BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terapresiasi sebesar 13 poin atau sekitar 0,07 persen ke posisi Rp17.935 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pukul 09.28 WIB.
Penguatan tersebut membuat rupiah tetap bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pergerakan positif rupiah terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, arus modal asing, serta kondisi ekonomi internasional.
Meski penguatannya relatif terbatas, posisi ini menunjukkan sentimen pasar terhadap rupiah masih cukup baik dibandingkan beberapa mata uang lain di kawasan.
Di pasar valuta asing Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Yuan China tercatat menguat sekitar 0,06 persen.
Ringgit Malaysia juga mengalami apresiasi sekitar 0,07 hingga 0,08 persen, sementara dolar Singapura naik sekitar 0,02 hingga 0,03 persen.
Sebaliknya, won Korea Selatan mengalami pelemahan sekitar 0,25 persen. Peso Filipina juga terkoreksi tipis sekitar 0,01 hingga 0,02 persen.
Adapun yen Jepang dan dolar Hong Kong bergerak relatif stabil tanpa perubahan signifikan selama perdagangan berlangsung.
Sementara itu, di pasar mata uang global, pergerakan juga menunjukkan variasi.
Euro menguat sekitar 0,01 persen terhadap dolar AS, poundsterling Inggris naik sekitar 0,04 persen, sedangkan dolar Australia mencatat penguatan paling besar dengan kenaikan sekitar 0,16 persen.
Di sisi lain, dolar Kanada mengalami pelemahan sekitar 0,03 persen dan franc Swiss turun sekitar 0,02 persen.
Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons berbagai perkembangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai peluang penguatan rupiah masih terbuka.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendukung penguatan mata uang Indonesia adalah mulai meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Lukman menjelaskan bahwa munculnya laporan mengenai sinyal kesediaan Amerika Serikat dan Iran untuk membuka jalur negosiasi telah memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global.
Kondisi tersebut mendorong minat investor kembali ke aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor geopolitik, masuknya kembali dana asing ke pasar domestik juga menjadi penopang penguatan rupiah.
Arus modal asing yang kembali mengalir dinilai meningkatkan permintaan terhadap rupiah sehingga membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Menurut Lukman, selama sentimen positif tersebut masih bertahan, rupiah berpeluang bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Namun demikian, pandangan berbeda disampaikan pengamat mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.
Ia menilai penguatan rupiah pada awal perdagangan belum tentu bertahan hingga penutupan pasar.
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah masih berpotensi mengalami fluktuasi mengikuti perkembangan sentimen global maupun pergerakan indeks dolar AS.
Ia memperkirakan rupiah berpeluang ditutup sedikit melemah pada kisaran Rp17.940 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih dipenuhi berbagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam waktu singkat.
Perkembangan ekonomi global, kebijakan bank sentral, kondisi geopolitik, hingga arus investasi asing masih menjadi faktor utama yang diperhatikan para pelaku pasar.
Meski demikian, bertahannya rupiah di bawah level Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar keuangan nasional.
Pemerintah dan pelaku pasar berharap kondisi tersebut dapat terus terjaga sehingga mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha, sektor investasi, serta aktivitas perdagangan internasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung. (*/stch/dda)














