Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Tinggalkan Pekerjaan di Industri, Pemuda Cilongok Sukses Bangun Bisnis Selada Hidroponik

Putuskan Tinggalkan Dunia IndustriPutuskan Tinggalkan Dunia Industri
PANEN: Khayatul Muallimin merawat tanaman selada hidroponik di kebunnya di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok. Berawal dari 15 lubang tanam, kini kebun miliknya berkembang menjadi sekitar 3.000 lubang tanam

BANYUMASEKSPRES.ID, Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pertanian modern, kisah sukses Khayatul Muallimin, pemuda asal Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia agribisnis.

Berawal dari percobaan sederhana dengan hanya 15 lubang tanam di halaman rumah, kini ia berhasil mengembangkan kebun selada hidroponik hingga memiliki sekitar 3.000 lubang tanam dengan omzet mencapai jutaan rupiah setiap bulan.

Pria berusia 28 tahun tersebut merupakan lulusan SMK Teknik Mesin di Purwokerto.

Sebelum menjadi petani hidroponik, Khayatul sempat meniti karier sebagai teknisi mesin di sejumlah perusahaan besar, di antaranya di kawasan industri Cikampek, Kompas Gramedia, hingga Astra.

Namun, perjalanan kariernya berubah ketika masa kontrak kerja berakhir pada awal 2020, bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang membuat banyak sektor industri mengalami perlambatan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Khayatul justru menemukan peluang baru yang mengubah jalan hidupnya.

Saat berkunjung ke Yogyakarta, ia bertemu seorang teman yang menempuh pendidikan di bidang pertanian.

Dari pertemuan itulah ia mengetahui adanya program bantuan budidaya hidroponik dari Kementerian Pertanian.

Informasi tersebut membangkitkan rasa penasarannya untuk mempelajari teknik bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah.

Pada 2021, Khayatul mulai belajar secara mandiri dengan membangun instalasi hidroponik sederhana yang hanya memiliki 15 lubang tanam.

Instalasi kecil tersebut menjadi tempatnya bereksperimen sekaligus memahami teknik menanam selada hidroponik, mulai dari penyemaian benih, pemberian nutrisi, hingga proses panen.

Tak lama kemudian, bantuan dari Kementerian Pertanian benar-benar terealisasi.

Bersama dua rekannya, ia membentuk kelompok tani yang memperoleh fasilitas budidaya hidroponik dengan kapasitas sekitar 480 lubang tanam di wilayah Ajibarang.

Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa sektor pertanian modern memiliki prospek yang menjanjikan.

Berbekal semangat untuk berkembang, Khayatul mengambil keputusan besar dengan membangun kebun hidroponik milik sendiri.

Demi mewujudkan impian tersebut, ia bahkan rela menjual sejumlah aset sebagai modal untuk menambah instalasi hidroponik.

Keputusan yang penuh risiko itu akhirnya menjadi titik balik dalam perjalanan usahanya. Perlahan namun pasti, kapasitas produksi terus meningkat.

Dari hanya belasan lubang tanam, kebun hidroponiknya kini berkembang menjadi sekitar 3.000 lubang tanam yang dipenuhi deretan selada hijau berkualitas.

Dalam proses pengembangannya, Khayatul juga beberapa kali berpindah lokasi agar memiliki lahan yang lebih luas dan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.

Menurut Khayatul, musim kemarau menjadi waktu terbaik untuk membudidayakan selada hidroponik.

Intensitas hujan yang lebih rendah membuat tanaman tumbuh lebih cepat dengan kualitas daun yang lebih segar dan lebih baik dibandingkan saat musim penghujan.

Saat ini, proses panen dilakukan hampir setiap hari mengikuti kebutuhan pasar.

Dalam satu bulan, kebun hidroponiknya mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 kilogram selada segar yang dipasarkan ke berbagai pelanggan.

Seiring meningkatnya kapasitas produksi, pendapatan usahanya juga mengalami pertumbuhan signifikan.

Jika pada masa awal merintis bisnis hidroponik penghasilannya hanya sekitar Rp500 ribu per bulan, kini omzet rata-rata telah mencapai sekitar Rp6 juta setiap bulan.

Bahkan, ketika permintaan pasar sedang tinggi, pendapatan tersebut dapat meningkat lebih besar lagi.

Tak hanya fokus mengembangkan usaha, Khayatul juga aktif membagikan pengalaman dan edukasi mengenai budidaya hidroponik melalui media sosial.

Ia berharap semakin banyak anak muda yang berani memanfaatkan sektor pertanian modern sebagai peluang bisnis yang menjanjikan sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan.

Kisah Khayatul Muallimin membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu berawal dari modal besar.

Dengan kemauan belajar, keberanian mengambil risiko, serta konsistensi dalam mengembangkan usaha, budidaya selada hidroponik mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan sekaligus membuka peluang baru bagi generasi muda untuk membangun usaha di sektor pertanian modern. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Banjarnegara Jadi Percontohan Pertanian Terpadu

Program Integrated Smart Farming Banjarnegara Dimulai, Pemprov Jateng Beri Bantuan 500 Ayam Kampung

Berita Selanjutnya
Gunung Bromo Diselimuti Embun Upas

Mengenal Volcano Tourism, Tren Wisata Petualangan yang Semakin Populer di Indonesia