BANYUMASEKSPRES.ID, Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan politik yang semakin besar menjelang pemilihan Presiden FIFA periode 2027–2031.
Di tengah dukungan yang masih diberikan PSSI, sejumlah federasi sepak bola nasional justru mulai menarik dukungan terhadap pencalonan kembali orang nomor satu di FIFA tersebut.
Gelombang penolakan ini dipicu oleh kontroversi proposal penjualan sebagian saham kompetisi milik FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta melalui skema FIFA Forward Enterprise (FFE).
Meskipun rencana tersebut akhirnya dibatalkan, polemik yang muncul telah memicu ketidakpuasan di kalangan federasi anggota maupun pejabat internal FIFA.
Situasi tersebut menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Gianni Infantino sejak menjabat sebagai Presiden FIFA.
Selain menghadapi kritik dari sejumlah asosiasi sepak bola, ia juga mulai kehilangan dukungan dari beberapa tokoh penting di lingkungan organisasi sepak bola dunia tersebut.
Federasi Sepak Bola Wales (FAW) menjadi organisasi pertama yang secara terbuka menyatakan mencabut dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino pada Senin (3/8).
Tidak lama berselang, langkah serupa diikuti oleh Federasi Sepak Bola Inggris (FA), Federasi Sepak Bola Serbia (FSS), Federasi Sepak Bola Swedia (SvFF), hingga Federasi Sepak Bola Georgia.
Bertambahnya jumlah federasi yang menarik dukungan diperkirakan belum akan berhenti.
Laporan Sky Sports menyebutkan bahwa masih ada sejumlah asosiasi anggota FIFA yang tengah mempertimbangkan mengambil langkah serupa dalam beberapa hari ke depan.
“Kemungkinan akan ada lebih banyak surat dan pengumuman dalam beberapa hari mendatang, dan semuanya dirancang untuk memberikan tekanan maksimal pada Infantino,” tulis Sky Sports.
Tidak hanya berasal dari luar organisasi, tekanan terhadap Gianni Infantino juga muncul dari kalangan elite FIFA.
Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom mengirimkan pesan kepada seluruh staf agar tetap menjalankan tugas sesuai Statuta FIFA di tengah kondisi organisasi yang disebutnya sedang menghadapi situasi sulit.
“Kita semua telah terlempar ke tengah kekacauan yang sulit dipahami dan diterima. Namun sebagai Sekretaris Jenderal saya menyarankan kita semua tetap fokus pada apa yang selalu menyatukan kita: melayani sepak bola dan melayani 211 Asosiasi Anggota, bergandengan tangan dengan semua pemangku kepentingan terkait dan sepenuhnya mematuhi Statuta FIFA dan Peraturan FIFA,” tulis Grafstrom.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa kondisi internal FIFA sedang mengalami tekanan akibat polemik yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah pihak berharap organisasi tetap berjalan sesuai prinsip transparansi, tata kelola yang baik, dan independensi.
Kritik juga datang dari Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger.
Mantan pelatih Arsenal tersebut mengaku baru mengetahui adanya proposal penjualan saham kompetisi FIFA melalui pemberitaan media, bukan melalui pembahasan resmi di internal organisasi.
“Keputusan membatalkan proyek itu benar-benar diperlukan dan tidak perlu dipertanyakan lagi, karena saya sangat percaya pada FIFA yang independen yang melayani permainan kita dengan komitmen, transparansi, dan integritas,” ujar Wenger.
Selain Wenger, Kepala Operasional FIFA Kevin Lamour dikabarkan turut menyampaikan keberatan terhadap proposal tersebut.
Ia bahkan disebut menilai gagasan itu merupakan inisiatif satu orang sehingga membuat banyak staf FIFA merasa tidak mendapatkan informasi secara terbuka.
Sebelumnya, penasihat senior Gianni Infantino, Carlos Cordeiro, juga memilih mengundurkan diri dari posisinya.
Keputusan tersebut diambil karena ia menilai rencana penjualan saham kompetisi FIFA bukan merupakan langkah yang menguntungkan bagi masa depan sepak bola dunia.
Meski menghadapi gelombang kritik dan kehilangan dukungan dari sejumlah federasi, Gianni Infantino masih memperoleh dukungan dari beberapa asosiasi anggota, termasuk PSSI.
Namun, dinamika politik di tubuh FIFA diperkirakan masih akan berkembang menjelang proses pencalonan Presiden FIFA periode 2027–2031.
Apabila semakin banyak federasi mengikuti langkah Wales, Inggris, Serbia, Swedia, dan Georgia, posisi Gianni Infantino berpotensi semakin tertekan dalam perebutan kursi Presiden FIFA.
Situasi tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi konstelasi politik sepak bola internasional dalam beberapa bulan mendatang, terutama menjelang dimulainya tahapan pemilihan kepemimpinan baru di organisasi sepak bola terbesar di dunia itu. (*/stch/dda)
















