Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kementerian ESDM Pastikan Ketegangan AS–Venezuela Tak Ganggu Pasokan BBM Indonesia

BBM Aman Meski Konflik AS–Venezuela MemanasBBM Aman Meski Konflik AS–Venezuela Memanas
DOORSTOP: Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman memberikan keterangan pada pers usai penutupan Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025-2026 di Jakarta, Senin (5/1)

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa situasi tersebut belum membawa dampak signifikan terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, pasokan maupun harga BBM di Indonesia tetap stabil.

“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” ujar Laode dengan tegas usai penutupan Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025-2026 di Jakarta, Senin (5/1).

Pernyataan ini menegaskan kesiapan pemerintah Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang dapat mempengaruhi sektor energi nasional.

Laode juga menjelaskan bahwa pemerintah tetap waspada dengan melakukan langkah-langkah antisipasi dan terus memantau perkembangan situasi global, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia.

“Antisipasi itu selalu ada,” tambahnya, menegaskan komitmen negara untuk menjaga kestabilan energi nasional.

Sementara itu, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memberikan tanggapan resmi terkait aktivitas mereka di Venezuela.

PIEP, yang memiliki kepemilikan mayoritas sebesar 71,09 persen pada Maurel & Prom (M&P), menyatakan bahwa berdasarkan pemantauan yang dilakukan hingga saat ini tidak ada dampak signifikan terhadap aset maupun staf M&P di Venezuela.

Perusahaan ini terus melakukan pemantauan intensif dan menjalin koordinasi erat dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas sebagai langkah preventif.

Lebih lanjut, Laode juga menyinggung rencana strategis pemerintah untuk tahun 2026, yakni mengurangi ketergantungan pada impor solar dengan meningkatkan produksi dalam negeri.

Kebijakan ini sejalan dengan rencana operasional proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Januari 2026.

“Tahun 2026 ini sesuai yang sudah diumumkan oleh Pak Menteri, bahwa solar itu nanti sudah kita tidak impor lagi. Jadi kita mengandalkan produksi dalam negeri setelah beroperasinya RDMP Balikpapan,” jelas Laode.

Rencana ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional serta mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Pemerintah berkomitmen untuk terus menginformasikan perkembangan terkait RDMP dan kebijakan lanjutan lainnya sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan keamanan energi bagi masyarakat Indonesia di masa depan.

Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, langkah antisipatif seperti ini menjadi sangat penting bagi Indonesia.

Dengan menjaga kestabilan pasokan BBM dan memperkuat produksi dalam negeri, Indonesia dapat lebih siap menghadapi fluktuasi pasar global serta menjaga keamanan energi nasional. (*/dda)

Berita Sebelumnya
Produk Impor Harga Terjangkau di Fairiescloset

Fairiescloset Store Purwokerto: Toko Barang Impor Murah dengan Promo Beli 1 Gratis 1

Berita Selanjutnya
Restorative Justice Ditolak

Restorative Justice Ditolak, Kasus Inara Rusli Masuk Tahap Gelar Perkara di Polda Metro