BANYUMASEKSPRES.ID, Aktris Hana Saraswati baru-baru ini berbagi pengalaman mendalamnya dalam menjelajahi dunia akting, khususnya melalui perannya dalam film terbarunya, “Dukun Magang”, yang mengusung genre horor komedi.
Dalam upaya untuk menghayati karakternya dengan lebih baik, Hana telah melakukan riset yang tidak biasa, yaitu menyelami aspek mistis yang ada di masyarakat.
Riset tersebut membawanya ke pemahaman yang lebih dalam mengenai berbagai mitos yang berhubungan dengan kuntilanak, sosok hantu yang sudah sangat dikenal di Indonesia.
Hana Saraswati mengungkapkan bahwa selama ini, masyarakat hanya mengenal kuntilanak dalam satu bentuk yang umum, yaitu sosok berwarna putih dengan rambut panjang yang seringkali muncul di atas pohon.
“Untuk kuntilanak, memang ternyata selama ini kan yang kita tahu kuntilanak tuh gitu aja bentuknya. Warnanya putih, rambutnya panjang, adanya di atas pohon,” ungkapnya.
Namun, setelah melakukan riset yang lebih mendalam, dia menemukan fakta mengejutkan bahwa kuntilanak ternyata memiliki variasi warna dan bentuk.
“Setelah kita pelajari lebih lanjut, ternyata kuntilanak itu bisa berubah warnanya sesuai dengan kekuatannya. Ada yang merah, ada yang hitam,” kata Hana lebih lanjut.
Penemuan ini sangat mencengangkan bagi Hana karena selama ini banyak orang hanya mengenal sosok kuntilanak berwarna putih tanpa mengetahui keberagaman yang ada.
Menurut pengetahuan baru yang didapatnya dari riset ini, warna kuntilanak berkaitan erat dengan tingkat kekuatan dari sosok tersebut.
Hana menjelaskan bahwa semakin gelap warna kuntilanak, semakin besar pula kekuatan yang dimilikinya.
“Warnanya hitam itu adalah level yang paling tinggi di kekuatan kuntilanak. Kalau merah kayaknya nomor dua kalau nggak salah,” jelasnya.
Hal ini menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya mitologi horor di Indonesia, serta bagaimana masyarakat telah membangun narasi dan karakter hantu berdasarkan kepercayaan lokal.
Setelah menyelami dunia mistis demi peran barunya ini, Hana Saraswati merasa tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang cerita-cerita mistis lokal lainnya.
Dia menyadari bahwa banyak kisah horor yang dikenal oleh masyarakat tidak hanya memiliki satu versi saja tetapi juga banyak detail dan variasi yang berbeda-beda.
Proses riset ini bagi Hana bukan hanya membantu pendalaman karakter dalam film, tetapi juga membuka wawasan baru tentang mitologi yang berkembang di Indonesia.
Keterlibatan Hana dalam film “Dukun Magang” menjadi sebuah perjalanan menarik untuk memahami lebih jauh tentang budaya dan kepercayaan setempat.
Film ini tentunya tidak hanya menawarkan hiburan tetapi juga memberikan peluang untuk menggali lebih dalam tentang makna dan simbolisme di balik setiap karakter mistis.
Di tengah kesibukannya dengan proyek film tersebut, Hana juga mengajak para penonton untuk lebih terbuka terhadap kisah-kisah horor lokal yang mungkin belum banyak diketahui.
Dia percaya bahwa setiap daerah memiliki cerita uniknya sendiri terkait dengan hantu-hantu dan makhluk mistis lainnya yang dapat memberikan perspektif baru mengenai ketakutan dan kepercayaan masyarakat.
Dengan semakin berkembangnya industri perfilman di Indonesia, penting bagi para pelaku industri untuk mengambil inspirasi dari kearifan lokal dan mitologi setempat agar karya-karya mereka dapat lebih relevan dan menarik perhatian penonton. (*/stch/dda)
















