BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN — Tantangan dalam dunia peternakan seringkali berkutat pada masalah pakan.
Kualitas pakan memegang peranan penting dalam menentukan hasil produksi, namun, harga pakan jadi yang kian melambung membuat para peternak harus lebih kreatif mencari alternatif.
Akif Fatwal Amin, seorang warga Surotrunan Alian, merasakan langsung kendala ini dalam budidaya ternaknya yang meliputi sekitar 50 ekor bebek, serta beberapa entog dan lele.
Setelah melakukan berbagai percobaan, Akif berhasil menemukan formula pakan alternatif yang tepat.
“Produksi telur mencapai 80 persen. Artinya dari 50 ekor bebek, lebih dari 40 ekor bertelur setiap harinya,” ungkapnya kepada awak media pada Kamis (8/1).
Pakan yang digunakan oleh Akif adalah campuran dari ampas singkong atau gabel, ampas bir, jagung konsentrat, dan rempah-rempah.
Biaya untuk menciptakan campuran ini tidak melebihi Rp 4 ribu per kilogram, jauh lebih ekonomis dibandingkan harga pakan pabrik yang kini mencapai Rp 7.600 per kilogram.
“Penelitian ini memakan waktu hampir tiga bulan dan awalnya sangat menantang,” jelas Akif.
Dalam prosesnya, ia beberapa kali menghadapi kesulitan seperti penurunan produksi telur hingga titik nol. Namun ketekunan dan inovasi akhirnya membuahkan hasil yang positif.
Akif menegaskan bahwa kemandirian dalam peternakan tidak hanya berarti mandiri dalam hal bibit tetapi juga dalam hal pakan.
Sebelumnya, ia mencoba memanfaatkan limbah dapur sebagai pakan alternatif, namun hasilnya tidak konsisten karena komposisi limbah dapur yang selalu berubah.
Bebek membutuhkan pakan dengan komposisi tetap agar produktivitasnya terjaga.
“Dengan metode ini kami berharap para peternak bebek dapat kembali optimis,” tambahnya penuh harap. Terlebih lagi, kini produk telur bebeknya telah mendapat tempat di dapur MBG.
Keberhasilan Akif ini menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam peternakan di tengah kenaikan biaya produksi.
Pendekatan yang dilakukan Akif bisa menjadi inspirasi bagi peternak lain untuk lebih mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada pakan komersial yang harganya fluktuatif.
Dalam konteks ekonomi saat ini, di mana efisiensi biaya menjadi kunci keberlanjutan usaha, menemukan solusi kreatif seperti yang dilakukan Akif dapat membuka jalan baru bagi pelaku usaha kecil dan menengah di sektor agribisnis.
Ia tidak hanya mengurangi biaya operasional tetapi juga meningkatkan hasil produksi secara signifikan.
Selain itu, pendekatan ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan sisa seperti ampas singkong dan bir juga berkontribusi pada pengurangan limbah organik.
Hal ini sejalan dengan tren global menuju praktik agrikultur yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Bagi komunitas peternak di Kebumen dan sekitarnya, kisah Akif menjadi contoh nyata tentang bagaimana kreativitas dan kerja keras dapat mengatasi tantangan industri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pendekatan-pendekatan inovatif. (mam/stch/dda)
















