BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di sudut Kelurahan Kebokura, Kecamatan Sumpiuh, terdapat tempat potong rambut yang menawarkan pengalaman berbeda dari barbershop pada umumnya.
Di sini, suara mesin cukur berpadu harmonis dengan desis halaman buku yang dibalik.
Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa terlihat antusias membaca sambil menunggu giliran mereka.
Barbershop ini menjadi pelopor dalam menggabungkan jasa pangkas rambut dengan literasi, sebuah inovasi unik yang semakin langka di era digital saat ini.
Barbershop milik Sri Agung Pranoto, atau dikenal akrab dengan sebutan Mas Guru, bukan sekadar tempat untuk merapikan rambut.
Bagi masyarakat sekitar, tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang literasi yang hidup.
Berbagai rak penuh buku dari beragam genre menghiasi pojok ruangan—mulai dari petualangan hingga ensiklopedia anak dan kisah inspiratif.
Kunjungan rombongan siswa SDN 1 Banjarpanepen pada Senin (10/11) lalu membuktikan popularitasnya.
Mereka datang untuk potong rambut menjelang seleksi Pramuka Garuda. Satu per satu duduk menunggu antrean, namun tidak ada yang tampak bosan.
“Sambil menunggu giliran potong rambut, saya baca buku Petualangan Antropolog Cilik. Kebetulan buku ini nggak ada di sekolah,” ujar Ahmad Hasim Asngari, siswa kelas lima yang tampak asyik dengan bacaannya.
Meski harus menunggu lebih dari sepuluh antrean, waktu terasa berlalu cepat bagi Hasim.
Rak buku di barbershop ini seakan membuka jendela kecil menuju dunia imajinasi di tengah kesederhanaan ruang pangkas.
Agung, sang pemilik sekaligus seorang guru di salah satu sekolah dasar di Sumpiuh, mengungkapkan bahwa ide mendirikan barbershop literasi ini lahir dari keprihatinannya melihat minat anak-anak terhadap buku fisik yang semakin menurun akibat derasnya arus digitalisasi.
“Literasi, khususnya membaca buku harus tetap lestari. Jadi siapa pun yang antre potong rambut bisa sambil membaca,” ucapnya sembari tersenyum.
Koleksi buku di barbershop itu sebagian besar berasal dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Griya Baca Jelita, tempat Agung juga aktif berkontribusi.
Melalui inisiatif ini, ia berharap dapat membiasakan masyarakat berinteraksi dengan buku dalam suasana santai dan egaliter.
Barbershop Mas Guru kini bukan hanya sekadar ruang untuk memperindah penampilan tetapi juga memperkaya wawasan.
Di tengah gempuran gadget dan digitalisasi informasi yang kian masif, barbershop kecil di Kebokura ini membuktikan bahwa budaya membaca masih bisa tumbuh subur jika ada usaha untuk menanamkannya kembali kepada masyarakat.
Tempat sederhana ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketergantungan pada teknologi dan upaya pelestarian budaya literasi.
Fenomena unik ini menggugah perhatian berbagai kalangan karena berhasil menyatukan dua dunia yang berbeda—grooming dan pendidikan—menjadi satu kesatuan harmonis yang saling melengkapi.
Keberadaan barbershop literasi seperti milik Agung juga menunjukkan bahwa inovasi bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar bagi komunitas sekitar.
Melalui pendekatan personal dan kreatif seperti ini, kebiasaan membaca dapat kembali ditumbuhkan secara perlahan namun pasti.
Barbershop Mas Guru adalah contoh nyata bahwa dengan niat baik dan usaha keras perubahan positif dapat terjadi meskipun di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
Secara umum keberhasilan barbershop literasi ini tidak terlepas dari komitmen Agung dalam mempromosikan pentingnya membaca kepada generasi muda serta dukungan penuh dari komunitas lokal yang turut menyumbangkan berbagai jenis bacaan menarik ke rak-rak barbershop. (fij/dda)
















