mosaik banteng ini dan berharap lebih banyak generasi muda tertarik untuk mengejar karir sebagai restorator seni.

“Saya ingin mendorong anak-anak muda untuk menekuni profesi ini, karena Italia sangat membutuhkan restorator, baik laki-laki maupun perempuan,” tuturnya dengan semangat.

Restorasi mosaik banteng bukan hanya sekedar memperbaiki kerusakan fisik; hal ini juga mencerminkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya dan seni bagi generasi mendatang.

Mosaik ini tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat Italia dan dunia.

Upaya untuk melestarikan karya seni seperti ini menjadi semakin penting mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi oleh warisan budaya dalam era modern saat ini.

Dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan setiap tahunnya, tantangan pelestarian seperti ini akan terus ada. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Noel Terima Vonis 4,5 Tahun Penjara

Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Sertifikat K3