BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Penutupan Jembatan Serayu yang dimulai pada pertengahan bulan Juni memberikan dampak signifikan terhadap layanan transportasi umum, khususnya layanan bus Trans Banyumas di koridor Terminal Bulupitu menuju Kejawar, Banyumas.
Perubahan ini menuntut pihak berwenang untuk melakukan penyesuaian agar tetap menjaga kelancaran transportasi di tengah situasi yang tidak biasa.
Dengan penutupan jembatan, armada bus Trans Banyumas tidak akan lagi melayani perjalanan langsung hingga Kejawar.
Sebagai alternatif, layanan bus akan berputar di sekitar Pasar Wisata Kalisada yang terletak di Kaliori, Kecamatan Kalibagor sebelum kembali menuju Terminal Bulupitu.
Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk menyesuaikan kondisi lalu lintas yang diperkirakan akan terganggu selama masa penutupan jembatan berlangsung.
Muhammad Eka Nugraha, Kasi Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas, menjelaskan bahwa penutupan Jembatan Serayu yang dimulai pada 15 Juni memunculkan beberapa opsi untuk penyesuaian layanan Trans Banyumas pada koridor tersebut.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memutar armada melalui Mandiracan sebelum menuju Banyumas.
Namun, opsi tersebut berpotensi membawa konsekuensi tambahan berupa jarak tempuh yang lebih jauh, sehingga jumlah rit perjalanan dapat dibatasi hanya tiga kali dalam sehari.
“Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk efisiensi dan kebutuhan masyarakat, opsi yang dipilih hingga saat ini cenderung ke opsi kedua,” ungkap Eka.
Opsi kedua ini adalah memangkas jarak layanan namun tetap mempertahankan lima rit perjalanan setiap hari.
Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga aksesibilitas transportasi bagi masyarakat meskipun dalam kondisi yang sulit.
Eka juga menambahkan bahwa jika opsi pertama dipilih, maka akan diperlukan addendum kontrak untuk layanan Trans Banyumas.
Ia menilai bahwa durasi penutupan Jembatan Serayu yang diperkirakan hanya berlangsung selama 45 hari terasa terlalu singkat untuk melakukan perubahan kontrak layanan secara menyeluruh.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan operator transportasi dalam menciptakan solusi terbaik bagi masyarakat.
Saat ini, koridor Bulupitu-Kejawar dioperasikan dengan tujuh armada bus. Oleh karena itu, pemangkasan rute dianggap lebih efektif dan realistis untuk diterapkan selama masa penutupan jembatan.
“Dengan pengambilan opsi kedua, jarak layanan dipangkas per rit pulang pergi sekitar empat kilometer,” jelasnya.
Ini berarti bahwa dalam sehari, total jarak layanan yang dipangkas mencapai kurang lebih 140 kilometer.
Pengurangan jarak layanan tidak hanya berdampak pada waktu tempuh tetapi juga berkontribusi pada efisiensi penggunaan bahan bakar armada Trans Banyumas.
Dengan adanya pengurangan konsumsi bahan bakar akibat pemangkasan rute tersebut, sisa anggaran operasional nantinya akan tercatat sebagai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA).
“Dengan berkurangnya jarak layanan sebesar 140 kilometer per hari, ada SILPA plus minus Rp 140 ribu sehari,” pungkas Eka.
Keputusan untuk memangkas rute demi efisiensi sekaligus mempertahankan frekuensi perjalanan menunjukkan upaya serius dari Dinas Perhubungan Banyumas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di tengah situasi darurat seperti ini.
Walaupun tidak dapat menghindari dampak negatif dari penutupan jembatan, langkah-langkah adaptif seperti ini menjadi penting untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap terjaga.
Penutupan Jembatan Serayu merupakan bagian dari upaya pemeliharaan infrastruktur yang penting bagi kelancaran arus lalu lintas di wilayah tersebut.
Masyarakat diharapkan dapat memahami situasi dan merencanakan perjalanan mereka dengan bijaksana selama periode ini.
Diharapkan setelah proses pemeliharaan selesai, jembatan dapat kembali beroperasi dan mendukung kelancaran transportasi di kawasan Banyumas. (yda/stch/dda)
















