BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (12/8/2026).
Rupiah ditutup turun 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.877 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.861 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi ketika pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen global dan domestik.
Selain perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, investor juga menunggu data inflasi AS yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah salah satunya berkaitan dengan kondisi fiskal dalam negeri.
Posisi utang pemerintah hingga Juni 2026 tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun.
Jumlah tersebut setara dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 41,26 persen.
Posisi utang tersebut juga meningkat dibandingkan akhir Maret 2026 yang berada di angka Rp9.920,42 triliun.
Menurut Ibrahim, kondisi fiskal menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor ketika menentukan posisi terhadap aset dan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor eksternal. Ketegangan antara AS dan Iran, terutama terkait perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz, masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Perkembangan di kawasan tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan energi dunia.
Ketidakpastian geopolitik dapat membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Selain geopolitik, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang dipertimbangkan dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.
Ibrahim mengatakan, data inflasi akan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar untuk memperkirakan langkah bank sentral AS berikutnya.
“Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan, sementara angka yang lebih tinggi dapat memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga,” kata Ibrahim.
Jika inflasi AS menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat kembali memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Sebaliknya, apabila inflasi lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat dapat berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak lebih stabil.
Menjelang pengumuman data inflasi tersebut, pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati.
Investor memilih menunggu informasi ekonomi terbaru sebelum mengambil posisi yang lebih agresif di pasar valuta asing.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan kondisi yang beragam.
Sejumlah mata uang seperti yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura tercatat melemah terhadap dolar AS.
Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya justru bergerak menguat.
Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih merespons berbagai faktor ekonomi dan kebijakan moneter yang memengaruhi masing-masing negara.
Kondisi pasar mata uang Asia juga tidak terlepas dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor penting karena perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal global.
Bagi Indonesia, pergerakan dolar AS menjadi perhatian karena pelemahan rupiah dapat berdampak terhadap biaya sejumlah barang dan kebutuhan yang berkaitan dengan impor.
Karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi perekonomian.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih berpotensi dipengaruhi perkembangan data ekonomi AS, kebijakan The Fed, kondisi geopolitik, serta sentimen terhadap fiskal Indonesia.
Investor kini menunggu data inflasi AS untuk menentukan strategi berikutnya.
Apabila data menunjukkan inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dapat kembali muncul dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat memberikan sentimen positif bagi pasar negara berkembang.
Namun, perkembangan geopolitik dan kondisi fiskal domestik tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Dengan demikian, pelemahan rupiah ke level Rp17.877 per dolar AS pada perdagangan Rabu menjadi bagian dari dinamika pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan penantian terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. (*/stch/dda)
















