BANYUMASEKSPRES.ID, Kegagalan Belanda melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 tak hanya mengakhiri perjalanan De Oranje di turnamen, tetapi juga memicu gelombang kritik terhadap para pemain dan staf pelatih.
Salah satu sosok yang menjadi sasaran utama adalah kapten tim, Virgil van Dijk, yang dinilai gagal memimpin lini pertahanan saat menghadapi Maroko.
Belanda harus mengakhiri kiprahnya setelah kalah melalui adu penalti pada babak 32 besar.
Kekalahan tersebut terasa menyakitkan karena De Oranje sebenarnya sempat berada di atas angin setelah unggul lebih dahulu sebelum akhirnya gagal mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Gol Cody Gakpo pada menit ke-72 sempat membuat Belanda berada di ambang kemenangan.
Namun, Maroko berhasil menyamakan kedudukan pada masa injury time sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti.
Dalam drama tos-tosan tersebut, Maroko tampil lebih tenang dan akhirnya memastikan kemenangan sekaligus mengakhiri langkah Belanda di Piala Dunia 2026.
Hasil itu langsung memunculkan kritik dari berbagai kalangan, terutama media Belanda.
Sorotan paling tajam datang dari jurnalis senior harian De Telegraaf, Valentijn Driessen.
Dalam ulasannya, Driessen menilai performa Van Dijk tidak lagi berada pada level terbaiknya.
Bek Liverpool itu dianggap gagal menjalankan perannya sebagai pemimpin di lini belakang sekaligus tidak mampu menjaga konsentrasi tim pada menit-menit krusial.
Driessen bahkan menggunakan kalimat yang cukup keras dengan menyebut Van Dijk sudah “selesai”.
Ia juga menilai sang kapten telah “mengkhianati segalanya yang diperjuangkan tim nasional kami.”
Pernyataan tersebut segera menjadi perbincangan luas di kalangan pencinta sepak bola Belanda.
Sebagian mendukung kritik tersebut karena menilai Van Dijk tidak tampil dominan seperti biasanya, sementara sebagian lainnya menganggap kekalahan tidak sepantasnya dibebankan kepada satu pemain.
Usai pertandingan, Van Dijk mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa Belanda harus tersingkir lebih cepat dari yang diharapkan.
Meski demikian, ia merasa permainan tim secara keseluruhan sebenarnya berjalan sesuai rencana selama sebagian besar pertandingan.
“Ini sangat sulit untuk menganalisisnya sekarang. Pertandingan yang intens. Saya pikir kami terorganisir dengan baik dalam bertahan,” ujar Van Dijk.
Menurutnya, sepanjang pertandingan Maroko tidak memperoleh banyak ruang untuk membongkar pertahanan Belanda.
Organisasi permainan dinilai cukup disiplin hingga memasuki menit-menit akhir pertandingan.
Namun, tekanan yang terus diberikan lawan membuat Belanda kehilangan fokus pada masa tambahan waktu.
Kesalahan tersebut dimanfaatkan Maroko untuk mencetak gol penyeimbang yang mengubah jalannya pertandingan.
“Pada akhirnya, di waktu tambahan, kami terdesak. Kemudian berlanjut ke adu penalti; sayangnya, kami tersingkir,” katanya.
Selain penampilannya di lini belakang, Van Dijk juga mendapat sorotan karena tidak masuk dalam daftar penendang penalti.
Sebagai kapten sekaligus pemain paling berpengalaman di skuad Belanda, banyak pihak menilai ia seharusnya mengambil tanggung jawab pada momen penentuan tersebut.
Kritik semakin menguat karena Maroko sebenarnya sempat memberikan peluang kepada Belanda setelah penendang pertama mereka gagal menjalankan tugasnya.
Namun, De Oranje tidak mampu memanfaatkan momentum itu untuk membalikkan keadaan.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 juga memicu perubahan besar di tubuh tim nasional Belanda.
Sehari setelah tersingkir, pelatih Ronald Koeman memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya.
Keputusan tersebut menandai dimulainya fase baru bagi De Oranje yang diperkirakan akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk terhadap komposisi pemain senior.
Meski mendapat kritik keras, Van Dijk masih menjadi salah satu bek paling berpengalaman yang dimiliki Belanda.
Pemain berusia 35 tahun itu diperkirakan tetap memiliki peran penting dalam proses regenerasi tim apabila masih memutuskan melanjutkan karier internasionalnya.
Namun untuk saat ini, bek Liverpool tersebut harus menerima kenyataan pahit menjadi salah satu figur yang paling disorot setelah kegagalan Belanda di Piala Dunia 2026.
Kekalahan dari Maroko bukan hanya mengakhiri perjalanan De Oranje di turnamen, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan tim nasional Belanda serta para pemain senior yang selama ini menjadi tulang punggung skuad. (*/stch/dda)
















