Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Bumbu Giling Laris di Pasar Induk Banjarnegara, Warga Antre Bumbu Rendang Jadi Incaran

Ketika aroma rendang menyihir pagi di pasar banjarnegaraKetika aroma rendang menyihir pagi di pasar banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pagi baru saja menyapa langit saat Pasar Induk Banjarnegara langsung dipenuhi riuh manusia yang bergerak cepat dan rapi. Bukan hanya suara pedagang yang bersahutan, tapi juga aroma kuat yang menyeruak dari salah satu sudut pasar: bumbu rendang.

Hari itu, daging kurban yang baru saja dibagikan memenuhi kantong-kantong plastik di tangan warga. Namun bukan dagingnya yang paling menyita perhatian, melainkan antrean panjang di lapak-lapak bumbu giling yang kini menjadi bagian penting dalam tradisi memasak saat Idul Adha.

Nur Hidayanto, salah satu pedagang bumbu giling yang telah lebih dari sepuluh tahun berjualan di pasar ini, menjadi saksi hidup meningkatnya kebutuhan bumbu masak siap pakai.

Di depannya, ember-ember besar berisi campuran cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan berbagai rempah terlihat terus diaduk dan dikemas tanpa henti.

“Yang paling laris itu bumbu rendang. Besok sudah mulai kurban, jadi orang-orang sudah mulai siapin masak daging dari sekarang,” ujarnya, sambil menimbang pesanan dengan gerakan cepat.

Biasanya, Nur hanya menjual satu hingga dua kilo bumbu setiap pagi. Namun mendekati Idul Adha tahun ini, permintaan meningkat drastis hingga dua kali lipat.

“Sekarang pagi-pagi saja sudah habis. Kebanyakan cari bumbu rendang dan soto. Favorit memang kalau Lebaran Kurban ya dua itu,” tambahnya.

Alih-alih menimbun stok yang berisiko basi, Nur memilih strategi berbeda. Ia menambah tenaga kerja demi mempercepat pelayanan di tengah lonjakan pembeli. Dua orang tambahan ia rekrut, agar antrean panjang tak sampai membuat pembeli kehilangan sabar.

“Kalau stok sih tetap seperti biasa, saya cuma tambah orang. Yang penting pembeli dilayani cepat, karena enggak semua sabar nunggu. Tapi alhamdulillah, tahun ini semua habis terus,” tuturnya dengan nada puas.

Sementara itu, Soni—pedagang bumbu giling lain di kios yang tak jauh dari milik Nur—mengaku juga mengalami lonjakan penjualan yang signifikan. Baginya, momen Idul Adha selalu menjadi puncak penjualan setiap tahun.

“Sudah biasa ramai tiap tahun, tapi tetap saja kaget kalau lihat antrean. Bisa sampai tiga hari setelah Idul Adha tetap laris. Orang-orang datang bawa daging, langsung ke sini cari bumbu. Enggak sempat bikin sendiri di rumah, apalagi yang kerja,” katanya.

Di tengah padatnya lorong-lorong pasar yang dipenuhi aroma daging kurban dan wangi tajam rempah, ada banyak kisah kecil yang membingkai keseharian masyarakat. Salah satunya datang dari Suliah, ibu rumah tangga asal Kecamatan Bawang. Pagi itu ia datang membawa dua kantong plastik kosong dan secarik kertas berisi daftar belanja.

“Lebih praktis saja. Saya enggak biasa ngulek bumbu sendiri. Ini beli bumbu rendang untuk masak daging kurban besok. Tadi antre sebentar, tapi ya enggak masalah. Toh hasilnya enak dan cepat,” ujarnya sembari tersenyum.

Apa yang dilakukan Suliah mencerminkan pergeseran gaya hidup masyarakat saat ini. Bumbu giling bukan lagi alternatif, melainkan kebutuhan.

Di tengah aktivitas harian yang semakin padat, efisiensi waktu menjadi prioritas tanpa mengorbankan cita rasa masakan rumahan.

Bumbu giling kini menjadi jembatan antara nilai tradisional dan gaya hidup modern. Ia membawa kepraktisan tanpa menghapus kekayaan rasa. Dari tangan pedagang ke panci di dapur, dari adukan bumbu ke semangkuk rendang hangat di meja makan keluarga.

Pasar Induk Banjarnegara hari itu bukan sekadar lokasi transaksi jual beli. Ia menjadi ruang kolektif di mana tradisi, semangat kebersamaan, dan kenangan kuliner berkumpul menjadi satu.

Warga bukan hanya datang untuk berbelanja, tapi juga menjaga cita rasa masa lalu agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah. (jud/stch)

Berita Sebelumnya
Sapi presiden hasilkan 396 kg daging

Sapi Kurban Presiden di Purbalingga Hasilkan 396 Kg Daging

Berita Selanjutnya
Aplikasi jadiduit

Main di Aplikasi JadiDuit 4 Jam Dapat Rp2,8 Juta? Ini Fakta & Cara Kerjanya