BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Tahun ajaran baru biasanya membawa berkah bagi para pedagang buku tulis musiman di Pasar Wage. Namun, situasi saat ini berbeda. Sepinya pembeli menyebabkan omzet para pedagang anjlok tajam, bahkan hingga setengah dari biasanya.
Siti Maarifah (45), seorang pedagang musiman yang telah lebih dari 20 tahun berjualan di pintu barat Pasar Wage, kini merasa hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan. Penjualannya mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu ramai banget, biasanya sekeluarga datang mencari buku ke sini. Sekarang jarang,” ungkapnya pada Jumat (11/7).
Masa-masa ketika Siti dapat menjajakan dagangannya dengan meja besar penuh puluhan karton buku tulis kini tinggal kenangan.
Saat ini, lapaknya hanya terdiri dari keranjang bekas buah yang sederhana. Di atas keranjang itu, tertata rapi berbagai jenis buku tulis dengan beragam ukuran dan merek.
“Sekarang paling enam sampai tujuh karton, kalau kurang ya baru order. Dulu bisa puluhan karton,” tambahnya.
Harga yang ditawarkan Siti berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp45 ribu per pak, bergantung pada ukuran dan kualitas buku tulis tersebut.
Meski harga relatif stabil, penghasilan hariannya telah merosot drastis dari jutaan rupiah menjadi sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu saja. Itu pun sudah dianggap cukup baik olehnya.
“Dulu bisa berjuta-juta, sekarang Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per hari saja sudah alhamdulillah,” keluhnya dengan nada datar penuh kekecewaan.
Penurunan penjualan ini mulai terasa sejak pandemi COVID-19 melanda. Menurut Siti, aktivitas di Pasar Wage belum sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Jumlah pembeli terus menurun seiring semakin populernya belanja online dan toko modern sebagai alternatif belanja masyarakat.
Meski demikian, Siti tetap berusaha bertahan dalam kondisi yang sulit ini. Selain menjual buku tulis, ia juga menyediakan alat tulis dan perlengkapan sekolah lainnya untuk menarik lebih banyak pelanggan. Namun sayangnya, suasana pasar tidak seramai dulu.
Masih ada beberapa pembeli setia yang lebih memilih datang langsung ke pasar. Salah satunya adalah Samiarto (69), penduduk Baturraden yang rutin membeli perlengkapan sekolah cucunya di Pasar Wage.
“Kalau di pasar begini bisa ditawar, lebih hemat,” katanya sambil tersenyum kecil menunjukkan kepuasannya berbelanja di pasar tradisional.
Bagi pedagang musiman seperti Siti, tahun ajaran baru dahulu merupakan momen emas untuk meraup keuntungan besar.
Kini tantangan semakin berat dengan adanya persaingan harga ketat dan perubahan pola belanja masyarakat yang cenderung ke arah digital serta menurunnya daya beli masyarakat secara umum.
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Banyak orang tua kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka sehingga berdampak langsung terhadap omzet pedagang tradisional seperti Siti.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut dengan tegar dan gigih mencari cara agar bisnis tetap berjalan meski tidak semaksimal sebelumnya adalah pilihan satu-satunya bagi sebagian besar pedagang di sana termasuk dirinya sendiri. (dms/stch)
















