BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Jalan terobosan yang menghubungkan Mersi ke Sokaraja kembali menjadi sumber keluhan warga. Jalan alternatif ini, yang setiap hari ramai dilintasi pengendara, mengalami kerusakan parah dengan kondisi berlubang dan tergenang air saat hujan. Beberapa titik bahkan menyerupai kubangan.
“Padahal dilewati banyak kendaraan tiap hari, tapi malah kayak kubangan. Kalau hujan lubangnya ketutup air, bahaya banget,” ujar Wahyu, seorang pengguna jalan berusia 52 tahun, pada Senin (23/6).
Jalan ini telah lama menjadi rute pilihan bagi warga lokal, ojek online, hingga truk barang.
Meskipun jalannya sempit, banyak pengendara memilih jalur ini untuk menghindari kemacetan di jalan utama Purwokerto–Sokaraja.
Namun demikian, kerusakan yang terus berulang tidak hanya mengganggu kenyamanan tetapi juga membahayakan keselamatan para pengguna jalan.
Linda, seorang warga berusia 40 tahun, bercerita bahwa anaknya pernah mengalami kecelakaan karena tidak melihat lubang yang tertutup air.
“Anak saya jatuh, rem mendadak karena nginjak lubang yang ketutup air. Nggak kelihatan. Ngeri banget,” ungkapnya.
Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi di Jalan KH Nachrowi. Menurut keterangan warga setempat, jalan tersebut telah diperbaiki setidaknya tiga kali dalam dua tahun terakhir.
Namun perbaikan itu tidak bertahan lama dan jalan kembali rusak dengan cepat.
“Kalau dihitung sudah tiga kali perbaikan dalam dua tahun. Tapi ya gitu, rusak lagi. Semoga ke depan diperbaiki yang lebih awet,” kata Yuni, seorang warga berumur 50 tahun.
Yuni juga menambahkan bahwa pihak kelurahan sudah melaporkan kondisi ini ke dinas terkait.
Namun hingga kini, perbaikan besar belum dilakukan karena diduga masih menunggu proses penganggaran dari pemerintah daerah.
“Kelurahan katanya sudah lapor. Sekarang tinggal nunggu ditindaklanjuti aja,” tambahnya.
Para pengendara kini harus ekstra hati-hati saat melintasi jalan tersebut, terutama ketika hujan turun dan membuat lubang-lubang di jalan tak terlihat jelas.
Banyak pengendara terpaksa memperlambat laju kendaraan mereka untuk menghindari terjebak dalam lubang-lubang tersebut.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan nyata dan tidak lagi melakukan tambalan sementara yang hanya bersifat jangka pendek.
Mereka mendesak adanya perbaikan menyeluruh dengan menggunakan material dan konstruksi yang lebih kuat agar jalan tidak cepat rusak lagi dan tidak terus-menerus mengancam keselamatan pengguna jalan.
Kondisi ini menggambarkan tantangan infrastruktur yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Permasalahan seperti ini membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait agar dapat memberikan solusi jangka panjang demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat luas.
Sebagai warga negara yang peduli terhadap keamanan publik, kita perlu mendorong pemerintah untuk lebih responsif terhadap masalah-masalah infrastruktur seperti ini.
Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa fasilitas umum dapat digunakan secara aman oleh semua orang tanpa khawatir akan bahaya tersembunyi di balik genangan air atau kerusakan jalan lainnya.
Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam melaporkan kondisi jalan yang rusak kepada pihak berwenang juga sangat penting untuk mempercepat proses penanganan masalah ini.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, kita bisa mencapai hasil yang lebih baik demi kepentingan bersama.
Pengalaman buruk seperti yang dialami oleh Linda dan anaknya seharusnya tidak perlu terulang jika ada tindakan pencegahan sejak dini melalui perbaikan infrastruktur yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap fasilitas publik memenuhi standar keamanan dan kenyamanan sehingga masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang tanpa rasa khawatir akan keselamatan mereka di jalan raya.
Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan transportasi yang aman dan nyaman bagi setiap pengguna jalan di Purwokerto maupun wilayah lainnya di Indonesia. (zet/stch)
















