BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap terus memperkuat upaya pengendalian tuberkulosis (TBC) dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat desa dan kelurahan.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan deteksi dini TBC, mempercepat penemuan kasus, sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
Hingga pertengahan tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap telah menemukan 3.198 kasus TBC, atau sekitar 51,08 persen dari target penemuan sebanyak 6.261 kasus sepanjang tahun ini.
Capaian tersebut menunjukkan proses pencarian kasus terus berjalan, namun masih diperlukan upaya yang lebih intensif agar target penemuan dapat tercapai hingga akhir tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Hassanudin, mengatakan sebagian besar pasien yang telah ditemukan kini sudah mendapatkan penanganan melalui program pengobatan yang disediakan pemerintah.
“Dari total kasus yang ditemukan, sebanyak 3.011 pasien atau sekitar 94 persen telah menjalani pengobatan,” kata Hassanudin.
Menurutnya, keberhasilan penanganan TBC tidak hanya bergantung pada fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat melalui peran aktif kader kesehatan di setiap desa dan kelurahan.
Para kader menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan skrining karena memiliki akses langsung kepada masyarakat.
Mereka melakukan pendekatan dari rumah ke rumah untuk mengidentifikasi warga yang memiliki gejala TBC sehingga pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat sebelum penyakit berkembang lebih parah maupun menular kepada orang lain.
“Kader memiliki peran penting dalam upaya pengendalian TBC,” ujarnya.
Selain melakukan pencarian kasus secara aktif, kader juga memiliki tanggung jawab sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) bagi pasien TBC.
Tugas tersebut sangat penting karena pengobatan tuberkulosis membutuhkan kedisiplinan tinggi dan harus dijalani secara rutin dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Melalui pendampingan tersebut, kader memastikan pasien tetap meminum obat sesuai jadwal, memantau perkembangan kondisi kesehatan, serta memberikan motivasi agar pasien tidak menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh oleh tenaga medis.
“Kader menjadi ujung tombak deteksi dini TBC karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat. Mereka melakukan skrining, mendampingi pasien agar rutin minum obat, serta memantau kondisi pasien selama masa pengobatan,” katanya, Rabu (5/8).
Strategi pemberdayaan kader dinilai mampu memperluas jangkauan pelayanan kesehatan hingga ke lingkungan masyarakat.
Dengan keberadaan kader di setiap desa dan kelurahan, proses identifikasi warga yang diduga mengalami gejala TBC dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Pendekatan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan dini apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam yang berlangsung lama, maupun keringat berlebih pada malam hari.
Selain menekan angka penularan, deteksi dini juga memberi peluang lebih besar bagi pasien untuk memperoleh penanganan sejak awal sehingga peluang kesembuhan semakin tinggi.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap terus memperkuat koordinasi dengan puskesmas, tenaga kesehatan, dan kader TBC agar target penemuan kasus dapat tercapai sesuai rencana.
Melalui keterlibatan kader yang semakin aktif, Dinas Kesehatan berharap lebih banyak penderita TBC dapat ditemukan lebih awal sehingga rantai penularan di masyarakat dapat ditekan.
Pendampingan yang dilakukan kader juga diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga selesai.
“Harapannya, pendampingan yang dilakukan kader diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga sembuh,” pungkas Hassanudin. (jul/stch/dda)
















