BANYUMASEKSPRES.ID, SEOUL – Gelombang panas ekstrem di Korea Selatan semakin memburuk dan memaksa pemerintah meningkatkan status kesiapsiagaan nasional.
Untuk pertama kalinya, pemerintah bersiap menetapkan status peringatan gelombang panas parah setelah suhu udara mencapai rekor tertinggi dalam 122 tahun terakhir.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut tidak hanya memecahkan rekor suhu, tetapi juga menimbulkan korban jiwa serta ribuan kasus gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih.
Berdasarkan data terbaru, sedikitnya 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak gelombang panas yang melanda berbagai wilayah Korea Selatan.
Selain itu, lebih dari dua ribu warga harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan suhu udara yang terus meningkat sejak memasuki musim panas tahun ini.
Suhu udara di sejumlah wilayah Korea Selatan diperkirakan masih akan berada pada tingkat yang sangat tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Di sejumlah daerah, temperatur diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius dan bertahan di kisaran 37 derajat Celsius.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, hingga berbagai gangguan kesehatan lainnya, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Sebelumnya, Kota Yangsan yang berada di wilayah tenggara Korea Selatan mencatat suhu udara mencapai 42,5 derajat Celsius pada Minggu (2/8/2026).
Angka tersebut menjadi suhu tertinggi yang pernah tercatat sejak sistem pengamatan cuaca modern mulai dilakukan sekitar 122 tahun lalu.
Rekor tersebut sekaligus menunjukkan semakin ekstremnya perubahan pola cuaca yang terjadi di negara tersebut.
Data dari Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) menunjukkan jumlah korban akibat gelombang panas terus bertambah sejak Mei 2026.
Selain korban meninggal dunia, ribuan warga mengalami berbagai keluhan kesehatan akibat paparan suhu tinggi yang berlangsung dalam waktu lama.
Meningkatnya jumlah korban membuat pemerintah Korea Selatan memperkuat berbagai langkah darurat.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah diminta meningkatkan koordinasi untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan bahwa perubahan iklim telah membuat cuaca ekstrem menjadi tantangan baru yang harus dihadapi secara serius.
Menurutnya, sistem penanganan bencana dan krisis nasional perlu diperbarui agar mampu merespons kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
“Kita perlu melakukan upaya untuk merombak secara mendasar sistem penanganan krisis nasional, karena cuaca ekstrem seperti ini kini mulai menjadi hal yang normal,” kata Lee dalam rapat kabinet.
Selain meminta peningkatan kesiapsiagaan seluruh kementerian dan pemerintah daerah, Presiden Lee juga menginstruksikan agar pasokan listrik tetap terjaga selama periode gelombang panas.
Tingginya penggunaan pendingin ruangan diperkirakan akan meningkatkan konsumsi listrik secara signifikan sehingga perlu diantisipasi agar tidak terjadi gangguan pasokan energi.
Pemerintah juga diminta memastikan berbagai layanan publik tetap berjalan dengan baik serta mengambil langkah-langkah yang dapat melindungi aktivitas masyarakat sehari-hari selama suhu ekstrem masih berlangsung.
Berbagai upaya mitigasi, mulai dari penyediaan tempat berteduh hingga edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paparan panas, terus diperkuat.
Fenomena gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan menjadi salah satu dampak nyata perubahan iklim yang kini dirasakan berbagai negara.
Dengan suhu yang mencetak rekor tertinggi dalam lebih dari satu abad, pemerintah terus berupaya meminimalkan risiko terhadap keselamatan masyarakat melalui peningkatan kesiapsiagaan, perlindungan layanan publik, serta penguatan sistem penanganan bencana menghadapi cuaca ekstrem. (*/stch/dda)














