Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BPBD Banyumas Salurkan 833 Ribu Liter Air Bersih ke 33 Desa Terdampak Kekeringan

Kekeringan Meluas ke 33 DesaKekeringan Meluas ke 33 Desa
DROPING: Petugas menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak kekeringan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dampak kekeringan di Kabupaten Banyumas terus meluas seiring memasuki puncak musim kemarau 2026.

Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas hingga Rabu (5/8/2026), jumlah wilayah terdampak kini mencapai 33 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

Kondisi tersebut menyebabkan 7.230 kepala keluarga (KK) atau 23.269 jiwa mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Sebagai langkah penanganan, BPBD Banyumas terus melakukan dropping bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air.

Hingga awal Agustus 2026, total air bersih yang telah disalurkan kepada masyarakat mencapai 833 ribu liter.

Distribusi dilakukan secara bertahap berdasarkan laporan dan kebutuhan dari desa-desa terdampak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan penyaluran bantuan air bersih masih terus berlangsung karena jumlah wilayah terdampak diperkirakan akan bertambah selama musim kemarau masih berlangsung.

“Per hari ini ada 33 desa terdampak di 14 kecamatan, dengan total 7.230 KK atau 23.269 jiwa. Air bersih yang sudah tersalurkan mencapai 833 ribu liter,” ujarnya.

Wilayah yang mengalami kekeringan tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Karanglewas, Jatilawang, Sumpiuh, Purwokerto Timur, Kemranjen, Tambak, Cilongok, Patikraja, Ajibarang, Wangon, Somagede, Lumbir, Gumelar, dan Purwojati.

Di beberapa wilayah tersebut, sumber air mulai berkurang sehingga masyarakat membutuhkan pasokan air bersih dari pemerintah.

BPBD Banyumas juga mencatat adanya penambahan desa yang masuk kategori terdampak kekeringan.

Beberapa desa yang baru mengajukan bantuan antara lain Gumelar Kidul, Langgongsari, Karanganyar, Jingkang, Menawi, Cingebul, Dermaji, Tlaga, Kalitapen, dan Gerduren.

Bertambahnya desa terdampak menunjukkan bahwa kondisi kemarau mulai dirasakan di lebih banyak wilayah Kabupaten Banyumas.

Dalam proses distribusi bantuan, BPBD Banyumas tidak bekerja sendiri.

Penyaluran air bersih dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai instansi dan lembaga agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara maksimal.

Sejumlah pihak yang ikut terlibat antara lain BPJS Kesehatan, PDAM, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu, Palang Merah Indonesia (PMI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Dompet Dhuafa, serta berbagai instansi lainnya.

Menurut Abdul Ladjis, koordinasi lintas lembaga menjadi faktor penting agar distribusi bantuan berjalan efektif dan merata.

Meskipun air bersih dikirim oleh berbagai pihak, seluruh laporan tetap dipusatkan melalui BPBD Banyumas sehingga penyaluran tidak menumpuk di satu wilayah saja.

“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh instansi yang ikut membantu. Meski distribusi dilakukan oleh berbagai pihak, pelaporannya tetap melalui BPBD agar penyaluran bantuan merata,” katanya.

BPBD Banyumas memperkirakan kebutuhan air bersih akan terus meningkat selama Agustus hingga beberapa pekan mendatang.

Memasuki puncak musim kemarau, potensi bertambahnya desa yang mengalami krisis air masih cukup tinggi.

Karena itu, BPBD terus bersiaga untuk memastikan distribusi bantuan dapat segera dilakukan ketika ada permohonan dari pemerintah desa.

“Memasuki Agustus kami memperkirakan permintaan dropping air bersih masih akan meningkat. Karena itu kami tetap siaga mengantisipasi bertambahnya wilayah terdampak selama puncak musim kemarau,” pungkas Abdul.

Data BPBD menunjukkan peningkatan dampak kekeringan terjadi dalam waktu relatif singkat.

Sebelumnya, pada 23 Juli 2026, jumlah desa terdampak baru mencapai 18 desa dengan sekitar 15.575 jiwa yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Kurang dari dua pekan kemudian, jumlah tersebut meningkat menjadi 33 desa dengan 23.269 jiwa terdampak.

Pemerintah Kabupaten Banyumas mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau berlangsung.

Selain itu, pemerintah desa diharapkan segera melaporkan kondisi apabila mulai mengalami kekurangan air bersih sehingga bantuan dapat segera disalurkan.

Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat, diharapkan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi hingga musim kemarau berakhir. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
OJK Blokir 604 Ribu Rekening Penipuan

OJK Blokir 604 Ribu Rekening Penipuan, 723,7 Miliar Dana Korban Berhasil Diamankan

Berita Selanjutnya
KPK Usut Sunat TPP ASN

Bupati Kuansing Nonaktif Diduga Potong TPP ASN, KPK Telusuri Aliran Dana Gratifikasi