BANYUMASEKSPRES.ID, Dieng kembali menjadi sorotan setelah suhu di kawasan dataran tinggi ini mencapai minus 6 derajat Celsius pada Juli 2026. Kondisi tersebut memicu munculnya embun upas yang menyelimuti rumput dan tanaman dengan lapisan kristal es.
Fenomena embun beku terlihat pada pagi hari ketika permukaan rumput berubah putih layaknya tertutup salju. Pemandangan unik ini menarik banyak wisatawan yang datang untuk menikmati momen langka di kawasan Dieng.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu sangat dingin di Dieng merupakan fenomena alam yang rutin terjadi saat musim kemarau. Kondisi geografis wilayah pegunungan membuat udara lebih mudah kehilangan panas pada malam hingga dini hari.
BMKG juga memperkirakan embun upas berpotensi lebih sering muncul selama musim kemarau 2026. Hal itu dipengaruhi cuaca yang lebih kering dan langit cerah sehingga pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih cepat.
Dieng berada pada ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Letak tersebut menyebabkan suhu udara jauh lebih rendah dibandingkan wilayah dataran rendah.
Saat malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan tanah langsung terlepas ke atmosfer. Minimnya tutupan awan membuat proses pendinginan berlangsung semakin cepat hingga suhu turun drastis.
Awan sebenarnya membantu menahan panas bumi pada malam hari. Ketika langit cerah, panas lebih mudah lepas sehingga permukaan tanah bisa mencapai suhu di bawah titik beku.
Dalam kondisi tertentu, suhu rumput lebih rendah daripada suhu udara yang diukur secara umum. Akibatnya embun berubah menjadi kristal es yang dikenal sebagai embun upas.
Embun upas merupakan embun yang membeku karena suhu permukaan tanah berada di bawah nol derajat Celsius. Masyarakat Jawa menyebutnya “upas” atau racun karena dapat merusak tanaman pertanian.
Lapisan es biasanya terlihat di rumput, daun kentang, semak, hingga atap rumah warga. Setelah matahari terbit, kristal es akan mencair dan menghilang secara perlahan.
Fenomena ini umumnya hanya berlangsung beberapa jam pada pagi hari. Meski singkat, keindahannya menjadi daya tarik wisata yang selalu dinantikan pengunjung.
Kemunculan embun upas paling sering terjadi pada Juli hingga September. Periode tersebut merupakan puncak musim kemarau dengan kelembapan udara yang rendah.
BMKG menyebut musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat peluang terbentuknya embun beku semakin besar.
Perbedaan suhu siang dan malam di Dieng juga cukup ekstrem. Siang hari terasa hangat, sedangkan menjelang pagi suhu turun hingga mendekati atau bahkan di bawah titik beku pada permukaan tertentu.
Masyarakat setempat mengenal udara dingin saat musim kemarau dengan istilah bediding. Fenomena ini lazim terjadi di berbagai wilayah pegunungan di Pulau Jawa.
Embun upas memberikan dampak berbeda bagi masyarakat Dieng. Sektor pariwisata memperoleh manfaat, sementara petani harus menghadapi risiko kerusakan tanaman.
Banyak wisatawan sengaja datang sebelum matahari terbit untuk melihat hamparan embun putih. Kondisi ini turut meningkatkan aktivitas ekonomi pelaku usaha wisata, penginapan, dan kuliner.
Sebaliknya, embun beku dapat merusak daun kentang serta berbagai tanaman hortikultura. Jika berlangsung beberapa hari berturut-turut, hasil panen berpotensi mengalami penurunan.
Sejumlah petani melakukan berbagai cara untuk mengurangi dampak embun upas. Mereka memanfaatkan penyiraman maupun pelindung tanaman agar kristal es tidak langsung mengenai daun.
BMKG mengimbau wisatawan menyiapkan pakaian hangat sebelum berkunjung ke Dieng pada musim kemarau. Jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, dan minuman hangat sangat disarankan karena suhu dini hari dapat turun sangat ekstrem.
Fenomena embun upas menjadi bukti bahwa Dieng memiliki karakter iklim yang unik di Indonesia. Kombinasi dataran tinggi, musim kemarau yang kering, dan langit cerah mampu menciptakan suhu permukaan hingga minus 6 derajat Celsius serta menghadirkan pemandangan alam yang memukau. (mdr)














